KEKERINGANKEKERINGAN di musim kemarau semakin meluas. Hingga akhir Juli 2015, sebanyak 12 Provinsi di seluruh Indonesia mengalami krisis air. Kekeringan tersebar di 526 Kecamatan dalam 77 Kabupaten dan Kota.

YUSKA APITYA
[email protected]

Ada 12 Provinsi yang men­galami kekeringan, yaitu Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Banten, Pap­ua, Nusa Tenggara Barat (NTB), NTT, Sumatra Selatan (Sumsel), Daerah Yogyakarta, Sulawesi Selatan (Sulsel), Lampung, hingga Bali,” ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Hu­mas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nu­groho, kemarin.

Ia mengatakan, fenomena El Nino membuat wilayah seperti Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara Timur (NTT) se­makin defisit air. Bahkan, berdasarkan data BMKG, selama 60 hari terakhir hujan tidak turun di wilayah tersebut. “Sebanyak 77 kabupaten/kota itu tidak turun hu­jan,” katan­ya.

Baca Juga :  Hendak Berangkat Bekerja, PNS Lapas Lamongan Tewas Terlindas Truk Ayam di Mojokerto

Diperkira­kan, defisit air akan semakin bertambah ka­rena bertambahnya jum­lah penduduk, degradasi ling­kungan, hingga perubahan iklim. Otomatis, kata dia, penduduk mem­butuhkan air lebih banyak. Sehingga, BNPB melakukan dua cara untuk men­gatasi kekeringan hingga datangnya musim penghujan. “Jangka pendeknya kami menyalurkan distribusi air den­gan tanki air, perbaikan sumur bor, pompanisasi, pembangunan badan air hujan. Selain itu, pembuatan embung, daerah aliran sungai (DAS), hingga hu­jan buatan kalau perlu,” ka­tanya.

Baca Juga :  SD di Aceh Singkil Terendam Banjir Rendam Sejak 2 Hari Lalu

Sementara, upaya jangka panjang adalah membuat waduk untuk menam­pung air hujan sebanyak-banyaknya, dan rehabilitasi hutan yang ada. Untuk merealisasikannya, butuh waktu seki­tar 30 ta­hun.

Pihaknya mengaku sudah meny­iapkan Rp 75 miliar yang berasal dari dana siap pakai yang akan diberikan ke Badan Nasional Penanggulangan Daerah (BPBD) sesuai permintaan. Pa­dahal, dia melanjutkan, anggaran yang disiapkan untuk kasus ini pada tahun lalu hanya sebesar Rp 50 miliar. (net)