Untitled-6SIAPA bilang semua pabrik tekstil terpukul perlambatan ekonomi dan anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat? Buktinya PT Sri Rejeki Isman Tbk alias Sritex justru lari kencang. Di saat banyak perusahaan melakukan PHK, Sritex malah membuka 8.000 lowongan kerja untuk pabrik tekstil di Sukoharjo.

Oleh : Alfian Mujani
[email protected]

Perusahaan yang didirikan HM Lukminto (almarhum) ini memang sangat luar biasa. Di bawah komando Iwan Se­tiawan, anak laki-laki terbesar Lukminto, Sritex kian melesat. ‘’Sekarang kita mem­produksi pakaian militer untuk 30 negara di dunia,’’ ujar Iwan kepada Bogor To­day, Rabu (11/11/2015) yang dihubungi via telepon. Iwan sendiri kini tengah berada di Jerman untuk memperbarui kontrak pembuatan seragam tentara militer Jerman dengan Sritex.

Negara-negara besar yang selama ini mempercayakan se­ragam militernya ke Sritex anta­ra lain Prancis, Jerman, Italia, Inggris, Belanda, Belgia, Span­yol, Uni Emirat Arab, Kerajaan Arab Saudi, Irak, Iran, Australia, NATO, Jepang, Korea, dan ne­gara lainnya.

Itu sebabnya, meski kondisi ekonomi lesu yang membuat banyak perusahaan melaku­kan PHK, tidak berlaku dan tidak terjadi di Sritex. Emiten berkode saham SRIL, selain memproduksi pakaian militer (army uniform) juga menjahit fesyen merek ternama, seperti Zara dan Uniqlo, JC Peny.

Baca Juga :  Hotel Asana Grand Pangrango Hadirkan Promo Menginap Serta Food And Beverages

Karena begitu banyaknya pesanan, Sritex saat ini justru kekurangan karyawan untuk kedua pabriknya di Sukoharjo dan Semarang, Jawa Tengah. Saat ini, Sritex membuka lowon­gan untuk 8000 karyawan, khu­susnya untuk pabrik di Sidoarjo, untuk posisi penjahit hingga op­erator. Pabrik Sritex di Sukohar­jo menempati area 200 hektare.

“Saat banyak perusahaan tekstil PHK karyawan, kita be­lum ada sama sekali, yang ada kita malah kurang tenaga kerja, susah nyari tenaga kerja,” kata Presiden Direktur Sritex Iwan Setiawan yang sempat mengiku­ti acara Investor Summit 2015, di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), sebelum bertolak ke Jer­man.

Iwan menambahkan, lesu­nya perekonomian global serta banjirnya tekstil impor ilegal, tak berpengaruh pada pen­jualan perseroan. Sebaliknya, perusahaan malah tengah giat-giatnya menambah kapasitas produksi sehingga perlu banyak tenaga kerja baru.

Baca Juga :  Merawat Tradisi Membuat Dandang Nasi

“Kita buka loker (lowongan kerja) 8.000 orang, terutama buat pabrik kita di Sukoharjo, belum dapat-dapat sampai sekarang. Kita malah susah cari karyawan baru karena banyak pabrik-pabrik baru di Sukohar­jo. Paling banyak untuk opera­tor mesin jahit,” kata Iwan.

Pabrik tekstil terbesar di Asia Tenggara yang dibangun mulai dari dua kios tekstil di Pasar Klewer Solo itu, memang tak pernah berhenti melakukan inovasi. Mulai dari inovasi di bidang produk seperti mencip­takan kain antipeluru dan anti infra merah untuk military uni­form, juga tak pernah berhenti memperbaharui teknologi mes­in tenun tektil.

Bahkan Sritex juga mulai bergerak ke industri hulu den­gan mengembangkan industri rayon. Salah satu pabrik rayon yang sudah rampung diban­gun Sritex berada di atas area 100 hektare, dekat perbatasan dengan Kabupaten Wonogiri. ‘’Kami juga sedang melakukan pengembangan perkebunan yukaliptus untuk bahan serat rayon,’’ ujar Iwan.