BETAPAPUN Barat melepaskan atribut agama dari paradigmanya tentang alam dan manusia, yang memang dipengaruhi oleh rasionalisme naturalistik dan dualisme cartesian. Namun kita tidak selayaknya memandang sebelah mata, ketika paradigma itu memberikan keberhasilan yang gemilang bagi mereka.

Oleh: Ahmad Agus Fitriawan
Guru MTs. Yamanka Kec. Rancabungur Kab. Bogor

Hal ini disebabkan, karena paradigma Barat lebih melihat pada lapangan em­piris dari pada in­tuisi. Betapapun intuisi itu benar, mereka tetap meragukannya se­belum dibuktikan secara empiris. Bagi mereka lapangan empiris adalah lapangan logis dan ilmiyah dalam merealisasikan suatu teori dan konsep ilmu pengetahuan.

Mungkin faktor inilah yang dapat memberikan kontribusi bagi pemikir-pemikir muslim dalam upaya mengembangkan sinyalemen-sinyalemen wahyu yang banyak membicarakan ilmu pengetahuan. Dalam hal ini, mis­alnya, ketika manusia dikatakan sebagai khatifah fi al-Ardh, maka bagaimana lapangan empiris membuktikannya ketika manusia berada dalam kegamangan anta­ra idealitas dan realitas. Dan juga ketika manusia dikatakan sebagai makhluk yang lebih hina dari pada binatang, lalu bagaimana lapangan empiris membuktikan­nya ketika manusia berada antara dua sisi kebaikan dan kejahatan, kemuliaan dan kehinaan.

Pada dasamya wahyu hany­alah sebagai motivator di samp­ing petunjuk bagi manusia untuk merealisasikan apa yang menjadi kebaikan bagi manusia itu sendi­ri. Ketika manusia dikatakan se­bagai khalifah sudah selayaknya manusia itu menuju kepada po­sisi kekhalifahannya. Dan ketika manusia dikatakan sebagai makh­luk yang lebih mulia, maka sudah semestinya manusia itu mempo­sisikan dirinya sebagai makhluk yang mulia dan tetap menjaga kamuliaannya itu agar tidak ter­jatuh pada kehinaan.

Dalam hal ini filsafat Iqbal meletakkan semua kepercayaan pada manusia yang dilihatnya memegang kemungkinan tak ter­batas. Kemampuan mengubah dunia dan dirinya sendiri. Den­gan ini Iqbal membuka gambaran masa depan yang menakjubkan, ia memerdekakan manusia dengan mengajarinya bagaimana menjadi tuan nasibnya sendiri.

Menurutnya kemanusiaan adalah tujuan menuju terciptan­ya suatu rasa ideal individu, akan tetapi datangnya manusia unggul tidak akan mungkin hingga ego melampaui proses yang men­cakup tiga tahap yang bisa dibe­dakan: (a) ketaatan kepada hu­kum, (b) penguasaan diri sendiri yang merupakan bentuk tertinggi kesadaran diri tentang pribadi dan (c) kekhalifahan Ilahi. (Luce, 1996: 37)

Manusia unggul adalah khali­fah Tuhan sempurna, puncak kehidupan mental maupun fisik. Dalam dirinya ketidaklarasan kehidupan mental kita menjadi keharmonisan. Kemampuan ter­tinggi bersatu dalam dirinya men­jadi pengetahuan tertinggi. Dalam dirinya pikiran dan perbuatan, naluri dan nalar menjadi satu.

BACA JUGA :  KECURANGAN PPDB TERUS BERULANG, BAGAIMANA SOLUSINYA

Oleh karena itu, Islam bu­kanlah masalah yang terpecah-pecah, ia bukanlah cuma pikiran, perasaan, atau perbuatan, tetapi ia adalah “pengungkapan keselu­ruhan manusia”. Ia juga bukan satu agama dalam arti kata bi­asa, namun ia adalah satu filsafat hidup yang berusaha menjaga perkembangan pribadi yang har­monis dan tranformasi kemanu­siaan.

Dengan demikian, manusia unggul adalah makhluk yang ber­pikir, dan dengan bakat transen­dentalnya ia tumbuh dalam kes­adaran akan dunia dan dirinya, serta keadaran akan kondisi ma­nusiawinya dalan dunia, dalam masyarakat, dan dalam waktu. Berdasarkan inilah Islam mem­bangun pola pendidikan, yang tidak terlepas dari pandangan filosofisnya, yang mencakup tiga hal, di antaranya adalah: Per­tama, Ontologi; yang membahas asal-usul kejadian alam nyata dan di balik alam nyata. Kedua, Episti­mologi; yang membahas tentang kemungkinan manusia mengeta­hui gejala alam. Dan ketiga, Ak­siologi; yang membahas tentang sistem nilai-nilai dan teori nilai atau yang disebut etika.

