119545_anton-medan_663_382MASA lalu Anton Medan sangat lekat dengan kriminalitas. Dulunya, pemilik nama kecil Tan Hok Liang ini kondang sebagaiperampok dan bandar judi. Pria kelahiran Tebing Tinggi, Sumatera Utara, 1 Oktober 1957 itu harus menghabiskan 18 tahun 7 bulan mendekam di balik jeruji besi untuk menebus kejahatannya.

Oleh : Latifa Fitria
[email protected]

Namun, Anton Medan telah berubah. Sejak memeluk Islam pada 1992, dia tinggalkan dunia kriminal dan mulai menjadi penyiar agama sebagai seorang dai.

“Panjang kalau saya ceritakan semua, sudah banyak saya ceritakan. Intinya saat menjalani huku­man dari penjara ke penjara itu, saya banyak belajar Islam. Di situ saya semakin yakin dan kemudian me­mutuskan menjadi mualaf,” terangnya.

Awalnya, Anton Medan yang bernama Islam Mu­hammad Ramdhan Effendi ini mengaku tak mudah memeluk Islam. Latar belakang seorang kriminal menjadi batu sandungan terbesarnya. Dia mengaku pernah tiga kali ditolak masuk Islam. “Awalnya saya ke Yayasan Haji Karim Oei, ke Pak Yunus Yahya. Tapi tiga kali saya ditolak masuk Islam,” tuturnya.

Baca Juga :  Gantung Diri di Polresta Deli Serdang, Tersangka Kasus Cabul Tewas Bunuh Diri

Kini, Anton Medan berceramah dari penjara ke penjara. Memberikan ‘pencerahan’ kepada para nara pidana yang senasib dengannya dulu. Tak han­ya itu, Anton Medan juga mempunyai pesantren bernama At-Taibin dan mendirikan masjid yang di­beri nama Tan Hok Liang di Jalan Raya Kampung Sawah, RT.02/ RW.08 Kampung Bulak Rata, Kelura­han Pondok Rajeg, Kecamatan Cibinong Kabupaten Bogor.

“Karena habitat saya dari sana, saya paham mereka. Itu saja. Mereka memang membutuhkan orang-orang seperti saya, Joni Indo. Sebagai figur lah. Teladan mereka untuk bertaubat. Bagaimana sih taubat itu, mereka masih bertanya-tanya,”

Baca Juga :  Bejat! Seorang Bapak di Magetan Tega Cabuli Anak Kandungnya Saat Sedang Tidur

Anton mengaku ikhlas berceramah dari satu penjara ke penjara lainnya. Bagi dia, berbagi pengalaman dengan narapidana adalah sebuah kepuasan batin tersendiri. Dia juga mengatakan hidupnya terasa semakin nikmat karena sebagian hartanya bisa dia gunakan menghidupi yayasan pendidikannya.

”Ceramah itu tidak bisa dipaksa. Saya cender­ung karena masyarakat kita berfikirnya pragma­tis, saya lebih memilih bicara fakta. Karena yang saya pahami Islam itu tidak sekedar dikaji dan dipelajari saja. Tapi harus menjawab problem hidup. Kalau saya memahami Islam seperti itu. Tidak sekedar wacana,” pungkasnya.