Petani Tembakau Jadi Korban Tengkulak

Padahal, Indonesia termasuk lima besar negara penghasil tembakau, setelah China, Amerika, Brazil, dan Turki. Namun, saat ini produktivitas Indonesia justru kalah dari negara tetangga di Asia Tenggara. Menurut Sampoerna, rata-rata negara lain di Asia Tenggara dapat memproduksi 1 ton tembakau per hektar (ha). Miris­nya, Indonesia hanya memiliki angka produksi berkisar 0,7 ton hingga 0,8 ton tembakau per ha.

“Minimnya hasil produksi pet­ani tembakau dalam negeri karena adanya keterbatasan modal, peng­gunaan teknik pertanian konven­sional yang tidak efisien, kurangnya dukungan pemerintah akan fasilitas dan infrastruktur, panjangnya rantai perdagangan tembakau, dan penga­ruh kondisi iklim,” papar Elvira.

Dari segi kondisi iklim, Elvira memastikan, dampak cuaca La Nina membuat masa tanam padi men­galami kemunduran yang selanjut­nya berdampak pada terlambatnya masa tanam tembakau. Pasalnya, sebagian besar lahan tanam tem­bakau berasal dari lahan persawa­han. Akibat kemunduran ini, Sam­poerna memperkirakan pada bulan September, petani baru memasuki masa panen raya.

BACA JUGA :  Harga Honda CRF250 Series Naik, CRF250 Rally Kini Hampir Tembus Rp 100 Juta

Kendala lain, masih banyak pet­ani tembakau yang menggunakan teknik pertanian konvensional, sep­erti menggemburkan tanah tanpa bantuan alat pertanian. Padahal teknik ini sudah tak efisien, ter­lebih untuk mengejar peningkatan produksi, baik secara kualitas mau­pun kuantitas.

Terakhir, kurangnya dana ban­tuan dari pemerintah daerah untuk pembangunan fasilitas dan infra­struktur penunjang, seperti halnya irigasi, belum dapat diberikan un­tuk menunjang kegiatan pertanian tembakau.

Sampoerna menilai, solusi terh­adap sejumlah kendala penghambat produktivitas ini adalah penerapan program kemitraan yang melibat­kan industri rokok dan petani tem­bakau secara langsung. Tak hanya dari pihak swasta, dana bantuan dan bekal pelatihan dari pemerin­tah sangat dibutuhkan untuk me­ningkatkan produktivitas tembakau yang selanjutnya berdampak pada kesejahteraan petani.

BACA JUGA :  Vertu AlphaFold Resmi Meluncur, Ponsel Lipat Premium dengan AI Asisten Pribadi Seharga Rp 110 Juta

Adapun, program kemitraan ini, menurut Sampoerna telah berhasil menjaring 4,9 persen atau setara 27 ribu petani dari total 550 ribu petani yang tersebar di seluruh Indonesia dengan peningkatan produktivitas tembakau mencapai 30 persen yang diterapkan disejumlah titik produk­si tembakau, seperti di Provinsi Jawa Timur; Kabupaten Jember, Kabu­paten Blitar, Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Tengah; Kabupaten Rembang dan Kabupaten Wonogiri, dan Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. (Alfian Mujani|cnn)

Halaman:
« 1 2 » Semua

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================