alfian mujaniSUATU hari, ayam menge­luh kepada sapi tentang ketidakadilan hidup. Ayam rupanya kecewa ka­rena wajahnya tak seban­yak wajah sapi dipampang di etalase supermarket, toko, dan warung. Setiap produk yang berasal dari sapi pasti ada gambar sapi, baik itu susu maupun daging sapi kalengan. Se­mentara nasib ayam ber­beda. Tidak setiap produk dari ayam ditempeli gambar wajah ayam.

Ayam merinci nasibnya. Tak ada telur ayam yang ditempeli gambar ayam. Bahkan KFC yang jelas-jelas menjual ayam goreng, malah foto kakek tua jenggotan yang pamerkan. “Yang leb­ih tidak adali lagi wahai sapi, adalah fakta bah­wa telur ayam ketika langsung digoreng ceplok malah dinamakan telur mata sapi,’’ kata ayam.

Sapi tersenyum dan berkata: “Nasib kan ter­gantung jasa kita wahai ayam. Manusia melihat jasaku kaumku lebih banyak ketimbang kaum­mu. Bajak sawah ya saya, ditunggangi ya saya. Ayam berkata: “Tapi kami kan juga, daging ayam dimakan, bahkan bulu ayam jadi kemuceng.” Sapi menjawab: “Kami bekerja dan berguna ketika kami masih hidup. Itu namanya jasa. Se­mentara kamu berguna ketika sudah mati. Itu namanya warisan.” Ayam pun terdiam seribu ba­hasa, menunduk malu tak berani angkat kepala.

Nah, mumpung masih hidup marilah kita berbuat dan mempersembahkan banyak man­faat. Ketika sudah wafat kelak, ceritanya tak dan ditutup dengan kata “cukup sekian.”

Bagi Halaman
======================================
======================================
======================================