Foto : Net
Foto : Net

KONDISI keamanan Kota Paris, Prancis, belum dipastikan steril, pasca serangan brutal teroris Jumat(13/11/2015). Namun demikian, rencana helatan The United Nations Climate Change Conference (COP21) yang akan dihelat di Paris awal bulan depan, tetap akan dilangsungkan di tengah ancaman teror.

RISHAD NOVIANSYAH|YUSKA APITYA
[email protected]

Wakil Ketua DPRD Kota Bogor, Heri Cahyono, mengatakan, COP21 adalah pertemuan untuk menggagas rasio rumah kaca yang menimbulkan pemanasan global. Seluruh negara diundang untuk menghadiri helatan ini. “Kami diundang mewaliki Bogor. Ada dua orang delegasi. Saya dan Pak Untung (Ketua DPRD Kota Bogor) mewakili Bogor,” kata dia, Minggu (15/11/2015).

Politikus Golkar ini menegaskan, sampai hari ini, belum ada surat pembatalan atau perubahan jadwal. “Kami tetap berangkat. Jika ada pencegahan atau pembatalan acara, tentunya kami tidak jadi berangkat. Tapi, kami optimis, otoritas Prancis bisa mengamankan situasional di sana. Pertemuan ini penting untuk masa depan iklim dunia,” kata dia.

Sementara itu, Peneliti Bidang Restorasi Sumber Daya Alam dan Hutan pada Center for International Forestry Research (CIFOR) Bogor, Dr Hari Priyadi menjelaskan, konferensi di Paris akan tetap berjalan dengan peserta yang mencapai 50.000 orang. “Ini kan memang kegiatan rutin setiap tahun. Indonesia juga pernah jadi tuan rumah di Bali tahun 2007 lalu. Dengan adanya teror di sana, pemerintah Prancis sih berkomitmen untuk tetap melaksanakannya,” kata Hari kepada Bogor Today, Minggu (15/11/2015).

Menurutnya, dampak konferensi ini bagi Indonesia ialah bagaimana negara-negara industri dalam mengurangi dampak gas rumah kaca yang bisa berakibat pada naiknya air laut dan menenggelamkan pulau-pulai di area pasifik. Termasuk Indonesia.

“Ini kan juga untuk kepentingan Indonesia sebagai negara industri dan Asia Pasifik yang bisa saja tenggelam jika air laut terus naik akibat pemanasan global dengan mencairnya gletser. Makanya efek rumah kaca harus terus dikurangi hingga ke level wajar,” kata dia.

Hari menambahkan, CIFOR sendiri bakal menggelar Global Landscape Forum (GLF) yang akan dihadiri sekitar 3000 peserta. “GLF merupakan platform terkemuka untuk menyatukan individu dan organisasi yang berdampak pada penggunaan lahan. Diharapkan, ini menjadi pertemuan terbesar di sela UNFCCC COP21,” pungkasnya.

Sementara itu, mahasiswa Indonesia yang saat ini berada di Paris diminta untuk pulang ke Tanah Air. KBRI di Paris mengimbau WNI untuk meningkatkan kewaspadaan, menghindari wilayah-wilayah rawan dan agar tidak terlibat atau ikut dengan kelompok-kelompok radikal. Bagi warga negara Indonesia yang memerlukan informasi dapat menghubungi KBRI Paris, melalui Yoseph Tutu di hotline KBRI Paris: +33621122109 atau melalui Hotline Kemlu: +6281289009045.

Pasca aksi teror brutal yang menewaskan 129 orang dan melukai 352 orang Jumat (13/11), kondisi negara berjuluk Kota Mode itu memang berangsur normal. Presiden Amerika Serikat Barack Obama juga disebut akan tetap menghadiri The United Nations Climate Change Conference (COP21) yang akan digelar di Paris.

Baca Juga :  Bejat! 10 Anak Panti Asuhan di Batam Dicabuli Guru Mengaji, Seorang Anak Melapor ke Ibunya

Dilansir dari reuters.com, Minggu (15/11/2015) sumber resmi Amerika Serikat menyatakan Obama akan tetap menghadiri acara tersebut meski telah terjadi serangan teror di 3 lokasi sekaligus di kota Paris pada Jumat lalu.

Acara Climate Change Conference akan dibuka secara resmi pada 30 November di Le Bourget, di kawasan tepi utara Paris. Fokus utama pembahasannya yakni pada perubahaan iklim global.

Obama dijadwalkan hadir bersama kepala negara lainnya di Paris pada 30 November hingga 1 Desember mendatang. Para diplomat mengharapkan di akhir acara ini bisa tercapai kesepakatan baru untuk mengurangi emisi global.

Di lain kesempatan, Menteri Luar Negeri Prancis Laurent Fabius sudah menyatakan Konferensi COP21 akan tetap dijalankan sesuai rencana. Keamanan pun akan ditingkatkan untuk acara ini. “COP21 (Paris Climate Conference) harus dilaksanakan,” katanya Fabiu.

Pengamanan Mulai Longgar

Suasana ibu kota Prancis itu terlihat tenang. Di kota itu, jalanan masih penuh lalu-lalang mobil. Anak-anak muda di Distrik 19, Paris, tepatnya di Quai de La Seine, masih ramai nongkrong atau melewati trotoar. Tak terlihat aparat keamanan di jalan. Sesekali saja beberapa polisi dan tentara berpakaian hitam-hitam tampak di halaman depan gedung pemerintah.

