
Ayat 15 dari surat An Nisaa’ menggambarkan betapa tegasnya Islam memberikan sangsi dan huÂkuman bagi pelanggaran moral berupa perzinahan atau pelaÂcuran. Sebab keduanya akan meÂnimbulkan berbagai kerusakan kehidupan manusia dan rumah tangga. Selain itu perzinahan dan pelacuran juga akan menimbulÂkan berbagai penyakit kelamin yang tidak terobati. Karena itu Allah menurunkan hukuman raÂjam bagi pezina. Bahkan jika perÂzinahan dan riba telah merajalela, maka itu artinya manusia telah siap mendatangkan azab Allah bagi mereka, begitu hadis Nabi menuturkan. Meski begitu Allah senantiasa menerima taubat hamÂba-hambaNya yang melakukan perbuatan keji karena kebodoÂhannya (QS An Nisaa’ : 15-17).
Ironisnya dalam prinsip-prinÂsip hukum sekuler, perzinahan dan pelacuran dianggap sebagai hal asasi manusia sepanjang tiÂdak mengganggu kepentingan orang lain. Pelacur bahkan diangÂgap sebagai pekerjaan dengan menyebut mereka sebagai peÂkerja seks komersial. Perzinahan yang dilakukan oleh sepasang manusiapun tak dianggap delik, karenanya tidak ada sangsinya. Bedakan dengan sikap Islam terÂhadap perbuatan keji itu. Islam memberikan solusi tuntas jika nilai ajarannya diterapkan untuk mengatur kehidupan manusia.
Islam bahkan memberikan keistimewaan kepada perempuan untuk tidak diberikan beban yang menyusahkan mereka. Islam juga memberikan keistimewaan dalam memberikan perlakukan yang memuliakan mereka. Sebab untuk menanggung beban hamil, melahirkan dan membesarkan seorang anakpun telah merupakÂan bebab dan perjuangan berat bagi seorang perempuan. Karena itu perempuan tidak dibebankan untuk keluar rumah mencari nafkah. Islam telah membagi tuÂgas kepada laki dan perempuan secara seimbang dan keduanya sebagai sahabat yang harus saling menopang dan melengkapi seÂcara harmonis dan penuh kebaiÂkan. Pada ayat 28 surat An Nisaa’, Allah menegaskan bahwa Allah hendak memberikan keringanan kepada manusia, karena sesungÂguhnya manusia itu bersifat leÂmah dan terbatas.
Islam dengan seluruh ajaran mulianya adalah petunjuk bagi seluruh manusia sebagaimana telah diberikan kepada Rasul seÂbelumnya. Islam adalah ajaran lurus yang menyelamatkan siapa saja yang ridho tunduk mentaatÂinya. Sebab Allah adalah Tuhan Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana. Begitu indah Allah menggambarkan kasih sayangÂnya kepada umat manusia demi menyelamatkan manusia dalam QS surat An Nisaa’ ayat 26. SeÂmestinya manusia yang berakal mampu mencerna pesan-pesan ilahi ini, lantas tunduk mentaatÂinya, jika masih merindukan keÂdamaian, keselamatan, dan kebaÂhagiaan hidup di dunia maupun di akherat.
Harmonisasi antara laki-laki dan perempuan dibangun oleh Allah justru untuk kebaikan maÂnusia itu sendiri. Ada hikmah besar dibalik hukum-hukum AlÂlah. Ironisnya, kehidupan sekuler justru memantik kecemburuan perempuan kepada laki-laki atas nama materialism. Sekulerisme lantas mendorong perempuan untuk ikut memburu materi dengan meninggalkan tugas mulia dirinya sebagai ibu yang mendidik anak-anak di rumah. Akibatnya kesetaraan gender ala sekulerisme telah merusak senÂdi-sendi harmonisasi keluarga. Kasus perselingkuhan dan perÂceraian akibat motif materialisme kian hari kian meningkat di negÂeri ini. Padahal Allah Maha Tahu atas hukum-hukumNya.
Dalam hal ini Allah telah menÂegaskan dalam Surat An Nisaa’ ayat 32, “ Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniÂakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebaÂhagian yang lain. (karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi Para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha menÂgetahui segala sesuatuâ€.
Islam mengajarkan bahwa laki-laki adalah pemimpin yang menjaga dan melindungi peremÂpuan, bukan orang yang justru menzolimi perempuan, apalagi sampai memperkosa dan memÂbunuh perempuan. Laki-laki dengan kelebihan yang Allah berikan seharusnya justru dapat memberikan ketenangan dan keamanan bagi perempuan. Kekuatan mental dan tenaga seorang laki-laki adalah potensi kepemimpinan laki-laki terhadap perempuan. Pemimpin yang baik adalah mereka yang menjaga, meÂlindungi, melayani, menafkahi, dan membahagiakan perempuan dengan penuh kesungguhan dan tanggungjawab. Allah menetapÂkan kelebihan laki-laki sebagai pemimpin terhadap perempuan dalam QS An Nisaa’ ayat 34.
Karena itu gerakan kolektif berkaitan dengan keselamatan perempuan begitu sempurna dalam Islam. Dimulai dari ketÂaqwaan setiap individu yang melahirkan kontrol sosial yang kuat, dilanjurkan dengan harÂmonisasi pergaulan dan hak keÂwajiban keduanya hingga kepada larangan dan sangsi tegas dari negara terhadap perilaku keji (pornografi, miras dan perzinaÂhan) merupakan sistem sosial yang akan mampu menjadikan perempuan mulia dalam pelukan nilai-nilai Islam.
Sebaliknya penerapan sistem nilai yang sekuleristik atau atheÂistik justru akan menjadikan perempuan terhina oleh perilaku kejinya serta tak mendapatkan perlindungan dari perilaku laki-laki terhadapnya. Wajar jika kasus pemerkosaan dan pembunuhan yang menimpa Yuyun-Yuyun di negeri ini tak kunjung berakhir. Selama negeri ini masih memeliÂhara sistem hidup sekuleristik ini, maka kemuliaan dan perlindunÂgan perempuan hanyalah sebatas mimpi di siang bolong. Mari lindÂungi dan muliakan perempuan dalam pelukan Islam. Sebab, janji Allah adalah sebuah kebenaran mutlak. (*)
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















