Foto-HL-PengamenKULANGKAHKAN kakiku yang rapuh// Tinggalkan panas kota asalku// dari tenda ke tenda, warung yang terbuka// Lantang nyanyikan lagu oh memang kerjaku// Tak… pasti jalur jalan hidupku…. Tunggu putaran roda nasib// Ku…coba paksakan untuk melangkah.

Oleh: RIFKY SETIADI
[email protected]

Lirik lagu Iwan Fals berjudul “Kupaksa Untuk Melangkah” itu menggam­barkan kondisi sosial yang berada di tengah kita. Lagu tentang perjalanan seorang penyanyi jalanan yang mengharap­kan terjadinya sebuah perubahan nasib.

Fenomena penyanyi jalanan adalah fenomena sosial yang umumnya terjadi di perkotaan. Kehidupan perkotaan yang se­makin individualistis mengakibatkan ban­yak manusia yang terpinggirkan dan tidak mendapat perhatian diantara sejumlah ma­salah kota dan kehidupan sosial. Indikasinya adalah semakin banyaknya anak-anak terlan­tar yang tidak terurus, pemberdayaan anak-anak yang tidak pada tempatnya seperti di­pekerjakan dengan waktu kerja yang sangat keterlaluan dan gaji yang tidak masuk akal. Karenanya, persoalan ini juga berdampingan dengan istilah anak jalanan. Hidup mereka dihabiskan di jalanan. Memanfaatkan segala yang ada. Menyambung hidup juga dengan cara seadanya, dan menjadi penyanyi jala­nan adalah salah satunya.

Di beberapa kota besar penyanyi jalanan bukanlah hal yang aneh, termasuk di Bogor. Di setiap perempatan kita akan menemu­kan pengamen, mereka membawakan lagu-lagu yang sedang popular atau mereka yang mempopulerkan lagu-lagu sebagian artis atau band musik di tanah air. Sehingga men­jadi akrab di telinga kita.

Bahkan beberapa lagu dari musisi men­jadi terkenal ketika lagu tersebut banyak dinyanyikan oleh penyanyi jalanan. Setuju atau tidak, peran penyanyi jalanan menjadi cukup besar dalam memasarkan atau mem­perkenalkan lagu-lagu baru dari musisi ter­nama kepada masyarakat.

Hal unik lain pun terjadi, ketika pe­nyanyi jalanan memiliki daya kreativitas lebih tinggi, lagu yang dimiliki oleh musisi tertentu kemudian dikemas ulang dan jadi­lah lagu baru yang lebih asik. Penyanyi jala­nan jenis ini biasanya bergerombol. Lengkap dengan berbagai alat musik yang unik dan menarik. Sayangnya, masyarakat kita masih banyak yang menganggap bahwa penyanyi jalanan adalah sampah masyarakat. Mereka orang-orang yang menggangu kenyamanan. Paradigma seperti itu menajdi mengakar, akibatnya, penyanyi jalanan pun seringkali dipandang sebelah mata. Tanpa melihat atau mendengarkan lebih dulu lagu yang dib­awakan, mereka sudah disepelekan.

Pertumbuhan dan pembangunan Kota Bogor yang juga pesat telah membawa manu­sianya menjauh dan terdegradasi ke pojok-pojok kota. Banyak yang mencari berbagaikenyamanan dengan caranya sendiri, mem­bentuk kelompok sosial dan menciptakan keluarga bayangan. Termasuk juga para pemusikjalanan yang terdegrasi dari ruang-ruang kesempatan, ruang ekspresi, ruang imajinasi, ruang berkarya dan ruang peng­hargaan. Tak pelak lagi, para pemusik jala­nan ini menjelma jadi jatidiri yang tercecer, yang tak perlu lagi bertanya karena siapa dan salah siapa. “Kita seharusnya berusaha menjemput mereka yang tercecer, memberi ruang kepada mereka untuk berimajinasi, berekspresi, mengembangkan bakat, secara adil. Jangan justru menggiring rakyat ters­ingkir ke gorong-gorong. Pembangunan itu seharusnya memanusiakan manusia,” tegas Lutfi Awalludin, salah seorang penggiat seni dari Dapur Kreatif Dipokersen.

Baca Juga :  3 Hobi yang Bisa Mendatangkan Cuan, di Cek Yuk

Memang, tidak adil sebenarnya. Para penyanyijalanan juga layak untuk mendapatkanapresiasi dari masyarakat. Dengan begitu, mereka juga akan merasa menjadi orang yang berguna. Ketika kita menghargai seseorang, maka sudah pasti orang tersebut akan menghormati kita. Jan­gan salahkan perilaku penyanyi jalanan yang brutal, tapi berkacalah dulu pada tingkah kita. Mereka melakukan itu, karena mung­kin awalnya kita yang tidak respek atau me­nyepelekan mereka. Penyanyi jalanan juga adalah mereka yang memiliki nilai rasa ter­hadap seni yang tinggi. Mereka kreatif tanpa orientasi yang muluk. Mereka berjalan tanpa ada embel-embel tanggung jawab sebagai artis bayaran mahal. “Kita harus berusaha menciptakan ruang ekspresi dan berinter­aksi langsung melalui bina bakat yang harus dilakukan secara serius oleh pemerintah,” tambah Lutfi.

