ismet-ali-1Satu minggu menjelang lebaran gunung Raung meletus. Akibatnya banyak penerban­gan dari dan menuju Surabaya dan Bali terkendala. Ban­yak juga pesawat yang sedang ter­bang menuju dae­rah tersebut harus kembali ke airport asalnya.

Menghadapi ken­dala tersebut, banyak pemudik diminta menunggu dan menunggu di ruang ke­berangkatan. Penumpang sibuk memberikan informasi kepada keluarga dan kebingungan. Se­bahagian lagi, sibuk meminta informasi ke desk perusahaan walaupun tidak mendapat jawa­ban pasti, karena sang manajer tidak kelihatan batang hidung­nya. Sedangkan petugas front desk tidak berwenang mem­berikan informasi secara pasti. Keadaan ini menunjukkan bahwa manajemen pen­erbangan ternyata tidak siap mengha­dapi keadaan kri­sis tersebut.

Baca Juga :  Mendulang Rupiah Dari Produksi Kerupuk Asmin

Dalam Stan­dar Operasional Prosedur (SOP), setiap penerban­gan pasti mempu­nyai rencana darurat (Contingency Plan) dalam mengelola berbagai resiko (Risk Management) yang mungkin di­hadapi dalam operasional bisnis mereka. Tetapi bila kompetensi kurang memadai maka manajer tersebut tidak akan bisa men­jalankan rencana darurat dalam menghadapi kondisi krisis yang komplikatif.

Dua upaya dapat dilakukan manajer dalam menghadapi kondisi krisis. Pertama, Komu­nikasi tidak terputus dari satu sumber. Setiap penumpang membutuhkan kepastian dalam perjalanannya. Oleh sebab itu saat krisis, manajer harus bisa membangun komunikasi persua­sive secara terus menerus. Se­hingga manajer, karyawan pen­erbangan dan calon penumpang akan mempunyai level pengeta­huan dan informasi yang sama dalam menghadapi krisis.

Baca Juga :  LBH Konsumen Jakarta Dukung Menteri BUMN Gratiskan Toilet SPBU Seluruh Indonesia

Kedua, Buat keputusan jangka pendek. Saat krisis manajemen butuh waktu menganalisa kekua­tan (strenght), peluang (oppor­tunity), kelemahan (weaknesess) dan ancaman (threat) dalam mengambil keputusan jangka pendek mulai dari menawarkan snack, makan malam, pengina­pan sampai menawarkan alter­natif perjalanan darat bagi pen­umpang yang berminat.

Dua peran manajer dalam kondisi krisis ini sangat pent­ing. Mereka mewakili tanggung jawab (Accountability) peru­sahaan terhadap penumpang­nya. Melalui komunikasi dan keputusan jangka pendek, mer­eka dapat memberikan kepas­tian lebih dan ini bisa menjadi keunggulan bersaing perusa­haan penerbangan ini. (*)

Oleh : Ismet Ali
Master Coach Soft Skills


1 KOMENTAR

  1. Bp Ismet. Dh terima kasih atas Artikelnya yg dipublikasikan via bogor. Kami sangat senang bgitu melihat pic Bp. Langsung read. {TMS Be Hero#Suryadi}

Comments are closed.