Ekspor Indonesia Melesat 12,18 %

Mesin dan peralatan listrik USD 7,36 miliar

Pangsa pasar

China USD 14,96 miliar

Jepang USD 6,27 miliar

Thailand USD 4,51 miliar

ASEAN USD 12,6 miliar

Uni Eropa USD 5,38 miliar

Peningkatan ekspor dimungkinkan masih akan terus berlanjut pada periode Juli 2016, bila produksi tetap berjalan. Walaupun ada kecenderun­gan banyak perusahaan menghenti­kan produksi karena libur lebaran. “Ekspor bakalan turun, karena 10 hari after lebaran masih slowdown, pabrik masih banyak yang tutup. Jadi nggak bakal ada produksi,” tambah Deputi Bidang Distribusi Statistik dan Jasa Sasmito Hadi Wibowo pada kes­empatan yang sama.

“Tapi kalau perusahaan masih kejar tayang, ini akan mendorong ekspor. CPO harga membaik meski volume turun. Masih bisa jadi komo­ditas strategis punya peluang,” terang Sasmito.

Sementara itu, Deputi Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara juga menyebutkan bahwa surplus perda­gangan yang terjadi pada bulan Juni dikarenakan meningkatnya harga ko­moditas utama yang diekspor Indone­sia ke luar negeri.

Beberapa harga komoditas ung­gulan yang rutin diekspor seperti kelapa sawit, batu bara, dan karet mengalami peningkatan harga.“Saya rasa ada dua fenomena yang sekarang kita sedang cermati adalah harga komoditi yang memang kalau kita lihat harga apakah itu kelapa sawit, apakah itu karet, apakah itu batu bara itu memang year to date­nya itu naik. Year to date itu berarti dari Januari sampai ke kinerja tera­khir yang ada, memang naik, gitu ya,” tutur Mirza di Kompleks BI, Jakarta Pusat, Jumat (15/7/2016).

BACA JUGA :  Prabowo Bertemu Menlu Turki di Hambalang, Bahas Timur Tengah hingga Pemulangan Relawan Indonesia

Pihaknya menambahkan bahwa sesungguhnya harga komoditas pada kuartal II 2016 mengalami sedikit penurunan dibandingkan kuartal I 2016. Perbaikan harga komoditas yang rutin diekspor Indonesia belum sepenuhnya kembali pulih. “Jadi kalau kita bilang apakah sudah ada recov­ery dari komoditi tambang perkebu­nan dan minyak sebenarnya, menurut saya sih, belum terlalu signifikan, gitu ya,» jelas Mirza.

Impor, lanjut Mirza, yang dilaku­kan Indonesia selama satu bulan tera­khir juga terbilang masih rendah. Hal ini yang kemudian membuat neraca perdagangan mengalami surplus sebe­sar US$ 900,2 juta. “Dan memang juga impor masih relatif lemah. Jadi memang itu yang kemudian membuat surplus di neraca perdagangan,” ujar Mirza.

Defisit Neraca Berjalan

Neraca Perdagangan Indonesia bulan Juni 2016 mengalami surplus sebesar US$ 900,2 juta. Dengan ter­jadinya surplus ini dipastikan dapat membantu kinerja Current Account Deficit (CAD) atau defisit neraca ber­jalan. “Surplus neraca perdagangan tentu membantu kinerja Current Ac­count Deficit karena kan CAD adalah neraca perdagangan ditambah neraca jasa. Jadi neraca barang dan jasa kita atau current account itu di kuartal I, kuartal II ini memang kalau menurut kami, relatif sama lah,” kata Mirza.

Current Account Deficit (CAD) Indonesia saat ini tercatat di kisaran 2,2% hingga 2,4% dari total PDB Indo­nesia. Besaran CAD tersebut berada di kisaran yang cukup baik untuk per­ekonomian Indonesia. Kondisi eko­nomi Indonesia yang tengah dalam kondisi baik ini dapat menarik minat lebih banyak investor untuk mena­namkan modalnya di Indonesia.

BACA JUGA :  Pembebasan Lahan Jalan Rancabungur-Leuwiliang Butuh Anggaran Rp50 Miliar

“Jadi memang bisa dibilang di semester I ini current account defi­cit situasi yang bagi Bank Indonesia­comfortable, level sekitar antara 2,2 sampai 2,4% dari PDB gitu ya. Jadi suatu level yang sehat dan itu juga menunjang optimisme dari para inves­tor di pasar keuangan terhadap kin­erja dari makro ekonomi Indonesia,” jelas Mirza.

Mirza pun mengatakan bahwa be­saran inflasi di Indonesia masih cukup terkendali. Besaran inflasi di bulan Juli diperkirakan masih mengalami peningkatan dibandingkan bulan lain­nya. Hal ini dikarenakan peningkatan jumlah konsumsi saat puasa dan Leba­ran. “Awal Juli kan, the first week of July itu masih periode puasa memang angka (inflasi) kan lebih tinggi diband­ingkan periode Juni,” tutur Mirza.

Peningkatan inflasi diperkirakan hanya terjadi hingga minggu kedua Juli karena efek Lebaran. Pada min­ggu ketiga dan keempat, besaran in­flasi diperkirakan masih cukup stabil. “Jadi setelah Lebaran itu kan periode minggu kedua, minggu ketiga Juli itu periode inflasinya menurun. Saya rasa tidak bisa kita ambil patokan angka awal minggu pertama Juli untuk me­lihat inflasi keseluruhan bulan Juli,” tutup Mirza.

(Yuska Apitya/dtk/ed:Mina)

Halaman:
« 1 2 » Semua

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================