10983220_1639177849628534_6819620041231529432_nDUA tahun lebih, Rossye Pangerapan atau pemilik nama tionghoa Wong Lie Chu sempat mengasingkan dirinya sendiri. Ditinggalkan oleh suami tercintaHandi Kurniawan (Alm) pada tahun 2010 akibat serangan jantung mendadak, membuat wanita berdarah Cina Menado ini seakan hidupnya sudah runtuh. Rossye terbilang wanita yang manja sejak menikahdengan Handi, segala kebutuhannyaselalu dipenuhi oleh suaminya, ia juga terma­suk istri dari suami yang serba berkecukupan.

Oleh : Latifa Fitria
[email protected]

Iya, saya betul-betul tidak siap. Kaget banget waktu suamiku itu dikatakan su­dah meninggal oleh dokter, saya sepertitidak percaya, banyak pertanyaan di kepala saya, bagaimana saya melanjutkan hidup, anak-anak saya makan apa?? Selama dua tahun lebih aku menutup dan mengas­ingkan diri sendiri, tidak mau bergaul, wak­tuku hanya lebih sering dihabiskan di dalam kamar sambil mengenang saat dia (Alm) ma­sih ada,” urainya sambil mengingat-ingat.

Baca Juga :  2 Unit Mobil dan Motor Tertimpa Pohon Tumbang di Bogor

Tak hanya itu, Ochie (sapaan akrab) bah­kan sempat melupakan kedua anak-anaknya yang ternyata masih membutuhkannya. Hingga akhirnya ia menyadari sendiri, jika ia terlalu larut dalam kesedihan dan banyak yang ia lupakan.

“Jangankan anak-anak, badan saya sendiri saja tidak terawat. Tetapi memang yang namanya galau akan berhenti dengan sendirinyayah, selang dua tahun lebih jus­tru saya baru bisa bangkit dari kegalauan,” kata dia saat ditemui di kediaman yang be­rada di Perumahan Bukit Cimanggu.

Anak ke-lima dari delapan bersaudara ini mulai berangsur menata kembali hidupnya sejak saat ia menyadari keterpurukannya. Memulai bersosialisasi dengan teman-teman lama yang ia tinggalkan sejak lama, dan kembali membagi rasa kehangatan bersama anak-anaknya. Bahkan ia memulai usaha perniagaan online sejak itu hingga sekarang.

Baca Juga :  Bima Arya Segera Aktivasi RW Siaga dan Pengurai Kerumunan

“Memang tidak gam­pang ditinggal oleh orang yang kita kasihi, saya bukan lebay (bahasa gaul berlebihan), tetapi memang kehilangannya itu sangat besar. Syukurlah, saya bisa bangkit kembali demi anak-anak,” tu­tur wanita jebolan SMA Negeri Rang­kas Bitung.

Sejak saat itu, masih kata dia, ia mulai menerapkan filosofi ‘hidup itu keras, maka jadilah mandiri’. “Kalau kitanya mandiri, jadi tidak bergantung kepada siapapun, termasuk suami sendiri, kare­na umur itu kita tidak pernah tahu,” pungkasnya.