Cara Berpikir

alfian mujaniPESTA perkawinan yang dihelat di pinggir jalan raya itu berubah menjadi petaka. Keceri­aan berganti kesedihan ketika sebuah mobil pick up merobohkan tenda, menabrak mati tiga orang dan mem­buat puluhan lainnya luka-luka.

Polisi bertanya ke­pada sopir, mengapa menabrak kerumunan orang yang sedang pesta? “Maaf Bapak, satu sisi saya salah karena rem mobil saya blong. Saya terpaksa harus nabrak. Di sebelah kiri ada seorang kakek tua yang sedang berja­lan memikul krupuk, sementara di sebelah kanan ada perhelatan pesta perkawinan itu,’’ jawab sopir.

Polisi itu menimpali, “Harusnya kamu berfikir logis dan atas dasar prioritas. Mes­tinya kan lebih memilih nabrak satu orang ketimbang nabrak banyak orang.” Sopir itu merasa tak ada yang salah dengan cara berpikirnya. Dia menjawab, “Bapak, cara berpikir kita sama bahwa harusnya kakek itu yang ditabrak. Masalahnya, kakek itu lari menuju pesta itu ketika tahu saya akan menabraknya. Jadi saya kejar kakek itu, ma­kanya pesta itu kena tabrakan saya.”

Polisi tadi kaget, marah bercampur geli. Ternyata penyelesaian akhir dari cara ber­pikir itu menjadi penentu hasil akhir. (*)

Bagi Halaman

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================