alfian mujani 240SEORANG murid kelas 2 SD ini tak henti-henti men­galirkan air mata saat guru menghukumnya berdiri di pojok kelas sambil berkata keras: “Inilah murid bo­doh, contoh anak yang orang tuanya tak pernah memperhatikan pendidi­kannya.” Murid yang di­hukum itu adalah murid puteri yang bajunya sederhana sekali. Sepatu­nya lusuh dan tasnya pun cuma plastik bekas yang dilipat-lipat sebisanya.

Jam dua siang ternyata anak itu tak sam­pai rumah. Kakeknya datang ke sekolah men­cari cucunya. Kepala sekolah tak tahu, guru kelasnyapun tak tahu. Anak itu kabur karena malu dimarahi si guru tadi. Semua mencari. Pojok tiap kelas sudah dicari, anak itupun tak diketemukan. Pojok kelas bukan tempat yang pas menyimpan malu.

Si kakek mengajak guru dan kepala se­kolah ke kompleks pemakaman, tempat tera­khir yang layak diduga anak itu bersembunyi. Ternyata benar, si anak tengkuran di antara dua kuburan sambil menangis: “Ibu, bapak, temani aku. Aku bodoh tanpa ibu bapak. Bangunlah ibu, bangunlah bapaaaaak.” Rupanya anak itu yatim piatu. Guru kelas itu menyesal telah melukai hatinya. Berhati-hatilah menegur dan mengkritik, karena kita sering tak paham kondisi dan suasana hati seseorang seutuhnya.