20120213gabahBOGOR, TODAY — Kabar tak sedap untuk ibu rumah tangga. Pemerintah Provinsi Jawa Barat merilis, harga rata-rata Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani bulan Agustus 2015 naik 6,06 persen dari Rp 4.619 menjadi Rp 4.899 per kilogram. Khusus un­tuk harga GKP terendah Rp 4500 terjadi di Kabupaten Bogor, sedangkan tertinggi Rp 5.900 dijumpai di Kabupaten Indramayu.

Begitu juga harga Gabah Kering Giling (GKG) di tingkat petani mengal­ami kenaikan 2,11 persen dari Rp 5.410 menjadi Rp 5.524 per kilogram dengan harga terendah Rp 5.250 di Kabupaten Majalengka dan tertinggi Rp 6.100 di Kabupaten Bandung.

Sementara harga gabah kualitas rendah naik 12,42 persen dari Rp 3.479 menjadi Rp 3.911 dengan harga teren­dah Rp 3.100 di Kabupaten Sukabumi dan tertinggi Rp 5.400 di Kabupaten Indramayu.

Kenaikan juga terjadi pada harga be­ras yang terpantau dalam 82 transaksi di 35 kecamatan di 15 Kabupaten Jawa Barat. Pada Agustus, rata-rata harga beras di penggilingan sebesar Rp 9.289 atau naik 0,34 persen dibandingkan dengan Juli sebesar Rp 9.257.

Berdasarkan kualitas, harga beras premium naik 1,53 persen dari Rp 9.707 menjadi Rp 9.856 dan beras kualitas rendah naik 0,34 persen dari Rp 8.350 menjadi Rp 8.537. Sedangkan beras me­dium turun harga sebesar 0,36 persen dari Rp 8.942 menjadi Rp 8.910.

Baca Juga :  Perampokan Indomaret, Empat Orang Tersangka di Batam Ditangkap

Kasi Produksi Pangan Dinas Per­tanian dan Kehutanan (Distanhut) Ka­bupaten Bogor, Irma Villayanti mem­benarkan jika pada Agustus 2015 ini ada kenaikan untuk harga GKP sebesar 6,06 persen.

Menurutnya, harga terendah di Bumi Tegar Beriman mulai Rp 4.500 hingga Rp 5.000 sedangkan harga ter­tinggi mulai Rp 5.000 hingga Rp 6.000. “Memang ada kenaikan. Tapi GKP kita ada di harga Rp 4.500 kok. Sedangkan produksi GKP kita dari Januari hingga Juli 2015 sebanyak 352.642 ton. Sedan­gkan target pertahun produksi Kabu­paten Bogor per tahun adalah sebanyak 553.924 ton,” ujar Irma saat dihubungi Bogor Today, Kamis (3/9/2015).

Sejak sepekan terakhir, harga beras di sejumlah pasar tradisional di Bogor memang naik. Kenaikannya antara Rp500–Rp1.000 per kilogram. Naiknya harga beras ini, disebabkan kekeringan di daerah sentra beras. Kekeringan ini, berdampak pada naiknya harga gabah di kalangan petani.

Baca Juga :  Tipu Puluhan Pasien Wanita, Dokter Abal-abal Diciduk Polisi

Arina (45 tahun), pemilik PD Beras Asri Pasar Parung, mengatakan, saat ini stok beras di gudangnya cukup melim­pah. Akan tetapi, harganya naik. Kondi­si itu, akibat mahalnya harga gabah di tingkat petani. “Setelah dicek ke lapan­gan, harga gabah naik akibat kekerin­gan yang melanda petani,” ujarnya, Kamis (3/9/2015).

Dengan naiknya harga gabah, oto­matis harga beras juga mengikutinya. Saat ini, harga beras termurah di kios­nya mencapai Rp 9.000 per kilogram. Padahal, sebelum naik harga beras ter­murah hanya Rp 8.500 per kilogram. Untuk beras premium atau yang terma­hal, saat ini Rp 11.000 per kilogram. Padahal, sebelumnya hanya Rp 10.000 per kilogram. Adapun stok beras saat ini, mencapai 10 ton. “Meskipun mahal, pembeli tidak perlu khawatir, karena stok berasnya sangat banyak,” ujarnya.

Menurutnya, harga beras ini dipre­diksi akan terus naik. Seiring, belum berakhirnya musim kemarau. Karena, saat ini banyak petani yang tanam padi. Akan tetapi, karena kekeringan tanaman tersebut gagal. Gagal tanam atau gagal panen ini, tentunya akan mendongkrak harga gabah menjadi mahal lagi.

(Rishad Noviansyah|Yuska Apitya)