04_view-gambar-depanMeski bisa dibilang sebagai pemain baru di bisnis properti, pengembang PT Tritunggal Agung Propertindo (Tree Land) langusung bermanuver. Tak tanggung-tanggung, pihaknya telah menyiapkan dana sebesar Rp375 miliar untuk membangun kondominium hotel atau kondotel di kawasan Puncak, Cisarua, Kabupaten Bogor. Seperti apa?

Oleh : Apriyadi Hidayat
[email protected]

Managing Director Tritunggal Agung Propertindo, Andy S. Jap, mengatakan pihaknya akan membangun kondotel seluas 1,5 hektare dengan brand berna­ma Grand Dafam Cisarua (GDC). “Kami menginvestasikan dana Rp 375 miliar un­tuk membangun kondotel ini,” ujarnya, Rabu (12/8).

Kondotel ini memiliki kapasitas 234 unit dengan ketinggian 9 lantai dan 1 lantai semi basement. Rencananya, pe­rusahaan akan menjual sebanyak 200 unit. Sedangkan 34 unit akan menjadi mi­lik perusahaan.

 Adapun, kondotel ini ter­bagi dalam empat tipe yakni 150 unit tipe deluxe dengan ukuran 28 meter persegi (m2), kemudian 66 unit tipe execu­tive dengan ukuran 32 m2, 8 unit tipe executive balcony dengan ukuran 40 m2, dan 8 unit tipe junior suite seluas 42 m2. “Kami akan menjual mulai dari Rp 900 juta,” tam­bahnya.

Perusahaan sudah melaku­kan pemasaran kepada kon­sumen pada Januari 2015 lalu. Sedangkan rencana ground breaking akan dilakukan pada Januari 2016, dan selesai pada akhir 2017.

Saat ini, kondotel tersebut sudah terjual sekitar 10 persen. Dari penjualan kondotel terse­but, Tree Land membidik pen­dapatan Rp 400 miliar.

Setelah mendirikan kon­dotel, rencananya Tree Land bakal melanjutkan pemban­gunan ke proyek lainnya, yakni hotel, apartemen dan perkantoran. Saat ini, pers­eroan telah memiliki sejumlah land bank. Seperti di Jatinan­gor, Menteng, Cipanas, Bali dan Lampung. Masing-masing kota memiliki lahan kosong sebesar 1 ha.

Sementara itu, Presiden Di­rektur Tritunggal Agung Prop­ertindo, Maya Miranda Ambar­sari, menuturkan, pihaknya juga mengincar mengakuisisi lahan kosong untuk kebutuhan pembangunan properti. Karak­ter land bank yang diincar ada­lah lahan yang dekat dengan jalan raya dan tempat wisata, karena wilayah ini menjanjikan untuk bisnis properti.

Sebagai pemain baru, PT Tritunggal Agung Propertindo yakin akan memperoleh ruang di tengah-tengah banyaknya pemain lama di bisnis properti ini. Strategi perusahaan adalah mengincar kalangan menengah atas.

Informasi saja, Tritunggal Agung Propertindo ini berdiri sejak Januari 2015 dengan kepe­milikan saham 40 persen Maya Miranda Ambarsari, 40 persen Andreas Reza Nazaruddin, dan 20 persen Andy Surja Jap. Ketiga orang ini adalah pemain lama properti namun mereka hanya bermain perorangan tidak menggunakan perseroan terbatas. (*/net)