Untitled-8Perusahaan taksi terbesar di Indonesia, PT Blue Bird Tbk (BIRD) punya kiat khusus untuk menjaga loyalitas ribuan karyawannya. Manajemen perusahaan ini membagikan saham perusahaan kepada 5.300 karyawannya.

Oleh : Alfian Mujani
[email protected]

Memperingati satu tahun Tbk (perusahaan terbuka), cita-cita Perseroan memberikan kesejahteraan kepada semua pihak. Memberikan saham, salah satunya kepada stakeholders, kepada karyawan, pengemudi. Lima ribu tiga ratus karyawan Blue Bird ikut memiliki saham, lebih dari 2.000 orang di luar sana juga punya saham Blue Bird,” ujar Direktur Utama Blue Bird Noni S.A. Purnomo saat ditemui usai mem­buka perdagagan saham, di Gedung BEI, Jakarta, Kamis (5/11/2015).

Menurut Purnomo, melalui pemberian saham tersebut bisa terus meningkatkan kinerja para karyawannya sehingga bisnis perseroan ke depan se­makin berkembang. “Digarap­kan masa depan Blue Bird akan terus berkembang, kita terus terapkan Good Corporate Gov­ernance (GCG),” katanya.

Ke depan, kata dia, pers­eroan akan tetap fokus mem­perbaiki layanan yang telah ada. Persaingan di bisnis trans­portasi saat ini, menjadikan perseroan terus membenahi diri untuk memberikan lay­anan lebih baik.

“Menyambung persaingan yang ada, itu kalau motor (Go- Jek, Grab Bike) kan lebih cepat ya tapi pasti ada kekurangan juga. Aplikasi online, mereka memang canggih tapi yang penting itu mereka lakukan apa, kemudian kita juga laku­kan apa. Kita akan tingkatkan aplikasi kita agar lebih user friendly, itu kita akan tetap optimis. Aplikasi itu salah satu tools yang ada di Blue Bird, di Blackberry kita juga ada,” tan­dasnya. Hingga siang ini, harga saham Blue Bird naik 25 poin (0,36%) ke level Rp 6.925.

Siapkan Rp 1,5 Triliun

Blue Bird Tbk juga me­nargetkan bisa menambah sedikitnya 1.500 armada hingga akhir tahun ini. Perseroan me­nyiapkan dana sekitar sekitar Rp 1,5 triliun untuk memenuhi ekspansinya itu. Saat ini, sudah 1.200 armada terpenuhi.

“Untuk mobil kita tam­bah 1.500 armada, kalau dari awal tahun hingga sekarang penambahan armada secara total sudah 1.200, untuk di akhir tahun ini kita target­kan bisa 1.500, investasi total sampai akhir tahun Rp 1,4-1,5 triliun, semuanya dana inter­nal karena kita masih dari IPO masih kita pakai,” kata Direk­tur Keuangan Blue Bird Rob­ert R Rerimasie saat ditemui usai pembukaan perdagangan saham, di Gedung BEI, Jakar­ta, Kamis (5/11/2015).

Baca Juga :  Pecahkan Rekor MURI, Es Teh Indonesia Serentak Resmikan 50 Outlet di Indonesia

Dia menjelaskan, di tengah kondisi perekonomian yang tengah melambat, ditambah persaingan di bisnis transporta­si yang semakin ketat, pihakn­ya tetap berhati-hati dalam melakukan ekspansi.

Jika kondisi ekonomi mem­baik, kata Robert, tidak me­nutup kemungkinan perseroan akan melakukan ekspansi secara lebih agresif. “Kalau kondisi ekonomi membaik, maka kita akan terus menam­bah armada lebih banyak. Kita masih punya fasilitas perban­kan, belum sempat kita pakai, total fasilitas pinjaman kurang lebih Rp 1,2 triliun yang belum kita tarik,” kata Robert.

Investasi Stagnan

Operator taksi biru itu belum bisa ekspansi secara agresif di tahun depan. Den­gan melihat kondisi pereko­nomian saat ini yang tengah melambat, perseroan han­ya mematok nilai investasi melalui Capital Expenditure (Capex) di tahun depan sebe­sar Rp 1,5-1,6 triliun. Angka ini hampir sama dengan investasi di tahun ini.

