Untitled-16PERMINTAAN Presiden Joko Widodo agar harga jual bahan bakar minyak (BBM) jenis Premium diturunkan, mulai berbuah manis. PT Pertamina menyatakan siap menanggung rugi demi memenuhi permintaan Presiden Jokowi tersebut.

ALFIAN MUJANI
[email protected]

Menurut Dirut PT Pertamina (Persero) Dwi Soetjipto, sepan­jang kinerja perusahaan ma­sih bagus, Pertamina mampu menanggung kerugian dari penjualan bensin Premium. “Tugas Pertamina kan demikian, sejauh secara corporate masih memiliki laba dan potensi berkembang kan nggak masalah,” kata Dwi Soetjipto, ketika ditemui di Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat (2/10/2015). Untuk tahun ini, Pertamina telah meraup laba sebesar USD 840 juta se­jak Januari sampai Agustus. “Artinya, perusahaan masih bisa memikul be­ban yang ada. Tapi manakala kondisi (ekonomi) sudah membaik, kita ber­harap harga Premium bisa naik lagi,” ucap Dwi.

Dengan harga Premium yang saat ini dijual Rp 7.300/liter (di wilayah Jawa Bali Rp 7.400/liter) pun Per­tamina sudah rugi. “Premium yang kita jual sekarang pada level di bawah tingkat keekonomian. Nanti akan kita lihat mana saja yang bisa kita turunk­an,” ujarnya.

Sejauh ini, Dwi sendiri belum tahu biaya-biaya apa saja yang dapat dief­isienkan supaya harga Premium bisa turun. ”Itu yang sedang dicari. Kita sudah berusaha untuk meningkatkan efisiensi,” katanya.

Baca Juga :  Kecelakaan Maut, Seorang Penumpang Motor Tewas Tertabrak Truk Fuso di Simpang Bandara Palembang

Meski demikian, Pertamina akan berusaha memenuhi keinginan Pres­iden Jokowi menurunkan harga Pre­mium untuk meringankan beban rakyat di tengah buruknya kondisi perekonomian nasional.

”Kita kan tugasnya mengevalu­asi kembali (harga Premium) dan sekarang sedang dilakukan kalkulasi, dihitung lagi opportunity kita melaku­kan penghematan. Nanti kita lihat,” tutupnya.

Sebelumnya, Presiden Jokowi melakukan rapat terbatas persiapan Paket Ekonomi Jilid III. Saat membu­ka rapat, Jokowi meminta para men­teri untuk menghitung apakah harga premium bisa diturunkan.

“Yang berkaitan dengan BBM di­hitung lagi Pertamina. Silakan Per­tamina, meskipun kemarin sudah diumumkan oleh Menteri ESDM, dalam keadaan negara membutuhkan tolong dihitung lagi, apakah masih mungkin yang namanya Premium itu diturunkan meskipun hanya sedikit,” ujar Jokowi.

Setoran Dividen Dikurangi

Untuk memenuhi permintaan Presiden Jokowi tersebut, Pertamina terus berupaya mencari cara agar harga BBM Premium bisa diturunk­an. Salah satu usulan Pertamina agar permintaan Jokowi tersebut bisa te­realisasi, adalah penurunan setoran dividen.

“Turunin dividen bagusnya (su­paya harga Premium turun). Sebagai korporasi kita berharap demikian, tapi kan keputusan tergantung peme­gang saham (pemerintah),” kata Dwi Soetjipto.

Baca Juga :  4 Orang Warga Cijeruk Bogor Tertimbun Longsor

Dwi meminta pengurangan dividen sebesar defisit yang ditang­gung Pertamina akibat penurunan harga Premium. “Sebaik mungkin. Tapi kan kita harus memahami kondi­si negara,” ucapnya.

Namun, dia menambahkan, Per­tamina tetap dapat menurunkan harga Premium sekalipun tak diiz­inkan mengurangi setoran dividen. Sebab, Pertamina masih mampu me­raup laba sampai USD 840 juta sejak Januari-Agustus tahun ini. “Artinya, perusahaan masih bisa memikul be­ban yang ada. Tapi manakala kondisi sudah membaik, kita berharap harga premium bisa naik lagi,” ujar Dwi.

Menurut Dwi, Premium yang di­jual Pertamina sekarang pada level di bawah tingkat keekonomian. ‘’Nanti akan kita lihat mana saja yang bisa kita turunkan,” tegasnya lagi.

Meski demikian, Pertamina ber­janji akan berusaha mencari cara untuk memenuhi keinginan Presiden Jokowi menurunkan harga Premium demi meringankan beban rakyat di tengah buruknya kondisi perekono­mian nasional.

“Kita kan tugasnya mengevaluasi kembali (harga premium) dan seka­rang sedang dilakukan kalkulasi, dihi­tung lagi opportunity kita melakukan penghematan. Nanti kita lihat,” tu­tupnya.

Harga Premium Selama Rezim Berkuasa

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono

1 Maret 2005

Premium : Rp1.810 - menjadi Rp2.400

Solar : Rp1.890 menjadi Rp2.100