image-(73)Tim liputan Bogor Today berkesempatan untuk berbincang bersama Bimo, salah satu dari tiga pemilik kedai kopi mungil nan imut di sudut D’Palma GuestHouse. Letaknya tidak jauh dari belokan Sempur, bersinggungan dengan Jalan Jalak Harupat, berada persis di persimpangan antara Jalan Halimun, sebelum kantor RRI Bogor.

Taufan Sulaeman
([email protected])

Dengan mengusung konsep desain interior rustic industrial yang ramah lingkungan, se­jalan pendapat Bimo, bahwa bagus tidak harus mahal, dan barang-barang yang di-recycle pun bisa jadi bagus, serta memanfaatkan barang-barang yang ada di sekitar. Maraca yang dalam bahasa Sunda berarti ‘membaca bersama-sama’ ini menawarkan remote working space yang menyatu dengan alam. Lo­kasinya yang cukup strategis berada di salah satu sisi Kebun Raya Bogor, menjadikan kedai kopi sekaligus ru­ang baca ini cukup asri untuk dikun­jungi. Soft opening sejak Maret 2016, Maraca yang awalnya buka pada sore hari, atas permintaan pengunjung­nya kemudian bergeser ke jam op­erasional mulai pukul 09.00 sampai 22.00.

Menawarkan menu-menu cemi­lan bahkan beberapa santapan cuk­up berat, menjadikan Maraca sebuah kafe yang sebenarnya tidak ingin ter­jebak dengan label. “Tidak terlalu masalah dengan sebutan orang mau bilang Kita warung kopi, coffee shop, atau apa. Yang pasti, kalau kopi Kita memang agak lebih banyak pilihan menunya.” Ungkap Bimo, ke­pada Bogor Today.

Pilihan kopi di Maraca mulai dari yang espresso based, single origin kopi-kopi Nusantara, yang dari pili­han-pilihan tersebut diharapkan bisa jadi minuman untuk dapat dinikmati sesuai selera segmen pengunjung Maraca. “Orang-orang yang suka mi­num kopi dan baca buku, tanpa pan­dang usia,” katanya.

Beberapa hal yang menjadi per­hatian Bimo dalam mengelola tempat ini supaya dapat tetap berjalan baik, yakni mengenai rasa, komunitas, dan engagement. Tentang rasa, Bimo sangat berharap menu-menu yang disajikan di Maraca terjaga kualitas­nya supaya pengunjung mau kembali datang karena rasanya yang enak.

Soal komunitas, beberapa acara art workshop dan pertemuan rutin telah masuk jadwal Maraca untuk beberapa bulan ke depan. Menge­nai engagement sendiri, Bimo masih konsisten melakukannya sampai de­tik ini; memuat foto beberapa pen­gunjung regulernya lengkap dengan profesi dan kutipan kata mutiara mereka, yang kemudian mengung­gahnya ke akun media sosial Maraca.

“Saya ingin mengenalkan, ini lho orang-orang Bogor, yang bisa dite­mui kalau ngopi di Maraca,” terang Bimo, menggenapi soal strategi en­gagement tersebut.

Menawarkan sebuah tempat al­ternatif untuk membaca buku dan bertemu orang, bukanlah tanpa per­juangan. Bermodalkan pengalaman Bimo menjadi barista waktu kuliah di Jogja, Della yang suka membaca dan koleksi buku baik online maupun offline, serta Feni yang aktif dengan kesenian dan media sosialnya, men­jadikan para pemiliknya memban­gun Maraca Books & Coffee seperti sekarang ini.

Rasio modal awal paling besar dialokasikan untuk tempat berjang­ka waktu sewa perdua tahun, den­gan tiga kali angsuran pembayaran. Modal selanjutnya untuk biaya reno­vasi secara keseluruhan, baik inte­rior, eksterior, maupun konstruksi, termasuk penambahan daya listrik hingga 5500Watt.

