20151113_120012Jangan anggap remeh gado-gado dan soto mie Bogor. Dua jenis makanan tradisional Indonesia ini, punya banyak penggemar. Di Bogor, gado-gado dan soto mie menjadi makanan favorit.

Oleh : Alfian Mujani
[email protected]

Banyak orang datang dari Jakarta ke Bogor hanya untuk menikmati gado-gado dan soto mie. Makanan ini memiliki segmen pasar yang sangat luas, mulai masyarakat kelas bawah hingga masyarakat kelas atas menggemari makanan ini. Maka, jangan heran jika dua menu ini dijadikan usaha, akan meraih hasil yang menakjubkan.

‘’Dengan menekuni usaha gado-gado dan soto mie, saya bisa menyekolahkan tiga anak saya hingga sarjana,’’ ujar Lalan, pemilik usaha Gado-gado dan Soto Mie Bogor Bu Lalan kepada Bogor Today, Jumat (13/11/2015).

Wanita paruh baya ini, awalnya hanya berjualan soto mie di Gang Aut, kawasan Suryakancana, Keca­matan Bogor Tengah. Dari kedai soto mie-nya ini La­lan membiayai semua kebutuhan hidup keluarganya, termasuk membiayai sekolah anak-anaknya.

Usaha soto mie di Gang Aut milik Lalan selalu ra­mai pengunjung, dari Senin sampai Minggu. Kedai ini sudah memiliki pelanggan tetap yang sangat loyal. ‘’Sekarang kedai soto mie saya di Gang Aut dikelola oleh pegawai saya,’’ ujar Lalan.

Baca Juga :  Merawat Tradisi Membuat Dandang Nasi

Lalan sendiri, dari hari Senin sampai Jumat berada di Kedai Gado-gado Bu Lalan Jalan Pajajaran, Kota Bo­gor, persis di depan RM Rumah Gadang. Tempatnya sangat sederhana dan kecil, sekitar ukuran 2 x 4 me­ter. Kursi yang disediakan untuk pembeli juga tidak banyak, hanya 6 kursi saja. Jika pembelinya datang dalam jumlah besar seperti pada jam-jam makan siang, Lalan meminjam meja makan yang berada di dalam RM Rumah Gadang.

Itu sebabnya, pelanggan Gado-gado Bu Lalan kebanyakan membeli untuk dibawa pulang (take away). ‘’Biasanya kalau pas istirahat jam kantor, yang datang sangat banyak. Mereka saya persilakan untuk makan di dalam restoran Rumah Gadang. Atau mer­eka memesan gado-gado untuk dibawa pulang,’’ ujar wanita berusia 50 tahun ini.

Setiap hari Gado-gado Bu Lalan bisa menjual lebih dari 50 porsi. Jika sedang ada pesanan dari kantoran atau orang punya acara, bisa mencapai 100 porsi. Harga perporsinya Rp 15.000. Yang menarik, jam buka gado-gado Bu Lalan ini tidak terlalu lama, mulai jam 10 pagi hingga jam 14 saja. ‘’Kadang-kadang sam­pai jam 3 sore kalau lagi sepi,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Merawat Tradisi Membuat Dandang Nasi

Gado-gado buatan Lalan memiliki rasa yang khas. Rasa asamnya pas dan bumbu kacangnya sangat lezat. Yang menarik, sayur-sayuran yang digunakan Lalan selalu segar, dijamin tidak akan basi meski membelin­ya sudah menjelang tutup.

Lalan rupanya punya kiat jitu untuk menjaga agar sayur-sayuran dalam gado-gadonya tetap segar dan ti­dak basi. ‘’Anak saya yang mengajari agar sayuran yang disajikan tetap segar. Kebetulan anak saya ada yang bekerja sebagai juru masak di Hotel Harris Sentul,’’ ujar perempuan yang tampak selalu bersemangat ini.

Caranya, lanjut Lalan, sayuran direbus sedikit-se­dikit. Maksimal untuk membuat gado-gado 20 porsi. Kalau bisa, sayuran direbus untuk setiap 10 porsi. ‘’Ka­lau sudah habis, kita rebus lagi. Karena itu, saya selalu menyiapkan kompor di kedai gado-gado. Dengan cara ini, sayuran tetap segar dan tidak basi,’’ ujarnya.