alfian mujani 240SEPERTI sering diung­kap, ternyata bahagia itu tidaklah mahal. Ia hanya mensyaratkan kelegaan dada dan kelapangan hati untuk menjalani hidup ikhlas. Cobalah tersenyum dan ucapkan terima kasih kepada orang yang ada di samping kita. Perhati­kan perubahan suasana hati kita dan suasana hati orang di sekitar kita.

Ada seorang suami yang mengeluhkan sikap isterinya yang jarang sekali bersahabat semenjak dia di-PHK dari tempat kerjanya. Seorang bijak menyarankan, agar dia membia­sakan senyum dan bersyukur, termasuk bersy­ukur memiliki isteri yang masih mau menjadi pendamping. “Berterimakasihlah kepada is­terimu, dan minimum setiap selesai makan.”

Tiga bulan kemudian suami isteri ini senyum-senyum. Isterinya berkata: “Mohon doanya, saya hamil lagi. Berkahnya suami sering ada di rumah. Kami sudah lama men­dambakan tambah anak karena si sulung su­dah sekolah SMA. Tapi suami saya mungkin terlalu sibuk kerja, jadi gak jadi-jadi. Sete­lah lama ada di rumah tidak kerja kecuali pekerjaan rumah tangga, Alhamdulillah bisa menghamili. Ini berkah PHK. Suaminya pun berucap Alhamsulillah. (*)