Dari ketiga pandangan fi­losofis ini, Islam menerapkan beberapa prinsip yang menjadi pola dasar pendidikannya, di antaranya adalah: Pertama, Is­lam memandang bahwa segala fenomena alam ini adalah hasil ciptaan Allah dan tunduk pada hukum-hukum mekanisme-Nya sebagai sunnatullah. Oleh karena itu manusia harus dididik agar mampu menghayati dan menga­malkan nilai-nilai dalam hukum Allah itu.

Kedua, Islam memandang manusia sebagai makhluk yang paling mulia, karena memiliki harkat dan martabat yatrg ter­bentuk dari kemampuan-kemam­puan kejiwaannya, di mana akal budi-nya menjadi tenaga peng­gerak yang membedakan dari makhluk lainnya.

Ketiga, Islam memandang manusia bukan saja makhluk pribadi, melainkan juga makhluk sosial, yang berarti makhluk yang harus hidup sebagai anggota masyarakat sesamanya. Watak sosial yang dibentuk oleh Allah dalam pribadi manusia yang se­cara psikologis sosial disebut ho­mososius yang memiliki instink dregarius (suka berkumpul) dan dalam bahasa Islamnya disebut ummatan wahidatan (umat yang satu).

Keempat, Islam memandang bahwa manusia adalah pribadi-pribadi yang mampu melak­sanakan nilai-nilai moral agama dalam hidupnya, dalam arti nilai-nilai yalg menjadi doktrin Islam yang dijadikan dasar bagi proses pendidikan yang berlangsung sepanjang hayat. (Langgulung, 1992 :78)

Oleh karena itu, amat sangat sejalan sekali dengan pemikiran-pemikiran yang dilontarkan oleh dua filosof Muslim terkenal yaitu Ibnu Sina dan Ibnu Khaldun yang sangat terkonsentrasi per­hatiannya terhadap bagaimana anak didik itu seharusnya diper­lakukan, oleh karena mengingat anak didik sebagai manusia yang mulia, makhluk yang berfikir, dapat dipengaruhi oleh heredi­tas dan lingkungan, memilliki motivasi dan kebutuhan, me­miliki perbedaan individu, dan selalu berubah. Keduanya meng­gambarkan tentang bagaimana perlakuan anak didik yang seha­rusnya dilakukan oleh setiap pen­didik.

BACA JUGA :  KECURANGAN PPDB TERUS BERULANG, BAGAIMANA SOLUSINYA

Dalam hal ini mereka sepakat bahwa: Anak didik harus diberi­kan pengetahuan agama sedini mungkin dan dilatihnya dengan baik, diberikannya suri tauladan baik di rumah, di sekolah, mau­pun di dalam masyarakat, diben­tuk karakteristiknya dan selan­jutnya dihindari dari pengaruh buruk. Begitu pula seorang pen­didik harus sensitif terhadap ke­cendrungan, tabiat, dan gharizah anak didiknya, kemudian dideka­ti dengan bahasa mereka dan supaya pendidik memerankan dirinya sebagai orang tua mereka yang menjadi tempat curahan ka­sih sayang. (Nasution, 1988: 65)

Dengan dernikian, pola pen­didikan humanisme Islam dapat diterapkan dan diaplikasikan dalam bentuknya yang dinamis dan inovatif. Pendidikan Islam mendasarkan diri pada teosen­tris, yaitu berinspirasikan pada wahyu Alqur’an dan Sunnah dalam melaksanakan proses bela­jar mengajar sebagai upaya mem­bina dan membentuk anak didik yang dicita-citakan oleh Alqur’an dan Sunnah.

Pendidikan Islam bertujuan membangun kehidupan duni­awi, sebagai wujud pengabdian kepada Allah SWT. Maka proses belajar mengajar diarahkan pada pembentukan dan pengemban­gan daya kognitif, afektif dan psikomotorik anak didik.

Pendidikan lslam memperior­itaskan pada nilai-nilai kebenaran mutlak yang disimbolkan melalui imtak dari pada kebenaran relatif yang disimbolkan melalu iptek, agar dengan itu anak didik mam­pu menumbuh-kembangkan po­tensi ilahiyahnya yang berdasar­kan pada imtak dan iptek dan menekan gerak potensi bahimi­yahnya yang berdasarkan pada iptek.

Inilah upaya merealisasi­kan keinginan manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, agar tidak terdistorsi dan terde­viasi dari fitrahnya sebagai ma­nusia, makhluk yang lebih tinggi dan mulia dari makhluk lainnya, Islam menampilkan sebuah para­digma pendidikan melalui pers­pektif humanismenya yang jus­tru mengangkat dan memuliakan kedudukan manusia sejalan den­gan fitrahnya sebagai Khalifah fi al-Ardh dan pengemban amanat Ilahi.

Hasan Langgulung, Asas-Asas Pendidik, (Jakarta: Pustaka Al- Husna, 1992), cet. ke-1.

Miss Luce-Claude Maitre, In­troduction to the Thought of Iqbal, alih bahasa Djohan Effendi, (Ja­karta: Mizan, 1996), cet. ke-4.

Muh. Yasir Nasution, Manu­sia manurut Al-Ghazali, (Jakarta: Raja Wali Press, 1988), cet. ke-1.

======================================
======================================
======================================