Berita-2-(2)JAKARTA, Today – Me­masuki semester II-2015, bankir masih was-was. Se­lain permintaan kredit yang seret, bank kini berpotensi menghadapi kembali peng­etatan likuiditas, sama seperti tahun lalu. Bankir khawatir, niat pemerin­tah menggenjot proyek in­frastruktur bakal menyerap habis stok likuiditas bank.

“Potensi pengeta­tan likuiditas bisa ter­jadi jika pemerintah me­maksakan kemampuan bank dalam menyalurkan kredit infrastruktur,” ujar Jahja Setiaatmadja, Presiden Direktur Bank Central Asia (BCA).

Faktor lain yang berpo­tensi mengetatkan likuiditas adalah kenaikan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (AS). Agar terhindar dari paceklik likuiditas, BCA bakal giat memacu dana pihak ketiga (DPK), khususnya dana murah. Se­bagai gambaran, rasio pin­jaman terhadap DPK (LDR) BCA 75,7% per Juni 2015.

BACA JUGA :  Lokasi SIM Keliling Kota Bogor, Jumat 14 Juni 3024

Direktur Keuangan Bank Negara Indonesia (BNI), Rico Rizal Budidarmo men­gungkapkan, agar sang­gup membiayai proyek infrastruktur, pihaknya menggodok penerbitan su­rat berharga jangka pan­jang semisal negotiable certificate of deposit (NCD) sekitar Rp 3 triliun-Rp 5 triliun. BNI memproyek­sikan, dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 10%-12%. “Ini guna mendukung pembi­ayaan tersebut,” kata Rico.

Haru Koesmahargyo, Direktur Keuangan Bank Rakyat Indonesia (BRI), menimpali, pihaknya bakal mendanai kredit infrastruk­tur dengan cara mencairkan dana simpanan (secondary reserve) di Bank Indone­sia (BI). BRI juga bersiap mengerek bunga deposito demi memupuk likuidi­tas. “Kalau kira-kira kredit tumbuh, BRI masih bisa terbitkan NCD,” kata Haru.

BACA JUGA :  RSUD Leuwiliang Beri Pelayanan Gratis Dalam Perayaan HJB Ke-542 di Stadion Pakansari

Direktur Utama Bank Per­mata, Roy Arfandy optimis­tis likuiditas untuk proyek infrastruktur masih encer. Sebab, permintaan kredit di semester I masih sepi. Di bulan Juni 2015 lalu, po­sisi LDR bank sebesar 90%.

Senada, Direktur Utama Bank OCBC NISP Parwati Surjaudaja mengatakan, kondisi likuditas masih cukup kondusif. Sebab, peb­isnis masih cenderung ber­sikap wait and see dan me­milih opsi memarkir dana.

(Adil | net)

======================================
======================================
======================================