BOGOR, Today – Mengajarkan Hak Asasi Manusia (HAM) di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) bukanlah tanpa tantangan. Omah Munir, termasuk para guru PPKn, melihat pembelajaran tentang nilai-nilai HAM bersifat sangat umum. Ia menitikberatkan pada nilai-nilai abstrak tentang karakter individu. Padahal ranah pengertian HAM menurut Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 menekankan HAM sebagai hak individu seseorang sebagai warga negara. Tantangan kedua adalah menciptakan konten pengajaran yang menarik dan menyenangkan. Itulah sebabnya, modul ini digagas untuk sebagai pengayaan untuk membangun pemahaman HAM, sekaligus dengan metode menyenangkan.

Modul yang disusun ini dibuat untuk 4 pertemuan terjadwal sesuai Kurikulum 2006 dan 2013 dan terdiri dari 4 topik, Perte­muan 1: Mengenal HAM, Pertemuan 2: HAM, Pancasila dan UUD 1945, Pertemuan 3: HAM di Indonesia dan Pertemuan 4: HAM di Sekitar Kita. “Modul ini tidak dimaksudkan sebagai modul peng­ganti yang ditetapkan pemerintah, tetapi untuk memperkaya ba­han ajar untuk guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN),” jelas Smita Notosusanto, Dewan Pengurus Omah Munir. Berbagai cara menarik untuk memberikan pemahaman seputar HAM disusun secara interaktif, mulai dari mengemas dalam ben­tuk Aktivitas Lelang, Domino HAM, Galeri HAM, Museum HAM hingga Jam HAM. Siswa juga diajak dalam metode Wisata Fakta, Menjadi KOMNAS HAM, Verbal Tenis, Verbal Footbal hingga men­jadi pahlawan HAM melalui topeng yang disediakan.

Para siswa dan siswi SMPN 2 Bogor yang menjadi peserta uji coba Modul Pengayaan HAM mengaku tertarik dengan metode pembelajaran ini. “Sangat menarik metode pembelajaran HAM dengan model yang tidak biasa. Saya dan teman-teman jadi leb­ih paham tentang HAM dan bisa menyampaikan pendapat ten­tang HAM. Ini pembelajaran sekaligus penerapan tentang HAM. Dari metode yang ada, saya sangat menyukai metode lelang dalam pembelajaran tersebut,” ungkap M. Nirwan Habibi. Pe­lajar yang biasa dipanggil Habibi itu juga bisa berkomentar soal HAM di Indonesia. “Menurut saya HAM di Indonesia pemahamannya masih dalam tahap perkembangan, karena masih ter­jadi pelanggaran HAM. Oleh karena itu saya harap dari peluncuran mod­ul itu, pemahaman tentang HAM di Indonesia akan menjadi lebih baik,” harapnya. Hal senada diungkapkan Syifa Aiko yang menurutnya pembelajaran tentang HAM menjadi menarik. “Seru, menarik dan tidak membosankan karena dikemas dalam permainan,” ujarnya. Sedangkan siswi lain­nya Nadya Asima melihat metode ini membuatnya leb­ih mudah menangkap materi yang diberikan. “Kami diberikan contoh nyata dan bahkan seperti berada dalam peristiwa, jadi kami san­gat mudah memahami,” un­gkapnya. Asyiknya lagi, kelas ditutup dengan yel-yel yang diciptakan oleh para peserta didik.

(Rifky Setiadi)