BANDUNG TODAY– Kasus reÂklamasi Teluk Jakarta yang menÂgakibatkan rusaknya kawasan Bogor mendapatkan reaksi keras dari Anggota DPD RI asal Jawa Barat, Dra. Ir. Eni Sumarni, Mkes. Senator Wanita Sunda itu bahkan mengatakan mengutuk keras kegiatan pembangunan yang tidak memikirkan dampak lingkungan. Hal itu dikatakannya dalam wawancara khusus dengan Bogor Today di kediamannÂya, Kampung Warung Ketan, Situ Raja, Sumedang, Selasa (21/06).
“Karena itu saya mengutuk keras pembangunan yang tidak memperhitungkan sustainable development. Yaitu pembanÂgunan yang berkelanjutan,†kaÂtanya, menegaskan.
Soalnya, menurut dia, BoÂgor dipakai untuk pembanguÂnan perumahan saja bisa meruÂsak eko sistem. Apalagi kegiatan pengerukan tanah besar-besaÂran seperti ini. Akibatnya keruÂsakan terjadi tidak hanya di lokaÂsi tempat pengambilan tanah, tapi juga jalan-jalan yang dilalui oleh 3000-an truk setiap hari.
Dikatakannya, semua ini terjadi dan sekarang jadi “rame†kan karena birokrasi. Birokrasi ini mau dibawa kemana? Mereka itu penentu. Kalau birokrasinya tidak memiliki wawasan lingkunÂgan yang jauh ke depan, ya mereÂka mikirnya hanya hari ini saja. “Karena itu, saya minta kepada seluruh jajaran birokrasinya. Terkait dengan perijinan-periÂjinan eksploiotasi, apalagi yang besar-besaran seperti ini, tolong dipikirkan dengan matang. ToÂlong berpikir ulang untuk menanÂdatangani ijin. Jangan berpikirnya hanya hari ini saja. Harusnya analisis dampak lingkungan dulu yang diajukan oleh investor. JanÂgan uang dulu,†lanjutnya.
Dijelaskannya, dalam meÂmutuskan pemberian ijin bagi kegiatan seperti ini, harusnya tidak seperti ini. Kalau kita lihat ke Inggris atau ke eropa misÂalnya, tidak ada bangunan yang aneh-aneh. Rumah-rumah kuno itu justru yang dimanÂfaatkan. Tapi di kita justru diÂlakukan pembangunan besar-besaran, dengan menggusur dan menghapuskan bangunan yang sudah ada. Bangunan-banÂgunan yang mungkin memiliki nilai sejarah.
Dalam hal ini, sama juga dengan pembangunan di suatu tempat yang menimbulkan kerusakan di daerah yang lain, sebagaimana kasus reklamasi Teluk Jakarta ini. “Di sana, restoran-restoran mewah tidak ada, seperti di mall-mall yang begitu banyak di negara kita. Di sana restoran-restoran mungkin sepÂerti warteg di sini, tapi dibuat mewah, berkelas, dengan tetap mempertahankan keaslian banÂgunan. Karena di sana lebih memperhitungkan “clean govÂernantâ€. Jadi semua clean, di pemerintahan maupun lingkunÂgannya,†paparnya.
Dalam kesempatan yang sama, Senator wanita ini juga menyindir pucuk pimpinan pemerintahan di Jawa Barat yang “cicing†(diam) saja dalam meÂnyikapi persoalan ini. Diakuinya, selama ini hanya Wagub Dedi Mizwar saja yang melakukan protes. Yang lain, bahkan para anggota dewan juga diam saja.
Memang benar, akunya, sejauh ini hanya Wagub yang sempat protes. Itu kan karena Pak Wagub kita ini seorang toÂkoh yang peduli lingkungan, seorang budayawan. Seorang budayawan itu yakin bahwa di alam itu harus ada keseimbanÂgan. Kalau ada eksploitasi yang tidak beraturan, tentu akan menimbulkan ketidakseimbanÂgan. Nah, itu yang belum ketÂemu.
Karenanya, mengingat begitu besarnya dampak keruÂsakan lingkungan bagi wilayah Bogor diakibatkan kegiatan reklamasi itu, Senator Eni juga menyentil Gubernur Ahmad Heriyawan (Aher) dan para anggota dewan Jawa Barat yang tidak melakukan protes apa-apa. “Itu kan karena guÂbernurnya Aher. Karena Aher sudah tanda tangan. SebeÂnarnya, Aher juga sudah didaÂtangi para tokoh Jawa Barat. Tetapi karena ini proyek naÂsional, jadi dia tidak berdaya,†katanya sinis.(nas/Yuska/dh)
Bagi HalamanFollow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================
















