4702_sumber_newsterupdate_com_777x325Setelah tak jadi Presiden RI lagi, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tetap punya kesibukan. Purnawirawan TNI itu tak mati pikir. Den­gan segenap keluarganya, ia bersilaturahmi dan nyambangi secara langsung follower (pengikut) di akun twitternya @SBYudhoyono.

Oleh : (Yuska Apitya Aji)

 JUMAT (14/8/2015) malam, SBY menggelar silaturahmi dengan puluhan follower media sosialnya di Yogyakarta. Didampingi sang istri tercinta, Ani Yudhoyono, SBY bersantap malam di restoran milik Keraton Yogyakarta.

Rombongan SBY tiba di Restoran Bale Raos, Jalan Magan­gan Kulon, Yogyakarta, sekitar pukul 19.00 WIB. SBY mengenakan batik lengan pendek berwar­na cokelat, sedangkan Ibu Ani menggunakan bluse merah menyala. “As­salamualaikum, selamat malam,” ujar SBY men­yapa para wartawan. SBY sempat berhenti sejenak untuk melihat gapura Bale Raos yang terle­tak di bagian depan restoran ini. Ked­uanya langsung masuk ke ruang uta­ma restoran yang berada di dalam komplek keraton Yogyakarta ini.

Awak media tidak diperbole­hkan masuk ke dalam lokasi acara. Salah satu staf dari rombongan terse­but menjelaskan, tidak ada tokoh nasional lainnya yang hadir. “Hanya bapak, ibu dan 20 follower media so­sial. Silaturahmi saja,” katanya.

SBY memang dikenal aktif me­luangkan waktu bertukar pikiran di twitter. Tak sekali dua kali, jebo­lan taruna terbaik Akademi Militer (Akmil) Magelang itu juga menyu­arakan kritik terhadap kebiajakan-kebijakan Kabinet Kerja yang diga­wangi Joko Widodo (Jokowi). Yang terbaru, adalah terkait dimasuk­kannya pasal Penghinaan Presiden di Revisi Undang-Undang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Pendapat itu dicuitkan le­wat akun Twitternya, @SBYudhoy­ono, Minggu (9/8). “Menanggapi apa yang sedang diperdebatkan masyarakat, penghinaan terhadap Presiden, izinkan saya menyam­paikan pandangan saya,” cuit SBY.

Baca Juga :  Ingin Menambah Berat Badan Secara Sehat? Ini dia Makanan yang Perlu Diketahui

Prinsipnya, janganlah kita suka berkata dan bertindak melampui batas. Hak dan kebebasan ada batasnya. Kekuasaan pun juga ada batasnya. Di satu sisi, perkataan dan tindakan menghina, mence­markan nama baik dan apalagi memfitnah orang lain, termasuk kepada Presiden, itu tidak baik.

Di sisi lain, penggunaan kekua­saan (apalagi berlebihan) untuk perkarakan orang yang dinilai menghina, termasuk oleh Pres­iden, itu juga tidak baik. Penggu­naan hak dan kebebasan, termasuk menghina orang lain, ada pem­batasannya. Pahami Universal Dec­laration of Human Rights dan UUD 1945. “Dalam demokrasi memang kita bebas bicara dan lakukan kri­tik, termasuk kepada Presiden, tapi tak harus dengan menghina dan cemarkan nama baiknya.

Sebaliknya, siapa pun, terma­suk Presiden, punya hak untuk tuntut seseorang yang menghina dan cemarkan nama baiknya. Tapi, janganlah berlebihan. Pasal peng­hinaan, pencemaran nama baik dan tindakan tidak menyenang­kan tetap ada “karetnya”, artinya ada unsur subyektifitasnya. “Terus terang, selama 10 tahun jadi Pres­iden, ada ratusan perkataan dan tindakan yang menghina, tak me­nyenangkan dan cemarkan nama baik saya,” tuturnya.

Baca Juga :  Diduga Terobos Palang Perlintasan, Pemotor Tertabrak KRL

SBY kemudian memberikan contoh. Foto resmi Presiden diba­kar, diinjak-injak, mengarak ker­bau yang pantatnya ditulisi “SBY” dan kata-kata kasar penuh hinaan di media dan ruang publik

Kalau saya gunakan hak saya untuk adukan ke polisi (karena de­lik aduan), mungkin ratusan orang sudah diperiksa dan dijadikan ter­sangka. Barangkali saya juga just­ru tidak bisa bekerja, karena sibuk mengadu ke polisi. Konsentrasi saya akan terpecah.

Andai itu terjadi mungkin rakyat tak berani kritik, bicara keras.Takut dipidanakan, dijadikan tersangka. Saya jadi tidak tahu apa pendapat rakyat. Kalau pemimpin tak tahu per­asaan dan pendapat rakyat, apalagi media juga diam dan tak bersuara, saya malah takut jadi “bom waktu”.

Sekarang saya amati hal sep­erti itu hampir tak ada. Baik itu unjuk rasa disertai penghinaan kepada Presiden, maupun berita kasar di media. “Ini pertanda baik. Perlakuan “negatif” berlebihan kepada saya dulu tak perlu dilaku­kan kepada Pak Jokowi. Biar beliau bisa bekerja dgn baik,” tutur SBY.

Kita semua harus belajar gu­nakan kebebasan (freedom) se­cara tepat. Jangan lampaui batas. Ingat, kebebasanpun bisa disalah­gunakan. Ingat, liberty too can corrupt.