Pacha-Pic-2SAAT ditemui di suatu acara sosial di Taman Giriloka Serpong Banten, beberapa waktu lalu, Pacha Chalwanka, musisi asal Peru yang sudah malang melintang di dunia seni musik tradisional bercerita banyak ke­napa ia begitu cinta Indonesia. Laki-laki asal Arequipa, kota di pegunun­gan Peru sekitar 1014.6 km dari ibukota Lima ini sudah lama tertarik pada musik etnik sejak pertama kali mendengarnya di radio tahun 1984.

Oleh : Nia S. Amira
[email protected]

Tiga bulan setelah belajar dari seorang teman, Pacha yang berusia 49 tahun yang memang berbakat dalam ber­musik ini sudah dapat memainkan Zampoña, Quena, Chilis, Maltas, Bastos, Ma­rimachas, Semi-Toyos, dan Toyos dan musik etnik inilah yang mengantarnya hingga ke Indonesia. Tahun 1989 merupakan awal bag­inya bermain musik secara serius dan ia terus menggali bakatnya lewat penampilan di ber­bagai tempat dan kesempatan.

Tahun 1991, Pacha yang sekilas mirip Ariel Noah ini memulai karirnya sebagai mu­sisi profesional dengan bermain musik etnik Peru di Portugal, Spanyol, dan Jepang. Pacha konsisten dengan pilihannya, memainkan musik etnik Peru meski harus bersaing den­gan pertunjukkan musik modern dan selalu membawa pernak-pernik khas suku Inca sep­erti bandana dan baju tradisional. Penyuka warna biru ini melanjutkan karirnya di Brazil selama kurun waktu 1991-2002 bersama grup musik etnik Peru.

Cita-cita laki-laki yang pernah menetap selama tiga tahun di Jepang ini sangat seder­hana, ia ingin memperkenalkan musik etnik Peru kepada masyarakat luas. Meski sudah sering tampil di layar kaca TV nasional di Indonesia, Pacha masih ingin tampil lebih banyak lagi di depan publik karena ia merasa Indonesia merupakan tempat yang paling cocok dan strategis untuk memperkenalkan musik etnik Peru ke manca negara, paling tidak ke seluruh belahan Asia dan ia men­ganggap ini merupakan bagian dari tanggung jawabnya sebagai orang yang memiliki darah Inca.

Indonesia bagi Pacha sudah menjadi rumah keduanya apalagi ada banyak persa­maan budaya antara Peru dan Indonesia. Ia bahkan menambahkan jika perkuburan di Tanah Toraja mirip sekali dengan perku­buran Ventanillas de Otuzco yang ada di Peru. Selain bermain musik, Pacha kini disi­bukkan juga dengan aktivitasnya sebagai motivator hidup sehat bersama rekannya Vive Charmente yang giat mendorong orang untuk selalu hidup sehat dengan mengkon­sumsi suplemen khusus.

Pacha mudah beradaptasi dengan orang Indonesia yang menurutnya ramah dan penuh kekeluargaan. Saat ditanya apa makanan favoritnya, laki-laki santun ini men­jawab dengan penuh semangat bahwa selain Ceviche (masakan khas Peru sejenis ikan yang dimasak dengan perasan jeruk lemon) ia sangat menyukai rendang dan gulai ayam masakan Padang dan minuman teh dingin rasa buah leci.

Saat memainkan nomor instrumentalia Andean, musik dari Inca, suku nenek moy­angnya berasal, Pacha bisa memainkannya dengan sangat baik meski tidak diketahui sia­pa penulis lagu itu dan apa kisah dibaliknya. Musik adalah bahasa yang universal; hanya waktu, arah, serta melodi yang dibuat indah yang selalu dapat memberikan karya yang begitu menawan dan menyentuh perasaan bagi siapapun yang mendengarnya.

Dengarkanlah musik Pacha, dan biarkan­lah ia terus memainkannya hingga hembusan angin dingin pegunungan Andes membawa jiwa serta pikiran kita jauh ke Peru.

Lagu Sunquyman yang dalam bahasa Quechua (bahasa suku Inca) berarti Ha­cia mi Corazon dalam bahasa Spanyol atau Menuju Hatimu ini menutup penampi­lan Pacha di hari yang cukup panas penuh dengan letu­pan perasaan yang bercampur antara Peru dan Indonesia, antara Andes dan Bromo.