B2-(8)BOGOR, Today – Bak konsep pendidikan pesantren, Sekolah Menengah Pertama (SMP) Is­lam Terpadu Birrul Waalidain hanya menerima siswi khusus puteri. Tak mau kecolongan, seko­lah yang sangat kental dengan pendidikan Agama Islam ini memproteksi para sisiwinya dengan aturan yang terbilang unik.

Kendati begitu, segala aturan yang diterapkan untuk melindungi anak-anak didiknya ini dari ke­mungkinan terburuk dan sesuai dengan syariat Agama Islam, apalagi pergaulan muda mudi saat ini seolah sudah tidak dapat dikontrol lagi.

Hebatnya, meski baru berdiri sejak 2012 dengan aturan yang ketat, tidak menyurutkan minat para orangtua untuk menitipkan anak-anaknya di sekolah Birrul Waalidain. Pasalnya setiap tahun murid bertambah, meskipun pi­hak sekolah hanya membatasi penerimaan 30 murid saja.

Penambahan itu nampak pada saat pertama kali penerimaan siswi dengan total Ketika dite­mui, Kepala Sekolah SMP Islam Terpadu Birrul Waalidain, Sumiyati menjelaskan jika kebijakan sekolah hanya menerima pelajar putri saja, kare­na siswi puteri itu jauh lebih mudah diarahkan dibanding laki-laki.

Demi menjaga anak didiknya itu, sekolah tak tanggung-tanggung memberikan aturan dilarang membawa alat komunikasi ke sekolah, kecu­ali alat komunikasi yang hanya bisa melakukan panggilan dan pesan singkat saja.

“Tingkat kekhawatiran kami tinggi, hal ini untuk mengantisipasi karena kami tidak mau sesuatu yang buruk terjadi kepada puteri-puteri kami. Apalagi anak-anak sekarang sudah pintar-pintar kalau menggunakan gadget, dan semua aturan ini sudah sesuai dengan syariat Agama Is­lam,” ungkapnya.

Tak hanya itu, sambung Sumiyati, staf pen­gajar juga memfollow semua media sosial murid-muridnya. Dengan begitu aktifitas media sosial anak-anak sekolahnya dapat terus terpantau. “Kami juga melakukan komitmen kepada orang­tua di rumah, agar orangtua membatasi jam-jam penggunaan internet bagi anak-anaknya saat di­rumah,” tambahnya.

Uniknya lagi, dalam proses memverifikasi murid-murid baru, pihak sekolah memberikan beberapa persyarata, salahsatunya persyaratan belum pernah berpacaran.

“Aturan disini juga tidak boleh berpacaran, jadi pada saat melakukan penyeleksian murid baru, kami selalu bertanya apakah sudah pernah pacaran atau belum, kalau sudah pernah pacaran mungkin akan dipertimbangkan lagi. sebab hal ini masuk ke dalam Fiqih Islam, dan sudah kewa­jiban,” kata dia.

Ia berharap, dengan menempa anak didiknya dengan pendidikan dan aturan ketat mampu mencetak perempuan Islam yang mampu men­jaga akhlaknya. Itu mengapa meskipun sudah ada angkatan yang lulus, pihak sekolah tidak mau lepas komunikasi demi melindungi alumni-alumninya itu.

Kendati demikian, seluruh siswi yang menun­tut ilmu di Birrul Waaliadain nampak sangat menikmati proses pembelajaran disana.

(Latifa Fitria)