Persoalan listrik juga lah yang ke­mudian membuat Bimo dan rekan-rekan akhirnya memutuskan untuk menggunakan teknik manual brew­ing yang hemat listrik selain itu juga ramah lingkungan. Cukup merogoh Rp. 2,5juta rupiah saja, alat hand-espresso manual pun siap dikirim dari daratan Eropa sampai tiba di Indonesia. Dengan total kisa­ran modal awal senilai Rp. 250juta-an rupiah, dalam waktu kurang dari sebulan operasionalnya telah berja­lan, lima sampai enam persen darin­ya sudah dapat diperoleh.

Iklim kopi di Bogor yang ramah usaha pula lah yang menjadi pertim­bangan Bimo dan kawan-kawan un­tuk lebih mendukung kopi Nasional sebagai komoditas utama dari Mara­ca. “Kalau Bogor makin ramai, makin banyak yang datang ke sini, karena tempat ngopinya banyak, mereka jadi punya pilihan,” ujarnya sambil memaparkan beberapa fasilitas stan­dard yang ditawarkan.

Salah satu fasilitasnya adalah Wi- Fi (Wireless Fidelity) yang memang disediakan sebagai bentuk dukungan terhadap para pengunjung, terutama bagi mereka yang sibuk supaya tetap dapat remote working, menjadikan Maraca sebagai salah satu pilihan un­tuk outdoor dan indoor co-working space. Di samping itu juga tersedia mushola untuk beribadah, serta wastafel juga toilet. Bagi pengunjung yang mungkin hendak ibadah berja­maah, tersedia pula mushola yang lebih besar di D’Palma GuestHouse yang bangu­nannya masih berada di area yang sama.

Saat ini kapasitas pengun­jung Maraca adalah 10-15 orang untuk indoor, dan 15-20 orang untuk outdoor. Bimo pun menyam­paikan rencananya untuk menam­bah area di bagian samping untuk menyiasatinya.

Untuk promo sendiri, Mara­ca bekerjasama dengan D’Palma menawarkan voucher 20 persen dis­count bagi semua tamu dari Guest­House tersebut, induk semang yang juga menyewakan tempat bagi coffee shop dengan koleksi buku untuk di­baca di tempat yang cukup lengkap. Ada sekitar 100 judul dengan berb­agai macam jenis bacaan, mulai dari buku-buku sastra, filsafat, psikologi, sampai coloring book for adult pun tersedia di Maraca Books & Cof­fee, lengkap dengan pensil dan alat pewarna lainnya.

Beberapa menu andalan yang menjadi favorit bagi pengunjung Maraca antara lain ada V60 manual brew & Vietnam Drip untuk kopinya, Waffle Ice Cream, Croissant, & Muf­fin untuk cemilannya, serta Chicken Butter Rice untuk makanannya. Bagi mereka yang tidak minum kopi, bisa juga menikmati pilihan minuman lainnya seperti Ice Lychee atau Ice Peach Tea.

Dengan kisaran harga kopi dari Rp. 14.000– Rp. 25.000, cemilan dari Rp. 5.000-Rp. 26.000, sedangkan makanannya mulai dari Rp. 24.000, memantapkan konsep yang me­mang menjadi pegangan awal mula berdirinya coffee shop ini, bahwa sesuatu yang berkualitas tidaklah ha­rus selalu mahal.

Usai obrolan singkat dan ringan tim liputan Bogor Today bersama Maraca Books & Coffee, ada pesan yang masih terus terngiang-ngiang sampai artikel ini ditulis. Yakni bagaimana menjadikan kopi Indone­sia sebagai tuan di negerinya sendiri. Seperti halnya yang dilakukan oleh Bimo dan kawan-kawan, untuk terus mendukung kopi dan juga petani Indonesia, demi kesejahteraan yang lebih baik bagi Kita semua. (*)

======================================
======================================
======================================