alfian mujani 240DAMAI itu bisa diwujudkan jika ada kesatuan jiwa. Presiden Joko Widodo, Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Menko Maritim Rizal Ramli akan terus menimbul­kan kegaduhan politik bukan ka­rena perbedaan pendapat, tetapi karena jiwa mereka tak bersatu. Jika jiwa ketiga orang ini tak bisa bersatu dalam meli­hat masa depan bangsa Indonesia, maka damai belum bisa dinyatakan terwujud.

Bagaimana cara menyatukan jiwa para pemimpin yang kerap bikin gaduh itu? Mah­foudh bin Bayyah, seorang cendekiawan dalam kajian fiqh, menasihati begini: ‘’Tanpa orang lain, Anda tidak akan bisa merasakan keutuhan kemanusiaan.’’ Para pemimpin sering tawuran mulut di muka publik karena satu sama lainnya merasa lebih hebat dan lebih penting. Mereka sering kali tidak ter­tarik untuk menjaga keberadaan orang lain. Mereka membunuh pluralitas.

Padahal, pluralitas sosial adalah suatu takdir indah yang penuh potensi jika dibaca sebagai satu kesatuan. Itu sebabnya, para pendiri bangsa ini dengan cerdas memilih tagline bangsa “Bhineka Tunggal Ika” yang makna harfiahnya sudah kita pahami ber­sama. (*)