Bogor-(5)Kacamata berbingkai kayu bagi kalangan anak muda dan publik figur mampu membawa kesan unik dan tidak pasaran. Sebab pembuatannya memang customized dan dibuat secara handmade. Harga jualnya pun terbilang tinggi, berkisar jutaan rupiah per unit. Nah, bagi yang menginginkan kacamata kayu dengan desain dan bahan sesuai selera, saat ini bisa memanfaatkan penyedia bingkai kacamata kayu customized yang digarap pemuda asal Bogor Wahyu Nurmansyah dengan brand Rainwood. Pemain lainnya Akhmad Cliff Yusron dengan merek Kallestory. Seperti apa?

Oleh : Apriyadi Hidayat
[email protected]

Dunia kayu bagi Wahyu Nur­mansyah memang bukan hal yang baru. Sebelumnya, ia merupakan produsen dan penggiat finger board (skate­board tangan) di kota hujan. Melihat lim­bah kayu sisa pembuat an fingerboard, Wa­hyu kemudian terinspirasi untuk membuat kacamata dengan bingkai kayu.

”Bikin kac amata ini karena lihat ban­yaknya bahan yang terbuang dari finger­board. Karena dari satu lembar kayu untuk membuat satu fingerboard cukup banyak bahan yang kebuang, jadi coba nih sisa-si­sanya diolah dan akhirnya bikin kacamata dan allhamdulillah banyak juga respon­snya,” jelas Wahyu.

Dengan menggunakan tenaganya sendiri dan kreativitas yang dimilikinya, kacamata dari kayu ini sangat banyak pe­minatnya. Meski dibanderol dengan harga yang cukup mahal, produknya ini banyak diincar penyuka fashion unik.

Dalam proses pembuatan kacamata dari kayu ini juga sebelumnya Wahyu melakukan riset terlebih dahulu. Dengan membu at desain kacamata yang nyaman dan bisa dipakai oleh siapa saja. Setelah masa ri set dan percobaan yang mendapat respons barulah dirinya memutuskan un­tuk memfokuskan untuk dijadikan usaha seperti halnya fingerboard.

Pemain lainnya adalah Cliff Yusron den­gan brand Kallestory. Cliff mengatakan su­dah sejak tiga tahun lalu membuat kacamata berbahan kayu. Ini berawal dari dirinya yang memang pengguna kacamata yang suka ber­ganti-ganti model bingkai agar tidak bosan.

Cliff harus melakukan riset dari pemili­han bahan kayu yang cocok untuk kacama­ta, uji joba engsel, hingga eksplorasi model yang sesuai dengan anatomi orang Indo­nesia. Bahan baku yang digunakan seperti kayu rosewood, mahagony, maple, kemun­ing, bambu, dan kayu nangka. Selain itu juga dia menggunakan kayu bedaru, glugu, zebrawood, bahkan dengan kombinasi tan­duk kerbau maupun sapi.

Sementara harga kacamata di Kallestory mulai dari Rp 1,1 juta per unit. Cliff men­gaku bisa meraup omzet Rp 30 juta per bu­lan dar i penjualan kacamata bingkai kayu ini. Pasar yang disasar memang kalangan menengah atas, mengingat harga jual yang cukup mahal. Terang saja, pembuatan ka­camata ini dari buatan tangan serta me­merlukan kejelian serta kreativitas tinggi. Sebagian besar pembuatan berdasarkan pesanan pembeli alias customized.

Cliff membu at Kallestor y dengan me­nentukan tebal permukaan kacamat a tidak akan lebih dari 8 mm. Dia harus menen­tukan secara tepat lokasi serat kayu agar tetap bisa terlihat dengan baik kemudian dipres dengan pre sisi sehingga meleng­kung menyesuaikan anatomi muka sehing­ga nyaman dipakai.

Proses pembuatan dimulai dari molding bentuk frame, menggergaji, menghaluskan hingga proses penyelesaian dengan menu­tup pori-pori kayu agar tidak kemasukan air dan keringat. Selain itu, Kallestory akan menggrafir gagang kac amata dengan nama atau inisial pemesan sehingga produk itu akan sangat personal ketika dipakai oleh pembelinya. “Proses pembuatan kurang lebih memakan waktu 15 hari,” ujar Cliff.

(Apriyadi Hidayat/KTN)