IMG_9653Pengurus Daerah (Peng­da) Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI), Helmi Sutikna mengungkap­kan bahwa budaya lokal pencak silat mu­lai tergusur olah arus globalisasi. Terutama di kalangan pemuda dan anak – anak.

(Adilla Prasetyo Wibowo)

BILA hal ini terus didiamkan, maka dalam satu generasi mendatang budaya lokal yang sarat nilai posi­tif akan habis digerus budaya yang mengagungkan kebebasan dan menafikan norma sosial. “Maka dari itu, perlu ada langkah nyata yanh dilakukan,” tegasnya.

“Inilah arti penting digelarnya Festival Pencak Silat Bogor Today Cup I – 2015, kita tidak hanyabmem­pertontonkan pertarungan adu jurus. Tapi lebih pada pengenalan budaya, dan pemilihan tempat di Botani Square supaya masyarakat kalangan menengah ke atas juga bisa melihat,” katanya.

Baca Juga :  DPD Jabar Meminta Arteria Dahlan Dipecat Sebagai Kader

Ungkapan kegelisahan Helmi senada dengan apa yang diung­kapkan oleh Ketua Umum (Ketum) IPSI, Prabowo Subianto yang me­minta agar pencak silat terus dile­starikan dengan cara mengajarkan­nya kepada generasi muda.

“Makin tergerusnya budaya dan kesenian bela diri pencak silat oleh budaya asing hingga membuat gen­erasi muda mulai melupakan bu­daya asli bangsa sendiri,” katanya.

Hal tersebut, menurut Prabo­wo, agar bela diri pencak silat tetap terpelihara hingga masa mendatang dan dapat membentuk jiwa ksa­tria yang tangguh. “Harus kita akui bahwa sedikit demi sedikit generasi muda mulai melupakan budaya asli bangsa kita sendiri, salah satunya adalah pencak silat,” tuturnya.

Baca Juga :  PWI Kota Bogor Berangkatkan 10 Wartawan Dalam Seleksi Porwanas Tingkat Jabar

Ia menambahkan, sudah menjadi tugas bersama untuk kembali men­gangkat kebudayaan dan tradisi asli ini, agar bisa diperkenalkan kembali kepada mereka (generasi muda, red).

Dirinya mencontohkan, beber­apa negara di Asia, seperti Jepang dan Korea yang berkembang pesat hingga menjadi negara maju karena terus memelihara kebudayaan asli hingga akhirnya bisa dikenal ke se­luruh dunia.

“Kita harus mencontoh kedua negara tersebut karena mereka bisa bangkit dengan semangat ksatria yang dimiliki. Mereka sadar bahwa national building membutuhkan se­mangat,” bebernya.