
“Tahun lalu (2015, red) produksi aspal mencapai 42 ribu ton dan batu 26 ribu meter kubik. Nah tahun ini, kami tingkatkan untuk aspal 52 ribu ton dan batu 250 ribu meter kubik. Dari situ, diperkirakan bisa mencaÂpai keuntungan 8 hingga 10 persen,†ujar Radjab.
Selama ini, kata dia, PPE baru bisa menutupi kerugian dalam tiga tahun terakhir. Radjab menargetkan, BEP sendiri bisa dicapai pada 2018 mendatang. “Kami tutup dulu keruÂgiannya. Mulai 2017, menuju BEP. Mudah-mudahan tahun 2018 nanti BEP bisa tercapai,†lanjutnya.
Ia menambahkan, PPE telah mereformasi struktur organisasi unÂtuk mengurangi beban operasional. Salah satunya, kata dia, dengan melebur unit bisnis alat berat denÂgan penambangan. “Jadinya biaya produksinya semakin minim dan omset bisa meningkat,†ujarnya.
Ketua Gabungan Pengusaha SeluÂruh Indonesia (Gapensi) Kabupaten Bogor, Enday Dasuki mengungkaÂpkan, PPE tidak mungkin mampu memenuhi kebutuhan pembangunan di Bumi Tegar Beriman. Enday tidak menampik, jika kualitas aspal yang dimiliki PPE cukup mampu bersaing.
“Kalau bicara bisnis, pasti mereÂka mengklaim kualitas produknya yang terbaik dong. Tapi, saya rasa, PPE tidak akan mungkin untuk meÂmenuhi kebutuhan pembangunan Kabupaten Bogor,†kata Enday keÂpada Bogor Today.
Ia menambahkan, PPE juga harus memperbaiki pelayanan dan harga untuk bersaing dengan proÂdusen lainnya.
“Ada beberapa pengusaha yang tergabung di Gapensi membeli dari PPE. Kalau ingin laku keras, mereka harus mendongkrak pelayanan dan harganya supaya bersaing. Karena kualitasnya kan tidak kalah juga,†tandasnya. (*)
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