Presiden Prancis Francois Hollande mengumumkan penutupan semua perbatasan Prancis, termasuk pintu masuk Paris begitu menyatakan negara dalam keadaan darurat. Sebanyak 1.500 tentara dikerahkan untuk membantu polisi menjaga keamanan. Dalam pernyataannya, seperti dikutip Fox News, Sabtu, 14 November 2015, Hollande menyebut ini adalah yang pertama dalam sejarah Prancis setelah Perang Dunia II.

Hollande sendiri nyaris menjadi korban serangan karena berada di Stade de France, menonton pertandingan persahabatan Prancis melawan Jerman. Di luar stadion itu, ada bom meledak. Hollande langsung diungsikan oleh sejumlah pasukan khusus.

Selain stadion, ada lima lokasi lain yang juga menjadi sasaran. Yang paling parah terjadi di Gedung Konser Bataclan. Saat itu sedang berlangsung konser band asal Amerika Serikat, Eagles of Death Metal.

Semua pemeriksaan imigrasi juga berjalan normal, tak ada penjagaan ketat atau penambahan pasukan keamanan untuk berjaga, seperti yang diumumkan pemerintah Prancis. Meskipun, di banyak media, sebagian negara-negara di sekitar Prancis menyebut mulai melakukan penambahan pengamanan.

Pemerintah Belgia, misalnya, menahan sejumlah tersangka di Brussel, yang diduga membawa sejumlah barang di dalam kendaraan yang dicurigai terkait dengan serangan di Paris. Di Jerman, seperti dikutip Reuters, pada Sabtu kemarin, seseorang ditangkap di Bavaria karena membawa senjata dan bahan peledak di dalam mobilnya.

Hingga berita ini dikorankan, otoritas resmi Prancis menyebut korban tewas penyerangan di Paris sebanyak 129 orang. Sedangkan korban luka 352 orang, 99 orang di antaranya kritis.

Update terbaru ini disampaikan oleh jaksa penuntut di Paris yang menyelidiki terorisme tersebut, Francois Molins, Sabtu (14/11/2015) waktu setempat. Jumlah ini meningkat dibandingkan pengumuman PM Hollande sebelumnya yang menyebut 127 orang tewas.

Baca Juga :  Masuk Kualifikasi, 64 Tim Kembali Berlaga di Tournament Erick Thohir MLBB 2022

Sebagaimana dilansir BBC, Molins juga mengungkapkan bahwa serangan dilakukan oleh “tiga tim yang saling berkoordinasi”.

Salah satu tersangka yang meledakkan diri setelah menembaki orang-orang di gedung pertunjukan Bataclan diidentifikasi bernama Ismael Omar Mostefai (29), seorang warga Prancis. Ayah dan saudara lelaki Mostefai sekarang telah ditahan polisi Paris. Korban tewas terbanyak jatuh di Bataclan yaitu sekitar 89 orang. Saat penembakan terjadi, di gedung itu sedang digelar pentas musik Eagles of Death Metal asal AS.

Selain gedung konser itu, terdapat 5 lokasi lainnya yang menjadi titik serangan. Ini merupakan serangan terburuk di Prancis sejak PD II.

Menurut AFP, serangan ini dilakukan oleh 7 orang, 6 orang di antaranya kemudian meledakkan diri dan 1 orang tewas ditembak polisi. Penyelidik di Prancis, Belgia, Yunani dan Jerman saat ini berusaha mengusut siapa mereka, bagaimana mereka beraksi dan mengapa.

Presiden Francois Hollande menuding kelompok Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) berada di balik serangan yang menewaskan 129 orang ini. Bahkan Hollande menyebut serangan itu sebagai ‘suatu aksi perang’. “Ini sebuah aksi perang… yang dilakukan oleh pasukan teroris, Islamic State, melawan Prancis, melawan… apa yang kita sebut, sebuah negara bebas,” kata Hollande.

ISIS pun mengaku sebagai kelompok yang bertanggung jawab di balik serangan berdarah itu. Bahkan ISIS tetap menjadikan Prancis sebagai target utama.

Sebagaimana dilansir Reuters, Minggu (15/11/2105), ISIS menyatakan serangan Jumat (13/11) malam itu dirancang untuk menunjukkan Prancis tetap dalam kondisi bahaya. Jika tak mau jadi terget ISIS, Prancis harus mengubah kebijakannya. Ada enam lokasi yang diserang kelompok teroris pada Jumat lalu. Lokasi serangan dengan korban terbanyak yakni 89 tewas adalah Bataclan. Bataclan adalah tempat pertunjukan kesenian bergengsi dan legendaris dengana kapasitas 1.500 kursi.

Bataclan terletak di 50 Boulevard Voltaire di Arondisemen ke-11 Paris, Prancis. Dibangun pada tahun 1864 dan baru dibuka pada tanggal 3 Februari 1865. Gedung yang dirancang oleh Charles Duval bergaya Chinoiserie atau gaya klasik natural yang abadi. Dahulu gedung ini menjadi tempat pertunjukan dansa.

Dihimpun dari berbagai sumber, Bataclan dahulu dimiliki oleh orang Yahudi bernama Pascal dan Joel Laloux. Namun setelah 40 tahun mereka memiliki, gedung tersebut dijual pada September 2015.

Bataclan juga pernah menjadi target orang-orang anti Israel. Orang-orang tersebut menganggap, Bataclan merupakan tempat yang sering dipakai untuk acara-acara pro-Israel.

Lokasi kedua yang diserang kelompok teroris adalah stadion bola Stade de France. Tiga bom meledak di luar stadion saat berlangsung pertandingan sepak bola persahabatan antara kesebelasan nasional Prancis melawan Jerman. (*)