Galeri-Foto-UNIDA-PDAM-(11)LEDAKAN penduduk di Indonesia terjadi karena tingkat kesehatan yang meningkat, kematian yang menurun dan kelahiran meningkat. Bonus demografi ini adalah peluang emas untuk memaksimalkan peran serta generasi muda dalam pembangunan.

Oleh: RIFKY SETIADI
[email protected]

Kondisi kualitas pendidikan di Indonesia dinilai masih meng­khawatirkan. Di tahun 2013, 55 juta dari 118 juta angkatankerja berasal dari lulusan SD, dan hanya 8 juta orang yang berasal dari universitas. Kualitas penduduk sangatlah pentinguntuk ditingkat­kan, secara persentasi, tingkat pen­didikan penduduk Indonesia dari pendidikan tinggi hanya 7%, dari pendidikan menengah 22-40%, dan dari pendidikandasar 78%. Banding­kan dengan Malaysia yang pendidikan tingginya mencapai 20%, pendidi­kan menengah 56%, dan dasar 24%. Kondisi itu diungkapkan oleh Prof dr. Fasli Jalal, Ph.D., mantan Kepala BKKBN sekaligus dewan penyantun Universi­tas Djuanda (UNIDA) sebagai pembicara dalam Studium Generale “Peranan Perguruan Tinggi dalam Mempersiapkan Generasi Muda untuk Me­nyongsong Bonus Demografi” di Gedung Rektorat UNIDA Bogor, Selasa (04/08/2015), lalu.

Dalam kesempatan ini, Fasli berharap Pergu­ruan Tinggi Swasta, terutama Unida, dapat terus berkiprah meningkatkan kualitas pendidikan bangsa Indonesia. Universitas Djuanda harus me­ningkatkan kerjasama agar jumlah beasiswa yang diperoleh bagi mahasiswa dan calon mahasiswa semakin bertambah, terutama bagi mahasiswa yang kurang mampu. Acara dihadiri oleh jajaran pimpinan di UNIDA, mulai dari Rektor, Wakil Rektor, Dekan, Wakil Dekan, para Direktur dan Kepala Biro. Fasli menuturkan, dalam sebuah negara, idealnya angka kelahiran sama dengan angka kematian (mortalitas), namun di Indonesia, rata-rata jumlah anak tahun 2010-2012 adalah 2,6 anak, sehingga jumlah pen­duduk akan selalu meningkat, Rasio angka ketergan­tungan setiap 100 orang angkatan kerja pada tahun 2010 adalah 51, dan pada tahun 2028-2031 menjadi 47, diprediksi tahun 2045 akan meningkat menjadi lebih dari 50. Karenanya, di tahun 2028 akan ada 47 orang anak dan lansia bergantung pada setiap 100 angkatan kerja, dan karena angka ketergantungan ini relatif lebih rendah maka inilah yang menjadi bonus demografi.

BACA JUGA :  Siapkan Indonesia Emas, Ini Pesan Sekda untuk Ratusan Wisuda UIKA ke-78

Propinsi dengan angka kelahiran cukup banyak namun generasi mudanya banyak yang merantau, seperti sumatera barat dan NTT, tidak akan menikmati bonus demografi jika tidak dapat menciptakan indus­tri yang menarik bagi generasi muda. Di satu sisi, bonus demografi menjadi peluang emas untuk dapat memak­simalkan peran serta generasi muda dalam pembangu­nan. Karena itu, kualitas generasi muda Indonesia harus disiapkan. “Bukan tidak mungkin, di masa mendatang generasi muda Indonesia akan dibutuhkan di negara-negara maju yang memiliki tingkat perkembangan penduduk negatif, seperti Jerman dan Jepang. Hanya dengan meningkatkan kualitas pendidikan lah, maka pertumbuhan penduduk di suatu negara dapat menjadi peluang, bukan bencana,” papar Fasli.

Terkait kualitas pendidikan di Indonesia, Fasli menyinggung bahwa dalam sistem penidikan anak yang dimulai sejak PAUD, kebutuhan anak sebena­rnya bukan sekedar ijasah dan hafalan, melainkan bagaimana cara untuk dapat membangun siswa yang berkarakter, berpikir kritis, kreatif dan inova­tif, proaktif, meningkatkan rasa keingintahuan, dan kecintaan membaca. “Kualitas pendidikan di Indo­nesia harus diarahkan untuk membangun karak­ter, senang berinteraksi, mempersiapkan kompe­tensi dan guru harus paham tingkat perkembangan anak,” ungkapnya.

Himmatul Miftah, Wakil Rektor III, menam­bahkan pun metode yang positif ini dapat diter­apkan di Perguruan Tinggi, sehingga mahasiswa dapat mengembangkan karakter yang baik dan berkualitas melalui cara komunikasi yang baik, pemahaman akan kondi­si dimana mereka akan bekerja, kemampuan untuk berpikir proaktif, memiliki kemampuan problem solving dan deci­sion making. “Selain me­nyerap ilmu pengetahuan dan teknologi di bangku kuliah, mahasiswa harus memberdayakan diri di masyarakat dan di organ­isasi yang mereka ikuti agar mendapatkan pem­belajaran yang holistic dalam self awareness dan environmental aware­ness,” ujarnya.

BACA JUGA :  MAN 2 Bogor Tingkatkan Pengetahuan Guru dengan In House Training

Pemberdayaan ma­syarakat tidak hanyaberlaku dalam ranah angkatan kerja saja, Fasli menyatakan kepeduliannya terhadap Lansia yang telah berusia di atas 65 tahun. Lansia, menu­rut Fasli, dapat berproduksi dengan baik jika mereka dapat menjaga kesehatan dan produktivitasnya. Jumlah lansia di tahun 2015 diperkirakan berada di angka23 juta orang dan diperkirakan menca­pai 80 juta di tahun 2050. Universitas Djuanda diharapkan dapat cerdas menang­kap peluangini, yaitu dengan membangunpusat studi bagi lansia baik dari segi agama, sosial, tata kota, hukum dan hal lain yang akan menjadi kebutuhan mereka. “Ang­katan kerja yang tidak bekerja, seperti ibu rumah tangga, sebenarnya banyak yang me­miliki latar belakang pendidikan yang tinggi. Walaupun secara sadar memilih untuk tinggal di rumah, mereka diharapkan untuk selalu produktif dengan bekerja di rumah misalnya secara online,” paparnya. Direktur LPPM, Gi­nung Pratidina, menyatakan saran Fasli terkait Pusat Studi dan penelitian mengenai Lansia sangat menarik dan dapat menjadi konsern ke depannya karena dapat memaksimalkan sera­pan kucuran dana penelitian senilai 2 Milyar dari DIKTI.

======================================
======================================
======================================