Foto : Net
Foto : Net

RUMAH berwarna oranye, berlan­tai satu dan terlihat usang itu tam­pak sepi. Rumah itu menyimpan sejarah perjuangan seorang pahl­awan yang gugur di usia muda. Rumah di Jalan Panaragan Kidul nomor 25, Kota Bogor, Jawa Barat itu milik Kapten Tubagus Musli­hat. Dia gugur pada 25 Desember 1945 saat melawan tentara Inggris di Jalan Banten, Bogor saat usian­nya masih 19 tahun.

Tubagus Alpha (32), cucu Kap­ten Muslihat, bercerita, rumah di gang sempit ini sudah ditinggali 3 generasi yakni Kapten Muslihat, anak Kapten Muslihat yang berna­ma Merdeka, dan cucunya Tubagus Alpha. “Iya, rumah ini rumah kakek kami,” ungkap Tubagus Alpha.

Rumah tersebut merupakan saksi bisu dari perjuangan besar sosok Kapten Muslihat pada masa awal kemerdekaan. Untuk menjang­kaunya, harus melalui gang-gang kecil dari Jalan Panaragan Kidul, lo­kasinya sekitar 15 menit dari Terminal Merdeka.

Kondisi rumah tersebut sangat seder­hana. Bahkan di bagian atap, ada beber­apa plafon yang rusak. Cat pun banyak yang terkelupas. Meski begitu, suasana sejuk terasa, karena banyak pepohonan­nya.

Alpha tak mau banyak cerita soal kehidupan sang kapten dan keluargan­ya. Dia hanya mengatakan pemerintah hanya memberikan parsel di hari raya bagi keluarga Kapten Muslihat. Tak ada bantuan renovasi atau perbaikan rumah. “Tidak ada yang seperti itu. Paling, seta­hun sekali perwakilan dari Pemkot Bogor yang membawakan parsel pada saat Idul Fitri,” katanya.

Kapten Tubagus Muslihat dikenang karena keberaniannya melawan penjajah di tanah Bogor. Dia tak gentar bertempur di tengah desingan peluru hingga akh­irnya dia gugur di usia yang sangat muda. Namun, tak banyak dari generasi penerus yang tau, kehidupan pribadi Muslihat se­cara utuh. Berikut penggalan ceritanya.

Kapten Tubagus Muslihat. Namanya sangat terkenal di Kota Bogor, Jawa Barat. Namun tak banyak yang tahu tentang kisahnya yang gugur di usia muda saat berjuang untuk kemerdekaan.

Baca Juga :  Kabupaten Pidie Dilanda Angin Kencang, Tiang Listrik Tumbang sampai Atap Rumah Rusak

Jalan Kapten Muslihat yang berada di dekat Taman Topi selalu ramai dilalui warga Bogor. Jalan utama penghubung Stasiun Bogor dengan Istana Bogor itu ternyata menyimpan sejarah panjang perjuangan rakyat Bogor menuju ke­merdekaan. Nama jalan itu diambil dari nama pejuang Bogor yakni Kapten Tuba­gus Muslihat.

Dihimpun dari berbagai sumber do­kumentasi museum Perjuangan Bogor, Senin (26/10/2015), Kapten Muslihat lahir di Pandeglang 26 Oktober 1926. Ayahnya Tubagus Djuhanuddin adalah seorang kepala Sekolah Rakyat yang mendapat tugas di Bogor.

Muslihat pernah bekerja di Bosbouw Proefstation atau Balai Penelitian Kehu­tanan di Gunung Batu Bogor. Dia juga pernah bekerja di Rumah Sakit Kedung Halang Bogor menjadi juru rawat. Lalu pindah lagi ke Jawatan Kehutanan.

Saat itu Kota Bogor dikuasai tentara Jepang yang kemudian mendirikan pasu­kan PETA (Pembela Tanah Air). Muslihat ikut bergabung dalam PETA dan terpilih sebagai hudanco atau komandan seksi atau peleton.

Namun saat Kota Hiroshima dan Nagasaki dibom sekutu pada 14 Agustus 1945, tentara Jepang membubarkan PETA dan menyuruh anggota PETA yang ada di asrama untuk kembali ke kampung­nya masing-masing. Lalu pada 17 Agus­tus 1945 Presiden Soekarno dan Wapres Hatta memproklamirkan kemerdekaaan Indonesia.

Tentara Jepang banyak yang kembali ke negaranya dan situasi ini membuat semangat rakyat mengusir penjajah se­makin kuat. Kantor-kantor yang didudu­ki tentara Jepang berhasil direbut oleh pejuang dan beralih menjadi milik RI. Tak terkecuali Muslihat yang berjuang di Bogor dan dia diangkat menjadi Kap­ten dan ditugaskan sebagai Komandan Kompi IV Batalion II Tentara Keamanan Rakyat (TKR).

Meski sudah merdeka, Indonesia belum sepenuhnya bebas dari para pen­jajah. Setelah Jepang lengser, datang ten­tara Inggris. Mereka berhasil menguasai tempat-tempat utama.

Baca Juga :  Resep Kue Nona Manis Pandan Legit di Mulut

Di Bogor tentara Inggris mencoba merebut Istana yang waktu itu dijaga ketat oleh pemuda-pemuda Bogor. Mer­eka berhasil memasuki Istana Bogor dan memukul mundur para penjuang.

Tak tinggal diam dengan hal itu, te­pat pada 6 Desember 1945 rakyat Bogor melakukan pemberontakan. Dengan mengenakan bambu runcing, golok, ped­ang dan persenjataan seadanya mereka menyerang markas-markas yang didudu­ki Inggris.

Suara tembakan dan pekikan “MERDEKA” terdengar di setiap pertem­puran. Hingga akhirnya dua timah panas tentara Inggris membuat perjuangan Kapten Muslihat berakhir. Sang Kapten gugur di medan perang diusianya yang masih muda.

Kala itu 25 Desember 1945, Kapten Muslihat bersama dengan pasukannya melakukan penyerangan ke markas-mar­kas yang diduduki tentara Inggris dan sekutu, salah satunya kantor polisi yang berada di Jalan Banten.

Kontak senjata pecah. Pasukan Ing­gris dan para pejuang saling tembak. Kapten Muslihat keluar dari tempat persembunyiannya untuk melakukan penyerangan terbuka. Dia menembaki para penjajah dan sebagian tentara Ing­gris tumbang.

Dalam baku tembak itu, timah panas musuh berhasil menembus perut Kap­ten Muslihat. Namun Sang Kapten tetap berdiri menembaki para penjajah. Timah panas kedua kembali menembus ping­gang membuat Kapten Muslihat tum­bang. Darah bercucuran dan mengalir membuat kaos putih yang dikenakan berubah menjadi merah.

Sang Kapten gugur di usia 19 tahun dan meninggalkan istri yang tengah men­gandung. Jasa dan perjuangannya diaba­dikan menjadi nama jalan utama di Bo­gor yakni Jalan Kapten Muslihat di dekat Taman Topi dan dibuat patung khusus yang menggambarkan heroiknya Sang Kapten saat berjuang. Patung itu terletak di Plaza Taman Topi dekat Stasiun Bogor.

(Yuska Apitya Aji/net)