
Bank mulai konsentrasi menjaga rasio pinjaman terÂhadap simpanan atau Loan to Deposit Ratio (LDR) pada paruh kedua tahun ini. TargetÂnya, jangan sampai pertumÂbuhan kredit yang terlalu kenÂcang mendorong LDR bank melampaui batas atas yang dipatok Bank Indonesia (BI), yakni 92 persen.
Makanya, selain mengeÂjar pertumbuhan kredit, bank-bank bakal lebih agresif mengejar pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK). PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, misalnya. Sadar diri, pertumbuhan kreditnya menÂjulang hingga 23,7 persen pada semester I 2016, Achmad Baequni, Direktur Utama BNI menargetkan, pertumbuhan DPK akan menyusul pertumÂbuhan penyaluran kredit.
“Di semester I 2016, perÂtumbuhan DPK di kisaran 17-19 persen. Untuk memperÂtahankan LDR di posisi 85-90 persen hingga akhir tahun, kami butuh mengejar perÂtumbuhan DPK lebih dari 19 persen. Kami optimistis, denÂgan berharap dari repatriasi pengampunan pajak (tax amÂnesty), selain dari DPK tentuÂnya,†tutur Achmad Baiquni, kemarin.
Per Juni 2016, LDR BNI tercatat bertengger pada poÂsisi 90 persen. Itu artinya, bank pelat merah tersebut masih memiliki ruang untuk mendorong pertumbuhan kreditnya lebih kencang lagi di semester II 2016. Toh, BaiÂquni mengklaim, pertumbuÂhan kredit yang kencang tidak akan mengganggu bisnis perÂseroan, karena sudah ada alÂternatif skema mendongkrak likuiditas.
“Kami pasti akan seimÂbangkan pertumbuhan kredit dengan ketersediaan dana. Kalau sewaktu-waktu ternyata pertumbuhan kredit lebih kencang dari DPK, itu lebih bagus. Ada potensi aliran dana repatriasi dari tax amnesty dan kami tengah menyiapkan penerbitan instrumen keuanÂgan, seperti Negotiable CerÂtificate Deposit (NCD),†terang Baiquni. (Yuska Apitya Aji)
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















