image1Taiwan Street Snack merupakan salah satu kuliner negara luar yang sedang digandrungi oleh kawula muda di Tanah Air. Salah satu pengusaha yang melirik peluang ini adalah Regina Lani dengan mendirikan usaha bernama SanBaoChi sejak September 2014. Camilan ini semacam daging dan kulit ayam yang dibalut tepung renyah lalu diberi bumbu khas. Regina juga menawarkan kemitraan dengan paket investasi Rp 70 juta. Mitra akan dapat bahan baku hingga pelatihan pegawai. Seperti apa?

Oleh : Apriyadi Hidayat
[email protected]

Camilan pinggir jalan berupa olahan ayam dari negara-negara di Asia seperti Taiwan saat ini memang sedang populer. Rasanya yang co­cok dengan lidah orang Indonesia karena berbahan baku ayam serta ditaburi aneka bumbu. Bumbu khas kaya akan rempah tersebut memberikan sensasi pedas, gurih dan hangat, yang pasti akan menggoyang li­dah penikmatnya. Tak hanya itu, sensasi re­nyah tepung yang membalut kulit dan daging ayam berbeda dengan ayam tepung biasanya.

Re gina mengungkapkan, re sep kuliner ini juga menjadi resep tradisional keluarga di ka­wasan pecinan di Indonesia yang sudah diwar­iskan secara turun temurun. Sehing ga lewat SanBaoChi, dia memperkenalkan produknya sebagai kuliner chinatown street snacks bukan semat a kudapan asal Taiwan. Saat ini, sudah ada lima gerai milik pusat di Semarang, Yog­yakarta, dan Surabaya. Agar usahanya kian berkembang, Regina menawarkan kemitraan usaha sejak Januari 2015.

Paket investasi yang ditawarkan senilai Rp 70 juta. Mitra akan mendapatkan booth, ba­han baku awal, perlengkapan usaha, seragam karyawan, pelatihan karyawan, dan super­visor lanjutan. Bahan baku awal yang akan diterima mitra berupa fillet ayam dan kulit ayam yang telah dibalut tepung, lalu tinggal di­goreng menggunakan deep fryer dan ditaburi bumbu rahasia ala SanBaoChi. “Semua bahan baku sudah kami sediakan,” ujar Regina.

Tidak ada biaya royalti per bulan, namun mitra harus mengambil bahan baku dari pusat setiap dua minggu sekali minimal 750 pak. Mitra juga mengambil paperbag dan tusuk sumpit dari pusat. Harga bahan baku sekitar Rp 11.000 per pak.

Ada dua varian menu yang ditawarkan SanBaoChi yakni oriental cr ispy chicken dan oriental chicken skin. Sedangkan tersedia lima pilihan bumbu yakni original (rempah), barbeque, cheese, garlic chicken, dan savory spicy. Harga untuk dua varian menu ini sebe­sar Rp 25.000–Rp 30.000 per porsi.

Resep turun temurun

Regina menghitung, omzet standar tiap ge­rai sebesar Rp 1,5 juta–Rp 2,5 juta per hari atau sekitar Rp 45 jut a–Rp 75 juta per bulan. Setelah dikurangi biaya sewa tempat, gaji pegawai, ba­han baku dan biaya operasional lainnya, mitra bisa meraup laba bersih sekitar 20−30 persen.

Karyawan yang dibutuhkan sekitar tiga orang. Sementara sewa tempat tergantung lo­kasi, berkisar Rp 3 juta–Rp 10 juta per bulan. Menurut Regina, kelebihan SanBaoChi adalah c ita rasa bumbu yang khas hasil wari san se­c ara turun temurun. Sampai akhir tahun, Re­gina menargetkan untuk membuka tujuh gerai baru.

Royandi Yunus, Konsultan International Franchi se Business Management, men­gatakan, keunikan menu yang ditawarkan usa­ha ini bisa membuat mereka bersaing di pasar. Namun hal yang penting dalam membangun bisnis kemitraan adalah du a belah pihak yang harus dapat saling menguntungkan, sehingga mitra usaha tertarik untuk bergabung.

(KTN)