Untitled-15Pelajaran penting yang diperoleh dari Ratu Sakti adalah prinsip dasar kepemimpinan yang harus bertegak di atas etika. Spirit melakukan recovery pembangunan, tidak bisa dilakukan dengan cara-cara otoriter. Semua harus berpijak pada aturan, sebagaimana telah diteladani oleh Prabu Siliwangi dan Prabu Surawisesa.

Oleh : Bang Sem Haesy

HAL lain? Proses pengambilan keputusan tidak bisa dilakukan hanya berdasarkan kewenan­gan dan semangat melakukan percepatan pemulihan kead­aan selepas krisis. Khasnya krisis ekonomi dan politik.

Carita Parahiyangan mem­beri catatan khas tentang Ratu Sakti: Aja tinut de sang kawuri pola sang nata. Maknanya, siapapun yang memimpin Bogor kemudian tidak boleh meniru perilaku raja yang satu ini. Esensi dari catatan ini adalah bagaimana seorang pem­impin harus teguh menjaga dan memelihara diri dari tahta, harta, dan wanita. Ketiganya membuat seseorang menjadi terlena.

Salah satu hal yang mem­buat Ratu Sakti turun tahta adalah pengambil alihan atas harta wajib pajak, yang kemu­dian diserahkannya kepada orang lain yang memberikan upeti kepadanya. Termasuk mengambil hutan perdikan, lalu diserahkan kepada orang lain untuk mengelolanya. Meskipun memberi penda­patan bagi kerajaan, tetapi tindakan demikian telah me­nyebabkan kawasan perdikan mengalami alih fungsi.

BACA JUGA :  Menu Makan Siang dengan Kare Ayam Kampung Berbumbu Khas Jawa yang Bikin Ketagihan

Kawasan perdikan sebagai kawasan keunggulan, tempat orang memusatkan perhatian pada proses pembelajaran ten­tang ilmu pengetahuan agama, dihapuskan begitu saja. Teru­tama, karena dianggap tidak memberi dampak langsung terhadap ekonomi.

Meskipun secara ekonomi keadaan Pajajaran membaik, tapi sikap otoriter Ratu Sakti telah menyebabkan terjadinya ketidak-adilan. Digambarkan dalam Carita Parahiyangan, sepeninggal Ratu Sakti (1551), yang diwariskannya kepada Prabu Nilakendra atau To­haan Majaya adalah : wong huma darpa mamangan, tan igar yan tan pêpêlakan. Para petani menjadi serakah akan makanan, dan tidak merasa tenteram ketika menanam. Mereka was-was, hasil produk­si akan dirampas begitu saja. Terutama, karena beragam jenis pajak, seperti calagra, kapas timbang, dan pare dong­dang diatur semau-maunya.

Bagi Nilakendra, warisan Ratu Sakti memang tak berbi­lang nilainya. Ia pun sempat mengikuti kebiasaan Ratu De­wata dan Ratu Sakti: ngibuda sanghyang panji, mahayu na kadatwan, dibalay manelah ta­man mihapitkeun dora laran­gan. Memerintahkan pegawai membuat bendera keramat (untuk menghormati Ratu Dewata), dan memperindah keraton (peninggalan Ratu Sakti) dengan membangun ta­man berbalay – memperluas infrastruktur yang diapit ger­bang larangan.

BACA JUGA :  Ini Dia Identitas Mayat Siswi Berseragam SMA yang Ditemukan di Mesuji

Tak hanya itu. Nilakendra juga meneruskan dengan : mi­gawe bale bobot pitu welas jajar tinulis pinarada warnana cacaritaan. Mendirikan ban­gunan megah 17 baris yang di­hiasi dengan emas, yang meng­gambarkan bermacam-macam cerita (kedigjayaan) masa lam­pau.

Kepemimpinan Nilaken­dra tidak lebih baik dari dua pemimpin sebelumnya. Re­covery ekonomi dan men­ingkatnya pendapatan tidak mendorongnya melakukan tindakan produktif. Kesenan­gan berpesta pora, membuat petani dipaksa mengolah nira untuk kepentingan yang berbeda dengan masa Prabu Surawisesa, karena kali ini diproduksi menjadi tuak untuk kepentingan pesta. Cai tining­kalan nidra wisaya ning bak­sakilang : Air yang memabuk­kan menjadi pelengkap makan dan minum.

Secara sinis digambarkan, Nilakendra tak berminat mem­pelajari ilmu pengetahuan, kecuali pengetahuan tentang kuliner : tatan a gamagyan ke­waliya mamangan sadrasa nu surup ka sangkan beunghar.

============================================================
============================================================
============================================================