Sebab itulah, komunitas Dipokersen dalam wadah Serikat Seniman Gelanggang Remaja Bogor (SSGRB) merumuskan ruang ekspresi itu melalui kegiatan “Festival Pe­musik Jalanan” yang akan berlangsung pada Sabtu (22/08/ 2015) di Gedung Kesenian Ka­muning Gading, Bogor. “Kita semua harus berperan, karena mereka adalah kita, kita adalah mereka, mereka pemusik jalanan yang terdegradasi ruang-ruang kesempatan, ruang ekspresi, ruang imajinasi, ruang berkarya dan ruang penghargaan. Mereka adalah mu­sisi, mereka jatidiri yang tercecer, yang tak perlu lagi bertanya karena siapa dan salah sia­pa,” tegas Lutfi yang bertindak sebagai Ketua Pelaksana dalam kegiatan tersebut.

Festival ini menjadi irama harapan bagi para pemusik jalanan. Bukan isapan jempol, berbagai bentuk kreativitas yang mungkin hadir dari para pemusik jalanan ini tak jarang menjadi jalan terang bagi mereka. Tak jarang pula dari mereka serius membawakan musiknya, tak hanya tepuk tangan, gitar atau kecrek sederhana dari tu­tup botol, tapi juga dengan aransemen jimbe, biola, drum sederhana hingga bass kontra”Festival ini sebenarnya se­bagai upaya kita untuk membuka ruang kepada mereka sebagai pemusik jala­nan, untuk membuka ruang produksi, dan mendorong semua komponen mu­lai dari aparatur negara, politisi dan pengusaha dan pihak lain agar ikut ser­ta memperhatikan dan bertanggung­jawab membuka ruang untuk menyal­urkan bakat, sehingga mereka tidak lagi tercecer di jalanan,” ungkapnya.

Jatidiri yang tercecer. Istilah ini yang menggambarkan sempitnya ruang pen­gakuan masyarakat terhadap kelompok sosial ini. Mereka membentuk komuni­tas sebagai keluarga bayangan tempat mereka berbagi dan berusaha bertahan hidup sebagai manusia. Komunitas Pengamen Jalanan (KPJ) yang dipelo­pori Anton Baret adalah adalah satu ko­munitas yang tak hanya bisa “ngamen”. Beberapa aksi sosial pernah mereka lakukan. Kegiatan ini dilakukan pula oleh kelompok pengamen jalanan yang lain untuk membangun citra positif di masyarakat. KPJ sendiri dibentuk atas dorongan bagaimana para pengamen atau penyanyi jalanan bersatu. Selain untuk menghindari tindak kekerasan dari para preman KPJ dibentuk agar visi dan misi kreativitas tetap terbina.

Baca Juga :  Nahas, Siswa SMP di Deli Serdang Tewas Tenggelam Usai Terseret Arus hingga 2 Km dari TKP

Di Bandung, Alm. Harry Roesli menghimpun para pengamen jalanan, untuk berkreativitas agar potensi-po­tensi yang mereka miliki bisa dikem­bangkan. Dengan harapan agar pan­dangan negatif tentang keberadaan pengamen jalanan bisa lama-lama luntur dan diterima posisinya di masyarakat. Agar penyanyi jalanan tidak melulu direndah­kan. Di Bandung ada pula komunitas Penga­men “Asal Sada” yang yang terletak di jalan Pangampaan tak jauh dari Jl. Pungkur, berdi­ri sejak 2005. Dalam kegiatannya kelompok Asal Sada tak hanya mengamen saja, namun ada kegiatan-kegiatan keterampilan seperti menggambar, membuat alat musik karinding dan kerajinan lainnya.

Hal ini dilakukan agar pengamen yang tergabung di komunitas tersebut akhirnya mendapatkan keahlian yang lain selain ber­musik, yang di kemudian hari bisa menjadi bekal mereka. Kelompok pengamen atau pe­nyanyi jalanan yang satu ini juga membuk­tikan bahwa mereka orang dengan penuh kreasi, hanya saja wadahnya berbeda, di jalanan.

Musisi Indonesia dengan beragam jenis dan aliran musik juga menyimpan banyak tokoh bertalenta musik yang menakjubkan yang tidak didapatkannya dari sekolah musik ataupun pendidikan, melainkan berasal dari jalanan. Sebut saja Iwan Fals alias Virgiawan Listanto, Mbah Surip, kelompok musik Slank, Gombloh alias Soedjarwoto Soemarsono, Leo Kristi hingga Klanting dan Tegar, seorang pengamen jalanan yang sukses jadi artis cilik lewat lagu-lagu yang din­yanyikannya saat jadi pengamen jala­nan, dengan lagu berliriknya lucu “Aku yang Dulu” dan “Temanku Ini Sedang Jatuh Cinta”. Sebut juga Januarisman Runtuwene atau yang lebih dikenal dengan Aris Idol adalah seorang penyanyi yang juga per­nah menjalani profesi sebagai penga­men jalanan. Atau bahkan Charly Van Houten, dibalik kesuksesan yang dirai­hnya saat ini, tersimpan cerita tentang perjalanan kariernya menjadi penga­men di perempatan jalan Dago, Bandung.

Kreativitas, ruang dan kesempatan men­jadi modal bagi kesuksesan dan perubahan. Begitu juga semangat dan keberanian un­tuk tampil. Kemenangan ruang dan kesem­patan adalah kemenangan bagi penyanyi jalanan. Dengan memanfaatkan kesem­patan dalam Festival Pengamen Jalanan sebagai ruang ekspresi, diharapkan dapat membuka dan membawa pe­rubahan pandangan mengenai pen­gamen jalanan. Baik perubahan pandangan masyarakat maupun pengamen-pengamen jalanan itu sendiri. Dan menjadi jalan, bah­wa ada peluang bagi para pengamen untuk menempati posisi di kancah dunia industri hiburan dan pangungkes­enian yang layak.