20141223_042935_Eva-ChairunissaJAKARTA, TODAY — Para pengguna jasa kereta listrik Bogor- Jakarta akan mendapat fasilitas tambahan jam keberangkatan. PT KAI Commuter Jabodetabek me­nambah 4 jadwal perjalanan KRL Commuter Line di perlintasan Bo­gor. Penambahan tersebut sudah mulai diterapkan Minggu (1/11/2015).

“Sehingga jumlah total perjalan­an pada lintas tersebut menjadi 391 perjalanan per hari,” ujar Manajer Komunikasi PT KCJ, Eva Khairuni­sa, melalui keterangan tertulisnya, Minggu (1/11/2015).

Eva mengatakan tahun ini PT KCJ juga menambah 120 unit kereta dari Jepang. Sebanyak 78 kereta su­dah tiba dan telah beroperasi setiap harinya.

Sampai saat ini, jumlah pen­umpang Commuter Line mencapai 800.000 sampai 850.000 penump­ang setiap hari. Dengan penamba­han jadwal kereta ini, Eva berharap PT KCJ dapat mencapai target penumpang.

“PT KCJ meng­harapkan penam­bahan perjalanan KRL ini dapat mengakomodir jumlah pengguna jasa yang terus meningkat. Sehingga target 1.2 juta penumpang pada tahun 2019 dapat terwujud,” ujar Eva.

Tarif Sampai Desember

Sementara itu, rencana PT KAI Com­muter Jabodetabek (KCJ) untuk menai­kkan tarif batal dilakukan hingga akhir tahun ini. Kementerian Perhubungan (Kemenhub) telah meminta PT Kereta Commuter Jabodetabek (KCJ) untuk ti­dak menaikkan tarif kereta “commuter line” atau KRL hingga akhir tahun ini.

Baca Juga :  Sopir Taksi Cabuli Bocah Perempuan di Kebayoran Lama

Sekretaris Jenderal Kemenhub, Sugihardjo, menegaskan, KCJ sebel­umnya telah mengajukan rencana ke­naikan tarif KRL dikarenakan kontrak dana PSO akan habis pada 18 Novem­ber 2015.

Meski demikian, Kemenhub ber­harap KCJ bisa menalangi terlebih dahu­lu biaya untuk menutupi tarif tersebut dengan jaminan dana PSO tambahan dibayarkan pada awal tahun depan. “Kita minta KCJ untuk menalangi da­hulu, sementara kita mengkoordinasi­kan kepada Kementeri Keuangan untuk membayarkan tahun depan,” katanya.

Menurut Sugihardjo, upaya terse­but dilakukan karena masyarakat be­lum bisa menerima kenaikan tarif di tengah kondisi perekonomian nasional dan global yang masih fluktuatif. “Ini seperti buah simalakama, enggak di­naikkan masyarakat belum bisa mener­ima, kalau tidak dinaikkan Kemenkeu dananya tidak ada,” katanya.

Dikorankan BOGOR TODAY sebe­lumnya, Kementerian Keuangan (Ke­menkeu) sendiri mengabulkan rencana tambahan dana public services obliga­tion (PSO) untuk kereta rangkaian lis­trik (KRL) comuter line yang diusulkan Kementerian Perhubungan. Hal ini di­lakukan untuk menghindari kenaikan harga tiket.

Menteri Keuangan, Bambang Brod­jonegoro mengungkapkan, pihaknya telah menyepakati pengajuan penam­bahan PSO tersebut. Namun, dana yang akan digunakan berasal dari Ke­menterian Perhubungan sendiri.

Baca Juga :  Resep Onde-Onde Wijen Isi Kacang Hujau yang Kenyal dan Empuk

Bambang menjelaskan, dana yang diambil untuk penambahan PSO ini nantinya akan diambil dari anggaran milik Kemenhub\. Hal ini dilakukan disebabkan penyerapan anggaran Ke­menhub masih terbilang rendah. “Itu nantinya relokasi di Kementerian Per­hubungan sendiri, saya sudah sampai­kan ke Pak Jonan. Jumlahnya ya sesuai usulan?,” kata Bambang.

Menhub Ignasius Jonan juga su­dah menemui Bambang Brodjonegoro untuk meminta penambahan subsidi untuk kereta commuter line sebesar Rp 160 miliar yang akan habis pada No­vember 2015.

Dengan adanya pertemuan itu di­harapkan nantinya ada tambahan ang­garan untuk commuter line. Menurut­nya, bila PSO tidak ditambahkan maka berdampak pada harga tiket yang akan dinaikkan.

Kata Jonan, jika harga tiket tidak dinaikkan maka nantinya berdampak pada penurunan pelayanan. Hal ini sangat berbahaya. “Kalau misalnya PSO-nya habis tidak bisa ditambah, ti­dak bisa ditagih tahun depan terpaksa harga tiketnya naik. Karena kalau tidak naik bahaya sekali, pelayanan bisa tu­run sekali,” tuturnya.

(Yuska Apitya Aji)