Untitled-3Terinspirasi dari rumah pohon, The Skysphere akhirnya tercipta. Desainer dan teknisinya, Jono Williams, awalnya berencana membangun struktur pada sebuah pohon atau di antara beberapa pohon.

Oleh : Apriyadi Hidayat
[email protected]

Selama beberapa bulan Williams berupaya un­tuk mendesain struk­tur kokoh yang tidak mudah rusak terhempas angin besar seperti sebuah pohon. Kemudian, Williams mendapat ide untuk mem­buat struktur yang ditopang oleh kolom baja besar. Struk­tur ini bahkan bisa dibangun di mana saja, misalnya di antara pepohonan atau di bukit.

Struktur tersebut memiliki jendela dengan pemandan­gan 360 derajat. Selama ini, rumah pohon konvensional memiliki jendela yang sangat kecil. Williams berpikir apa gunanya membangun rumah pohon jika tidak bisa melihat-lihat lingkungan sekitarnya.

Dengan jendela setinggi 2 meter dan keliling 14 meter, penghuni The Skysphere tidak akan kekurangan pandangan. Saat membutuhkan privasi, penghuni bisa menurunkan tirai.

Selain itu, fitur menarik dari struktur ini adalah adan­ya teknologi yang terintegrasi. Menara ini akan sepenuhnya bertenaga surya. Tidak hanya itu, sebagian besar peralatan listrik dikontrol melalui pon­sel pintar, mulai dari pen­cahayaan, akses pintu, dan hiburan.

Fasilitas lainnya yang dis­ematkan di menara ini anta­ra lain, lemari pendingin, proyektor, sistem suara tanpa kabel, tempat tidur ukuran­queen, internet, dan tangga untuk mengakses puncak me­nara.

Kekurangan menara ini adalah tidak adanya kamar mandi. Namun, Williams be­rencana untuk membangun sebuah kamar mandi kecil yang terpisah di pohon dekat menara.

Untuk membangun struk­tur ini, Williams menghabis­kan 50.000 dollar AS atau Rp 699 juta. Sampai saat ini, Williams belum berniat men­jualnya. Meski begitu, ia men­gaku kesempatan itu mungkin tersedia di lain waktu. (KPS)