“Capex, rencana ekspansi tergantung dari kondisi ekono­mi, terus terang kita melihat ekonomi di tahun depan belum bullish seperti 2013, 2014, tapi kita masih lihat ada perbaikan. Jumlah capex tidak jauh ber­beda seperti di tahun ini yaitu sekitar Rp 1,5-1,6 triliun,” ujar Robert.

Dia menyebutkan, dengan total investasi tersebut, pers­eroan akan menambah jumlah armadanya sekitar 1.600-1.700 unit. Angka tersebut tidak jauh berbeda dengan penambahan armada di tahun ini sebesar 1.500 unit.

“Nambah armada 1.600- 1.700. Barangkali penamba­han mobil kita tidak akan jauh berbeda dengan tahun ini, mungkin sedikit lebih berani karena konsensus ekonom mengatakan bahwa pertum­buhan ekonomi 5,2-5,3%, den­gan asumsi itu kita bisa berani sedikit lebih agresif, maka ta­hun depan tetap berhati-hati, kalau ternyata ekonominya tidak seperti yang kita harap­kan,” jelas dia.

Meski demikian, Robert me­nyebutkan, pihaknya masih berharap jika perekonomian tahun depan bisa lebih baik se­hingga kinerja perseroan bisa bergerak lebih kencang.

“Tapi kalau kondisi ekonomi membaik ya bisa lebih tinggi, pendanaan bisa dari bank dan uang internal, EBITDA Rp 1,4 triliun di September, dari segi pendanaan kita tidak punya permasalahan, uangnya siap,” imbuhnya.

Tambah 200 Mobilio

Blue Bird juga menghadir­kan armada yang lebih besar dengan muatan lebih banyak yaitu Honda Mobilio. Selama ini, armada yang digunakan mayoritas menggunakan mobil jenis sedan.

Baca Juga :  Merawat Tradisi Membuat Dandang Nasi

Honda Mobilio ini dikhusus­kan untuk mengantarkan pe­numpang dari dan ke bandara. Direktur Blue Bird Sigit P. Djokosoetono mengatakan, ke­hadiran armada Honda Mobilio ini untuk memberikan pilihan kepada masyarakat atas lay­anan Blue Bird.

Saat ini, total armada jenis Honda Mobilio mencapai 400 unit dan akan ditambah 200 unit di tahun ini. Perseroan tel­ah menyiapkan dana sedikitnya Rp 30 miliar.

“Mobilio ini baru di Jakarta dan juga akan ditambah di kota lain. Total Mobilio 400 unit, mau nambah 200, yang 200 dikali Rp 150 juta, jadi kira-kira Rp 30 miliar, tarifnya sama kay­ak reguler. Untuk Honda Mo­bilio itu bagus untuk airport, itu kan memberikan pelayanan lebih baik untuk pelanggan air­port,” terangnya.

Meski demikian, Sigit men­gatakan, porsi sedan akan tetap dominan dalam pelayanan Blue Bird. Selain menyediakan ar­mada Honda Mobilio, pihaknya juga menyediakan layanan mo­bil jenis MPV untuk muatan yang lebih besar. Tarif yang dikenakan pun sama.

“Tamu akan mendapatkan pilihan lebih baik, ada sedan, Mobilio, MPV. MPV tarifnya sama seperti reguler, kita satu tarif taksi baik MPV maupun reguler. Untuk MPV sendiri kita masih dalam tahap uji coba, saat ini ada 400 unit lebih, akan kita tambah, tapi tetap mayori­tas kendaraan sedan. MPV re­spons pasar cukup baik, teruta­ma customer airport fokus kita melihat banyaknya tamu dan barang yang bisa masuk MPV,” jelas dia.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama Blue Bird Noni S.A. Purnomo me­nambahkan, berbagai pilihan yang ditawarkan ini sekaligus menjadi strategi perseroan agar bisa tetap bersaing di bis­nis transportasi yang semakin ketat.

“Kita ada MPV, Silver Bird, ada sedan, Mobilio. Menyam­bung persaingan yang ada, itu kalau motor kan lebih cepat ya tapi pasti ada kekurangan juga, aplikasi online, mereka me­mang canggih tapi yang pent­ing itu mereka lakukan apa, ke­mudian kita juga lakukan apa, kita akan tingkatkan aplikasi kita agar lebih user friendly, itu kita akan tetap optimis, aplikasi itu salah satu tools yang ada di Blue Bird, di Blackberry kita juga ada,” tandasnya.

(detik finance)