Untitled-13Pendiri perusahaan Mitsubishi rupanya hanyalah seorang anak petani miskin yang pernah dipenjara selama tujuh bulan karena membela ayahnya yang sedang bertikai dengan kepala desa setempat. Ya, dialah Yataro Iwasaki, seorang anak dari daerah pedalaman Jepang yang sukses tidak hanya dalam mengubah takdirnya namun juga memajukan negeranya di mata dunia. Seperti apakah kisah perjalanan Yataro Iwasaki dalam menjalankan bisnis Mitsubishi ini? Berikut kisahnya…

Oleh : Apriyadi Hidayat
[email protected]

Sebagai anak desa pedalaman, Iwasaki muda sangat berambisi untuk bisa mengubah nasibnya. Pada usia ke-19, ia pun pergi merantau ke kota Edo (Tokyo). Di sana, Iwasaki bekerja pada klan Tosa, salah satu klan yang merangsang anak-anak muda agar gemar berbisnis. Di sinilah Pria kelahiran 9 Januari 1835 ini mendapatkan pengalaman pertama di dunia bisnis.

Namun sayang, pengalamannya di Edo harus terhenti saat ia harus berhadapan den­gan hukum karena bertikai dengan kepala desa untuk membela ayahnya di desa. Setelah bebas dari hukuman bui selama 7 bulan ku­rungan, Iwasaki pun kembali ke Edo dan kali ini ia bergabung dengan gerakan reformasi di bawah kepemimpinan Yoshida Toyo yang merupakan gerakan politik untuk menyu­arakan pembangunan ekonomi bangsa yang berlandaskan pada industri dan perdagangan luar negeri.

Baca Juga :  Satgas Covid-19 Kota Bogor Putuskan Tak Berlakukan Ganjil Genap Saat Libur Nataru

Dari aktivitasnya di pergerakan rakyat tersebut, Iwasaki kemudian diangkat men­jadi kepala teratas di marga Tosa di kota Na­gasaki. Di sana ia bertanggung jawab menan­gani perdagangan minyak kamper dan kertas untuk ditukarkan dengan senjata, kapal dan amunisi.

Saat terjadi restorasi Meiji tahun 1868 yang melarang segala bentuk kegiatan bisnis yang dilakukan oleh klan, Iwasaki kemudian melanglang buana dalam perdagangan men­gambil alih kantor usaha klan Tosa yang telah diprivatisasi di Osaka di mana sebelumnya dirinya pernah bekerja.

Pata tahun 1870, dua tahun pasca Restora­si Meiji, Iwasaki yang mendirikan Tsukumo Shokai, sebuah perusahaan perkapalan yang merupakan cikal bakal perusahaan Mitsubi­shi. Pada bulan Maret 1873, Tsukumo Shokai pun diganti dengan nama Mitsubishi yang berasal dari dua kata yaitu Mitsu yang artinya tiga dan Hishi diartikan sebagai berlian. Mit­subishi yang berarti ‘Tiga Berlian’ ini kemu­dian menjadi simbol resmi Mitsubishi Motors hingga sekarang.

Saat menjalankan perusahaan Mitsi­bishi, Iwasaki sangat dekat dengan orang-orang pemerintahan. Kedekatannya dengan orang-orang pemerintahan ini bukan tanpa maksud. Ia memiliki strategi khusus untuk bisa mengembangkan bisnisnya dengan para pejabat pemerintah tersebut.

Hasilnya, Yataro Iwasaki kemudian sering mendapat subsidi rutin dan juga banyak di­percaya pemerintah untuk mengerjakan proyek-proyek besar. Dengan adanya hal ini tentu saja, bisnis Iwasaki terus berkembang. Ia kemudian menambah jenis usahanya ke bidang finansial, pertambangan dan lain seb­againya.

Baca Juga :  6 Tips Aman Berkenalan Via Media Sosial

Pada tahun 1880 Mitsubishi mendapat dampak buruk dari terjadinya pergolakan politik di mana kekuasaan pemerintah yang mendukung Mitsubishi mulai melemah. Apa­lagi kemudian ada perusahaan sejenis yang menjadi saingan berat Mitsubishi. Untuk menghadapi cobaan ini, Iwasaki terus berger­ak untuk melebarkan bisnisnya. Kali ini bi­dang pelayaran dan logistik seperti perbank­an, asuransi laut, media masa serta otomotif menjadi sasarannya.

Saat perusahaan pelayarannya yang sem­pat merger dengan perusahaan lain dalam wujud Nippon YUSEN (NYK Line) kembali beralih ke tangan Yataro Iwasaki, Mitsubishi kembali menjadi menjadi perusahaan besar di Jepang. Yataro Iwasaki pun kemudian men­jadi konglomerat yang memiliki kekayaan yang mencapai angka satu juta yen saat itu.

Dengan kekayaannya tersebut, Iwasaki menjadi salah satu orang terkaya di jagat bisnis Jepang. Iwasaki memang selalu ya­kin bahwa dirinya bisa mengelola berbagai jenis bisnis dengan latar belakang berbeda. Iwasaki sendiri berprinsip tak ada yang tak mungkin selama mau belajar dan terus be­lajar. (MAX)