MAKKAH TODAY – Kebakaran yang terjadi di sebuah hotel di wilayah Al-Aziziyah, Mekkah, pada Kamis (17/9/2015), diduga terjadi karena kelalaian jemaah haji yang memasak nasi di dalam kamar hotel. Padahal, menurut pejabat Kementerian Agama, jemaah tidak boleh me­masak apapun di dalam kamar hotel.

Kepala sub-bagian Informasi Sistem Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) Dirjen Penyelenggara Haji dan Umrah (PHU) Kementerian Agama Affan Rangkuti me­nyatakan terdapat sejumlah pelarangan ke­pada para jemaah haji di dalam kamar ho­tel, termasuk memasak nasi atau makanan apapun. “Selalu kami sosialisasikan bahwa mereka tidak boleh memasak apapun di dalam kamar hotel,” kata Affan, Jumat (18/9/2015).

Affan memaparkan kegiatan memasak dinilai berbahaya dilakukan di dalam ka­mar, untuk menghindari adanya korsleting listrik karena arus listrik di sekitar Mekkah beraliran tinggi. Affan menduga masih ban­yaknya jemaah haji yang memilih memasak nasi sendiri ketimbang membelinya karena budaya para jemaah haji terdahulu yang masih diteruskan hingga sekarang. “Bahkan masih ada yang membawa periuk besar, dan bumbu-bumbu masak. Ini seperti zaman kakek nenek kita dulu yang membawa pera­latan memasak saat berhari-hari perjalanan haji dengan kapal (laut),” kata Affan. Affan menyatakan para jemaah haji tidak perlu khawatir karena nasi dan makanan pokok lainnya dapat dengan mudah ditemukan di sekitar penginapan jemaah haji.

Baca Juga :  Tangani Kekeruhan Air Baku, Tirta Pakuan Turunkan Kapasitas SPAM Katulampa

Selain itu, lanjut Affan, jemaah haji juga mendapatkan 15 kali makan siang selama be­rada di tanah suci. “Perkiraan kami, jemaah haji berada di sekitar hotel pada kurun waktu setelah salat Subuh hingga sebelum Ashar. Se­hingga kami memberikan mereka makan siang di hotel,” kata Affan.

Affan mengasumsikan bahwa aktivitas jemaah haji pada saat sarapan dan makan malam berada di sekitar Masjidil Haram. “Banyak restoran dan rumah makan di seki­tar masjid. Mau apa saja ada,” kata Affan.

Affan juga memaparkan bahwa jemaah haji sudah dibekali uang untuk memenuhi biaya hidup selama di haji sebesar 1.500 ri­yal, atau sekitar Rp5,7 juta untuk membeli makanan dan kebutuhan sehari-hari.

Selain tidak boleh memasak, Affan juga mengingatkan bahwa para jemaah haji tidak boleh mencuci baju maupun memakai dinding untuk mendirikan jemuran di dalam kamar.

Sementara, Konsulat Jenderal Indonesia di Jeddah, Syailendra Dharmakitri menyatakan bahwa insiden kebakaran di lantai delapan hotel Sakaf al Barakah akan diinvestigasi lebih lanjut oleh petugas berwenang setempat.

Syailendra mengaku belum mengeta­hui mengapa rice cooker tersebut menye­babkan kebakaran. “Kita belum dapat in­formasi apakah mungkin karena korsleting atau karena dia memasak air di dalam rice cooker, atau sebab lainnya. Masih diselidiki,” kata Syailendra.

Baca Juga :  Ade Yasin: Ciptakan Kesalehan Sosial dan Sekolah Inklusif untuk Wujudkan Kabupaten Bogor Ramah Disabilitas

Hingga saat ini, lanjut Syailendra, je­maah di lantai satu hingga lantai tujuh su­dah bisa menempati kamar mereka lagi di al Barakah. Sementara untuk jemaah yang di lantai delapan diungsikan ke Holiday Inn.

Tak Boleh Keluar Rumah

Puncak haji akan dimulai pada 9 Zulhij­jah yakni 23 September mendatang. Para jemaah diminta untuk menjaga kesehatan. “Menjelang puncak haji, jemaah diimbau untuk menjaga kesehatan, tidak keluar rumah kecuali untuk kepentingan mendesak dan beristirahat,” ujar Kepala Daerah Kerja Makkah Arsyad Hidayat di Makkah, Jumat (18/9/2015).

Menurut Arsyad, hari ini adalah Jumat terakhir sebelum puncak wukuf di Arafah. Masjidil Haram dimungkinkan akan dipadati oleh jutaan jemaah dari berbagai negara.

Jemaah haji Indonesia diimbau agar hati-hati terutama saat dalam perjalanan untuk menghindari hal-hal yang tidak di­inginkan. Sementara itu, Sabtu (19/9/2015) besok, bus salawat akan dihentikan semen­tara. Bus masih beroperasi sampai sebelum zuhur untuk mengantar jamaah ke Masjidil Haram. Namun setelah zuhur, bus sudah ti­dak beroperasi lagi.

“Karenanya, jemaah diimbau agar waspada manakala akan memanfaatkan an­gkutan umum, utamanya terkait dengan ad­anya potensi lonjakan harga. Jemaah diimbau agar memanfaatkan waktu yang ada untuk beribadah dan beristirahat di pemondokan,” tuturnya.

(Yuska Apitya Aji)