A1--300715-BogorTodayDI TENGAH-tengah anjloknya harga minyak dunia hingga di bawah USD 50 perbarel, pemeritah Indonesia justru berancang-ancang untuk menaikkan harga jual BBM jenis Premium.

YUSKA APITYA AJI
[email protected]

Direktorat Jenderal (Ditjen) Kemen­terian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memperkirakan kenaikan harga bahan bakar minyak bisa terjadi pada Agus­tus, September, atau Oktober mendatang.

Prediksi kenaikan disampaikan Direk­tur Jenderal Migas IGN Wiratmadja me­lalui laman resmi Ditjen Migas. Menurut Wirat, jika naik pada Agustus, harga Premium diperkirakan mencapai Rp 8.000-8.200 perliter. Sedangkan har­ga solar belum naik, karena gejolak di pasar dunia tidak signifikan.

 Perhitungan harga Premium Rp 8.600 perliter berasal dari perhi­tungan Direktorat terhadap harga minyak dunia selama enam bulan terakhir. Perhitungan juga ber­dasarkan asumsi kurs Rp 12.989 per dolar AS.

Menurut mantan Staf Ahli Men­teri ESDM tersebut, opsi penye­suaian harga menjadi per enam bulan adalah pilihan yang stabil. “Kondisi ekonomi masyarakat be­lum siap terhadap sistem harga yang berubah-ubah setiap bulan,” ucap Wirat.

Wirat menolak jika penetapan harga tidak sesuai dengan kondisi harga minyak dunia yang menu­run. Perhitungan bulan Agustus bukan dilandasi patokan harga se­jak Juli, melainkan sejak Februari. “Artinya kalau harga minyak hari ini turun atau naik, itu tidak pent­ing. Yang penting adalah rata-rat­anya berapa,” kata Wirat.

Rencana kenaikan ini menjadi berlawanan dengan pernyataan Menteri ESDM Sudirman Said yang menyebut bahwa harga BBM ber­subsidi dalam waktu dekat belum ada fluktuasi. Selain itu, menurut Sudirman, ada selisih untung dari penurunan harga minyak dunia sejak awal Juli lalu yang dapat di­gunakan untuk mengkompensasi kerugian Pertamina.

Namun saat dikonfirmasi soal ini, Menteri ESDM Sudirman Said masih enggan berkomentar. “Nanti saja kita bahas,” ujarnya selepas halalbihalal dengan SKK Migas dan perusahaan kontraktor migas, kemarin.

Baca Juga :  Plt. Bupati Bogor Optimis Para Atlet Peparda Kabupaten Bogor Mampu Pertahankan Juara Umum

Harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia ditetapkan oleh pemerintah, yang mensubsidi dan mengatur penjualan bahan bakar bensin, solar (diesel), dan min­yak tanah secara eceran melalui Pertamina. Bahan bakar minyak sebagai komoditas penting yang di­gunakan hampir setiap orang, har­ganya dapat memengaruhi kinerja ekonomi Indonesia.

Oleh karena itu penetapan harga bahan bakar minyak sangat penting. Harga bahan bakar min­yak juga menjadi penentu bagi “besar kecilnya” defisit anggaran. Tetapi harga bahan bakar minyak pada sisi yang lain dapat membe­bani rakyat miskin, apabila peneta­pannya tergolong tinggi.

Tak jarang penetapan harga ba­han bakar minyak selalu diikuti ke­naikan harga-harga bahan lainnya, walaupun tidak ada “komando” bagi kenaikannya sebagaimana ke­naikan harga bahan bakar minyak.

Pemerintah resmi menu­runkan harga BBM Premium dari Rp8.500 perliter menjadi Rp7.600 perliter per 1 Januari 2015. BBM RON 88 tersebut juga sudah ti­dak lagi disubsidi Pemerintah per 1 Januari 2015. “Premium Rp7.600 perliter itu berdasarkan harga minyak Indonesia (ICP) yang sebesar USD60 barel den­gan kurs Rp12.300 per USD,” kata Sudirman Said.

Seperti diketahui, selain meng­hapus subsidi untuk BBM Premi­um, pemerintah juga telah mem­berikan subsidi sebesar Rp1.000 untuk solar.

Sementara itu, data yang di­himpun BOGOR TODAY, harga min­yak di perdagangan Dunia, pada Rabu(29/7/2015) turun signifikan. Ini terjadi karena adanya kekha­watiran kelebihan pasokan minyak dunia dan stok minyak Amerika Serikat (AS), serta pelemahan dolar AS terhadap mata uang lain seperti euro.

Baca Juga :  Resep Masakan Bolu Koja Kenari

Investor Asia memperkirakan produksi minyak negara-negara OPEC mencapai sekitar 3 juta barel per hari. Angka ini lebih tinggi dari permintaan harian di kuartal-II 2015. “Kata kuncinya, kelebihan pasokan” kata Kepala Analis Pasar di MCM Markets di Sydney, Ric Spooner, seperti dilansir CNBC, Rabu (29/7/2015).

Berdasarkan data Reuters yang dikutip CNBC, OPEC memproduksi minyak sebanyak 31.250.000 barel per hari pada kuartal II-2015, pada­hal permintaan minyak dunia han­ya 28.260.000 barel per hari.

Apalagi, harga minyak Brent berdasarkan kontrak pembelian untuk pengiriman September tu­run USD 14 sen menjadi USD 53,16 per barel. Sebelumnya harga min­yak Brent juga anjlok USD 17 sen pada sesi sebelumnya USD 52,28 per barel atau terendah sejak 2 Februari, saat itu harga minyak jatuh akibat kekhawatiran jatuhnya pasar saham China.

Sedangkan harga minyak men­tah AS untuk pengiriman Septem­ber turun USD 12 sen menjadi USD 47,86 per barel, setelah mengakhiri sesi sebelumnya naik 59 sen.

Investor juga menunggu hasil dari pertemuan Federal Reserve AS pada Rabu yang berencana me­naikkan suku bunga AS pada awal September. Hal ini akan membuat dolar AS makin menguat. Hal ini akan membuat harga minyak bakal lebih mahal bila menggunakan mata uang selain dolar AS.

Ric Spooner mengharapkan, The Fed segera merealisasikan ren­cana menaikkan suku bunga tahun ini. “Tapi tingkat kenaikan akan sangat sederhana,” katanya.

Seperti diketahui, dolar AS tergelincir terhadap enam mata uang utama di perdagangan Asia pada Rabu, sementara euro men­guat terhadap dolar. Indeks dolar turun menjadi 96,505, atau 0,27%, setelah penutupan di 96,745 pada sesi sebelumnya. (*)