11379174_812456812201983_2007969948_nTato temporer atau tato yang mudah hilang dalam waktu tertentu, tengah menjadi tren dalam aksesori mode. Kehadiran tato temporer bisa menjadi pilihan bagi kawula muda yang ingin tampil eksis dengan gambar di kulitnya, namun enggan memiliki tato tersebut selamanya di tubuhnya. Hal tersebut pun menjadi peluang tersendiri bagi penyedia tato temporer, yakni Felicia Hartono lewat bendera usaha HeyThattoo dan Ellen Wijoyo dengan merek Potatoo.

Oleh : Apriyadi Hidayat
[email protected]

Seiring dengan makin populernya kegiatan menato di masyarakat, khususnya kawula muda, berma­cam cara dan teknik mulai ber­munculan. Pasalnya, tidak semua orang mau merajam tubuhnya karena ta­kut dengan jarum yang menembus kulit berulang kali. Selain itu, desain tato juga bersifat permanen sehingga perlu pemiki­ran matang sebelum melakukannya.

Fenomena ini ternyata dibidik sebagai peluang bisnis nan potensial oleh beber­apa pelaku usaha. Mereka menciptakan produk tato temporer yang mudah men­empel di kulit layaknya stiker. Untuk me­narik perhatian konsumen, produsen tato temporer menyiapkan beraneka ragam de­san atraktif. Tak heran, produk ini diburu oleh konsumen yang ingin memiliki tato di tubuh tanpa rasa sakit.

Ellen Wijoyo merupakan pelaku usaha yang memanfaatkan booming tato di ka­langan anak muda. Mengusung merek Potatoo, perempuan berusia 28 tahun ini memproduksi t ato temporer (temporary tattoo) sejak akhir 2013 silam.

Ellen memasarkan produk Potatoo me­lalui internet. Dia membagun situs www. potatoo1.com serta akun Instagram dan mengunggah foto-foto produk tato tempo­rer. Tak disangka, dia mendapat sambutan positif dari konsumen. Berangkat dari situ, dia mulai menggelar bazaar di berbagai pusat perbelanjaan di Jakarta, Bogor dan Bandung. Untuk di Bogor, Ellen mengge­larnya di B otani Square.

“Sekarang kami bekerja sama dengan beberapa toko ritel di Jakarta, Bogor dan Bandung untuk menerapkan sistem kon­sinyasi. Kami juga memiliki reseller yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia,” kat a Ellen.

Inspirasi Ellen berbisnis tato temporer bermula kala dia berlibur ke Amerika Seri­kat beberapa tahun silam. Dia mendapati beberapa produk tato temporer berdesain unik dijual di toko. Perempuan yang hobi menggambar ini langsung menangkap po ­tensi bisnis dari barang tersebut .

“Semasa kecil, saya sering mendapat hadiah stiker tato dari c iki dan permen. Saya pikir banyak orang yang suka kalau stiker tato tersebut digarap serius dengan desain bagus. Stiker tato juga bisa jadi solusi bagi orang yang ingin memiliki tato, tetapi t akut ditusuk jarum,” katanya.

Tak main-main membuat rencana bis­ni s, dia mencari informasi tentang proses pembuatan tato temporer dari berbagai media. Ellen masih bekerja sama den­gan salah satu percetakan untuk proses produksi. Dia menggunakan tinta berbah­an dasar air (water-based ink) yang ramah lingkungan (eco-friendly).

“Kami hanya memakai tinta berku alitas demi kenyamanan konsumen. Produk Po ­tatoo bisa digunakan mulai dari anak-anak hingga orang dewasa tanpa menimbulkan iritasi,” tutur lulusan jurusan desain Univ­eritas Pelita Harapan ini.

Selain menjaga keamanan dan kenya­manan pelanggan, dia juga menawarkan orisinalitas desain produk Potatoo. B er­bekal keahlian di bidang desain, Ellen menggambar semua desain tato temporer antara lain huruf, tulisan, angka, karakter kartun, binatang, hingga buah-buahan. Gambar tersebut hadir dalam warna hi­tam, warna-warni, hingga tato yang bisa menyala dalam kondisi gelap (glow in the dark).

Harga tato temporer Potatoo dibande ­rol mulai dari Rp20.000 hingga Rp60.000 per buah. Harga tersebut disesuaikan den­gan warna tinta dan ukuran stiker. Margin keuntungan yang didapat berki sar 10-20 persen. “Saya tidak mengejar untung besar melaikan kapasitas produksi ting gi.”

Pemain lainnya adalah Felicia Har­tono, lewat bendera usaha HeyThattoo, ia menjajakan jasa tato temporer dengan tinta berbahan baku organik. Sehingga dia mengklaim, tinta yang digunakan aman untuk anak-anak dan orang dewasa dan ti­dak menyebabkan alergi.

Usaha ini berdiri sejak 2 004 silam. Agar gerainya cepat berkembang, Felicia menawarkan kemitraan usaha kepada mi­tra. Saat ini ada tiga gerai yang beroperasi di Mal Gandaria City, Mal Alam Sutera, dan di Teras Kota BSD. Dari tiga gerai tersebut, dia gerai milik pusat dan sisanya milik mi­tra usaha.

Sistem usaha yang dia jalankan adalah mitra usaha cukup menyediakan tempat usaha. Lokasinya di dalam ruangan dan disarankan berada di mal dengan trafik pengunjung yang ramai. “Harus di dalam ruangan karena produk yang digunakan tidak boleh terkena air sebelum diaplikasi­kan ke kulit ,” ujar dia.

Setelah mitra mengajukan lokasi usaha, pusat akan melakukan survei tempat. Bila tempat usaha dirasa cocok, pusat akan mengirimkan produk ke tempat mitra. Usaha ini menet apkan kerjasama dengan sistem bagi hasil 50:50. Mitra tidak harus membeli produk dari pusat karena akan dipasok tiap bulan, tapi hanya membayar sewa tempat dan biaya operasional lain­nya.

Produk yang dia jajakan buatan US dan Korea. Aneka bentuk dan warna tato bisa dipilih. Pasar yang disasar adalah anak-anak, remaja hingga dewasa. Felicia men­gatakan, rat a-rat a bisa 30 tato yang bisa terjual tiap hari. Sementara di akhir pekan bi sa menc apai 70 tato. Harga yang ditawar­kan bervariasi mulai dari Rp 15.000 hingga Rp 60.000, tergantung dari de sain dan ukuran.

Dia menghitung, omzet usaha bisa men­capai Rp 40 juta per bulan. Mitra usaha setiap bulan harus melaporkan laporan keuangan kepada pusat. Setelah dikurangi biaya sewa tempat, gaji pegawai serta pem­bagian keuntungan ke pusat, mitra masih bi sa meraup laba bersih sekitar belasan juta rupiah tiap bulan. Dia menargetkan bi sa menambah hingga lima gerai baru hingga akhir tahun ini.

(BIS/KTN)