Untitled-14JAKARTA, TODAY — Presiden Joko Widodo akhirnya mengu­mumkan delapan nama calon pimpinan KPK hasil kerja pa­nitia seleksi. Mereka adalah Saut Situ­morang, Surya Chandra, Alex­ander Marwatta, Basaria Pan­jaitan, Agus Rahardjo, Sujanar­ko, Johan Budi Sapto Pribowo, dan Laode Muhamad Syarif.

Pansel KPK membagi 8 calon pimpinan KPK ke dalam 4 bidang. Mer­eka selanjutnya akan menjalani uji kelayakan di DPR. Pembagian itu dilakukan berdasar­kan kekuatan masing-masing capim.

“Kita lihat orang ini kuatnya di mana, karena ada yang harus diperbaiki di KPK. Ada diperlukan perbaikan manajemen internal,” kata anggota Pansel KPK, Yenti Garnasih di Gedung DPR, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (1/9/2015).

Meski sudah membagi-bagi calon pimpi­nan ke 4 bidang, pansel mengembalikannya ke DPR. Para wakil rakyat akan melakukan fit and proper test untuk menentukan siapa pimpinan KPK nantinya. “Tapi kembali ke DPR. Orang ini yang kuat di bagian itunya, penindakannya, itu yang harus kita komuni­kasikan dengan DPR,” ujar Yenti.

Ahli hukum pidana pencucian uang ini menegaskan, 8 capim KPK yang lolos sudah memiliki kompetensi yang dibutuhkan. Mer­eka juga tidak punya masalah hukum lagi. “Yang diloloskan berintegritas, capable, tak ada catatan hukum. Yang tak lolos kan ada yang berkaitan dengan catatan hukum, ada yang masalah kesehatan, sebelumnya per­sonal assesment, masalah administrasi,” ungkapnya.

Baca Juga :  Oknum Guru Ngaji di Bogor Diduga Cabuli 5 Anak Didiknya

Sebelum penyerahan tersebut, publik sempat dikejutkan dengan pernyataan Kab­areskrim Mabes Polri, Budi Waseso, yang menyebut ada satu capim KPK yang menjadi tersangka kasus korupsi. Meski tak meri­lis secara resmi nama capim tersebut, tapi bersamaan dengan pengumuman nama Capim, Bareskrim juga mengumumkan telah menemukan dugaan korupsi sekitar Rp126 miliar untuk tanggung jawab sosial perusa­haan (corporate social responsibility/CSR) PT Pertamina yang disalurkan oleh Pertamina Foundation (Yayasan Pertamina).

Direktur Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri Brigjen Pol Victor Simanjutak men­gatakan, berdasarkan analisis dokumen dan keterangan saksi, dugaan korupsi tersebut berasal dari alokasi anggaran 2012-2014 bernilai Rp251 miliar untuk proyek gerakan menabung pohon, beasiswa Sobat Bumi, sekolah Sobat Bumi, dan sekolah sepak bola Pertamina. “Namun, kepastian nilai keru­gian negara akan ditetapkan BPKP (Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan, kita hanya memeriksa,” kata dia, Selasa (1/9/2015).

Baca Juga :  Bupati Bogor Ade Yasin Lantik 7 Kepala Dinas

Bareskrim telah memeriksa bagian ben­dahara, perencanaan, dan arsip di yayasan tersebut dan memperoleh banyak dokumen tentang relawan dan tabungan puluhan juta pohon yang menjadi bagian proyek yayasan itu. “Saat ini yang perlu diteliti apakah rela­wannya ada? Ini ada indikasi relawan fiktif. Perlu dikroscek juga dokumen pembayaran­nya, cash atau transfer. Kalau cash siapa yang menerima? Kalau transfer ke rekening siapa?” kata dia.

Bareskrim melakukan penyelidikan sejak dua bulan lalu. Ia mengatakan penyidik telah memeriksa lima saksi dan menemukan ad­anya calon tersangka kasus ini.

Dalam bursa capim KPK yang lolos tes tahap ketiga, ada satu nama yang berkaitan dengan Pertamina, yakni Nina Nurlina Pra­mono. Ia diketahui menjabat Direktur Ekse­kutif Pertamina Foundation.

Menurut website Pertamafoundation.org, direktur eksekutif lembaga pengelola CSR Pertamina tersebut adalah Nina Nurlina Pramono. Nina Nurlina diketahui mengikuti seleksi capim KPK, namun tidak lolos ke 8 besar.

Berikut 8 nama calon pimpinan KPK yang diserahkan pansel ke Presiden Jokowi.