
PESTA perkawinan yang dihelat di pinggir jalan raya itu berubah menjadi petaka. KeceriÂaan berganti kesedihan ketika sebuah mobil pick up merobohkan tenda, menabrak mati tiga orang dan memÂbuat puluhan lainnya luka-luka.
Polisi bertanya keÂpada sopir, mengapa menabrak kerumunan orang yang sedang pesta? “Maaf Bapak, satu sisi saya salah karena rem mobil saya blong. Saya terpaksa harus nabrak. Di sebelah kiri ada seorang kakek tua yang sedang berjaÂlan memikul krupuk, sementara di sebelah kanan ada perhelatan pesta perkawinan itu,’’ jawab sopir.
Polisi itu menimpali, “Harusnya kamu berfikir logis dan atas dasar prioritas. MesÂtinya kan lebih memilih nabrak satu orang ketimbang nabrak banyak orang.†Sopir itu merasa tak ada yang salah dengan cara berpikirnya. Dia menjawab, “Bapak, cara berpikir kita sama bahwa harusnya kakek itu yang ditabrak. Masalahnya, kakek itu lari menuju pesta itu ketika tahu saya akan menabraknya. Jadi saya kejar kakek itu, maÂkanya pesta itu kena tabrakan saya.â€
Polisi tadi kaget, marah bercampur geli. Ternyata penyelesaian akhir dari cara berÂpikir itu menjadi penentu hasil akhir. (*)
Bagi HalamanFollow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















