Untitled-7Kenyamanan sudah barang tentu menjadi satu hal yang dicari dalam sebuah rumah tinggal. Untuk melengkapinya, mulailah mempertimbangkan dan menambahkan konten kesehatan dan ekonomis dalam konsep rumah tinggal, demi terciptanya keselarasan di dalam kehidupan.Bicara mengenai desain sebuah rumah tinggal, saat ini banyak yang mengacu kepada konsep ramah lingkungan. Seperti yang coba ditunjukan oleh arsitek Atelier Riri yang mendesain rumah bernafas atau ‘Breating House’. Seperti apa?

Oleh : Apriyadi Hidayat
[email protected]

Pemakaian energi pada sebuah proyek pem­bangunan pun dinilai terlampau besar, se­mentara ketersediaan bahan bakar minyak maupun listrik sedang dalam kondisi penghe­matan. Oleh karena itu men­jadi sebuah keharusan untuk mendesain sebuah bangunan berkonsep ramah lingkungan. Konsep green building atau bangunan ramah lingkun­gan menjadi tren dunia bagi pengembangan properti saat ini.

Seperti BOGOR TODAY lan­sir dari Archdaily, arsitek At­elier Riri mendesain sebuah rumah di kawasan Serpong, Tangerang Selatan. Sang pemilik rumah merupakan suami istri yang telah memi­liki dua anak. Mereka meng­inginkan sebuah hunian yang nyaman, ramah lingkungan, dan mampu merepresentasi­kan diri mereka. Karena itu, Atelier Riri, sang arsitek mem­buat “Breathing House” guna mengakomodasi keinginan tersebut.

Berlokasi di Griya Loka, sebuah area rimbun di ping­giran kota Jakarta, “Breathing House” fokus pada bagaimana udara dan cahaya bisa masuk secara natural ke dalam ru­mah. Fokus itu semakin nyata mengingat lingkungan di Griya Loka terkenal sebagai kawasan hijau.

Dibangun di atas lahan seluas 320 meter persegi, “Breathing House” terdiri dari tiga lantai dengan fung­si berbeda. Lantai pertama didedikasikan sebagai ruang publik yang dirancang untuk seolah-olah dapat bernapas melalui ventilasi besar pada pola lubang di beberapa ba­gian rumah.

Rumah yang dibangun pada 2014 ini berpusat pada satu ti­tik berupa lubang kosong be­sar yang memiliki atap kaca di atasnya. Di bawah atap kaca tersebut ada kolam renang yang bertujuan untuk menu­runkan suhu ruangan secara alami.

Lantai dua dijadikan sebagai kamar tidur pribadi, ruang ker­ja dan ruang tamu. Sementara itu lantai tiga berisikan taman atap sebagai tambahan ruang terbuka dan juga ruang untuk aktivitas outdoor keluarga.

Bahan-bahan alami dan ramah lingkungan seperti batu bata, gain reinforced ce­ment (GRC) dan logam daur ulang digunakan Atelier untuk mendapatkan desain baru kon­temporer “Breathing House.” Nuansa ramah lingkungan se­makin terasa dengan teknologi daur ulang air hujan untuk me­nyiram tanaman dan mencuci mobil.

Atelier mengharapkan “Breathing House” mampu mewakili identitas rumah kelu­arga modern yang ramah ling­kungan bagi orang Indonesia.

(KPS/Apri)