Hilangnya Menteri Kontroversi

Pria kelahiran Cirebon, 12 Oktober 1951 silam juga getol menyuarakan revisi Peraturan Pemerintah Nomor 41 tahun 1996 tentang Kepemilikan Properti oleh As­ing. Kini dengan jabatan barunya sebagai Menteri Perdagangan, Enggar memikul tugas baru mengejar target pertumbuhan ekspor sebesar 300 persen yang dicanan­gkan Jokowi bisa tercapai di akhir masa pemerintahannya pada 2019 nanti.

Sementara, Jokowi juga menggeser po­sisi Thomas Trikasih Lembong. Belum genap setahun menjadi Mendag, Lembong diper­caya menduduki pimpinan Badan Koordina­si Penanaman Modal (BKPM). Sebelumnya, Lembong sendiri ditunjuk sebagai Menteri Perdagangan menggantikan Rahmat Gobel pada 12 Agustus 2015.

Selama bertahun-tahun sebelum men­jadi menteri, Lembong bergaul dengan bankir dan eksekutif ekuitas privat di Singa­pura. Dia sempat bekerja di Deutsche Bank dan Morgan Stanley sebelum ikut mendiri­kan perusahaan ekuitas privat Quvat Man­agement.

Lembong mengenyam pendidikan dasar di Jerman pada tahun 1974-1981. Ke­mudian, dia meneruskan pendidikan hingga tingkat SMP di Tanah Air dan berpindah ke Boston, Amerika Serikat, saat masuk SMA. Kendati tercatat sebagai lulusan Harvard, pria kelahiran Jakarta, 4 Maret 1971 itu dikenal sebagai pria urban.

Penunjukkan Lembong sebagai Kepala BKPM menggantikan Franky Sibarani dise­but-sebut bertujuan untuk meningkatkan kepercayaan investor kepada Indonesia. Lembong juga dikenal pandai berbicara, dan cakap dalam berbahasa Inggris dan Jerman.

Nama baru lainnya yakni Arcandra Tahar menggantikan Sudirman Said, sebagai Men­teri ESDM. Tak tanggung-tanggung, Archan­dra langsung berjanji akan melakukan trans­formasi di sektor ESDM agar Indonesia bisa mencapai kedaulatan energi. “Menurut he­mat saya, transformasi ESDM adalah keharu­san, bukan pilihan, dalam rangka memban­gun kedaulatan bangsa dalam menghadapi persaingan antar negara, antar kawasan, an­tar benua. Kita harus menjamin manfaat un­tuk rakyat, menjamin kedaulatan energi dari segi pengelolaan, suplai, manfaat untuk ma­syarakat,” kata Arcandra dalam sambutan­nya saat menerima jabatan di Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (27/7/2016).

BACA JUGA :  Kesehatan Pencernaan Anak Tak Boleh Diabaikan, Ini Tanda Saluran Cerna yang Sehat

Wajah baru lainnya adalah, Amnas Ab­dur. Kini dipercaya menjadi Menteri Pen­dayagunaan Aparatur Negara dan Reforma­si Birokrasi (PANRB) menggantikan Yuddy Chrisnandi. Asman ingin mengubah sikap PNS yang selama ini dinilai kalah dari pega­wai swasta. “Nah tadi disampaikan juga Pak Yuddy, mindset birokrasi ini yang selama ini dinilai lamban, kalah dari pegawai swasta. Nah, ini kita balikkan sekarang bahwa pega­wai negeri itu tidak kalah dengan pegawai swasta. Saya pikir itu,” ujar Asman usai serah terima jabatan dengan Yuddy Chris­nandi di Kementerian PAN RB, Jl Sudirman, Jakarta, Rabu (27/7/2016) petang.

Asman juga akan mengurangi kebo­coran anggaran dengan sistem e-budgeting di daerah-daerah serta pelayanan perizinan dari dua minggu menjadi dua hari. Semua prioritas itu, lanjut Asman, akan dikonsepkan bersama dengan staf-stafnya. Masukan dari Yuddy Crisnandi jug akan didengarnya. “Tentu saja dengan masukan Pak Yuddy yang luar bi­asa kita akan kerja terus,” kata politisi PAN ini.

Asman mengaku, kementerian yang sek­arang dipimpinnya bukan bidang baru bag­inya. Dia pernah menjabat Wakil Wali Kota Batam dan menjadi anggota DPR selama 3 periode. “Mudah-mudahan saya tidak terla­lu lama menyesuaikan diri dengan pekerjaan baru ini,” ucap Asman. “Dari partai Bapak apakah ada titipan?” tanya wartawan.

BACA JUGA :  Pancasila di Tengah Disrupsi Digital

“Ya sesuai yang Pak Yuddy katakan, kalau sudah di pemerintah kita milik publik. Partai yang berikutnya. Jadi kita menunjukkan kin­erja yang baik. Dengan kinerja yang baik par­tai akan dikenal dengan baik karena kadernya bekerja dengan baik,” tutur Asman.

Nama baru yang mengejutkan adalah Prof Muhadjir Effendy. Mantan Rektor Uni­versitas Muhammadiyah Malang yang juga pengurus Muhammadiyah pusat ini, diberi amanah menjadi Mendikbud. Muhadjir tak menyangka dikontak Jokowi dan diminta membantu menjadi menteri.

Kepada wartawan di gedung Kemendik­bud, Jl Sudirman, Jakarta, Rabu (27/7/2016), Muhadjir menceritakan bagaimana awal mulanya. “Sekitar jam 07.30 WIB (Selasa),” kata dia memberitahu saat dikontak Istana.

Muhadjir bertutur dia diminta tak pergi ke mana-mana, dan agar ke Jakarta. Saat itu, Muhadjir tengah berada di Yogyakarta ber­maksud hendak bersilaturahmi dengan Sy­afii Maarif dan Amien Rais serta tokoh Mu­hammadiyah lainnya. Tapi karena telepon itu, dia dan istrinya dari Yogyakarta segera ke Jakarta. Muhadjir kemudian memberi­tahu istrinya bahwa kalau tidak ada peruba­han akan jadi menteri. “Baru mau berangkat sini (Jakarta) saja saya beritahu (istri),” kata ayah 3 anak ini. “Saya kebetulan kalau yang sifatnya dinas, karier, saya enggak pernah sampaikan ke keluarga. Kadang istri saya enggak tahu,” sambung dia.

Hingga kemudian dia ditunjuk menjadi Mendikbud. Muhadjir yang pernah menjadi wartawan kampus ini mengaku siap melanjut­kan jejak Anies Baswedan, mulai dari masuk kantor pukul tujuh pagi hingga melaksanakan program-program lainnya. .(Yuska Apitya Aji)

Halaman:
« 1 2 » Semua

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================