Para petani tembakau Indonesia mati suri. Berpuluh-puluh tahun mereka diperlakukan tidak adil oleh industri rokok. Alhasil, booming yang dialami para pemilik pabrik rokok tak ngefek pada tingkat kemakmuÂran para petani tembakau.
Panjangnya mata ranÂtai perdagangan tembakau kerap membuat petani tidak mendapat keuntungan yang sebanding dengan modal yang dikeluarkan. Para petani selalu jadi korban permainan harga di tangan tengkulak. Petani yang berkeringat dan keluar modal, tengkulak yang menikmati hasilnya. Akibatnya, petani tiÂdak memiliki kecukupan modal saat akan melakukan penanaÂman kembali guna mengejar hasil produksi tembakau.
“Sejak 2009 kami sudah menerapkan program kemiÂtraan berupa kesepakatan dan jaminan jual-beli tembakau yang bertujuan meningkatkan
produktivitas petani dengan pemberian pelatihan sekaligus memenuhi pasokan tembakau yang dibutuhÂkan industri rokok,†kata Elvira Lianita, Head of Regulatory Affairs, International Trade, and CommuÂnications PT HM Sampoerna Tbk di Jember, Sabtu (30/7/2016). Â
Hasil produksi komoditas temÂbakau yang berasal dari petani dalam negeri tak bisa menopang tingginya kebutuhan industri rokok. Data Center for Indonesia Taxation Analyst (CITA) mencatat, kebutuhan tembakau industri rokok mengalaÂmi kenaikan sebanyak 23,78 persen dalam lima tahun terakhir.
“Dalam lima tahun terakhir, keÂbutuhan tembakau untuk industri rokok naik 23,78 persen dari tahun 2011 sebanyak 293.360 ton menjadi 363.130 ton pada 2015. Sayangnya, kenaikan kebutuhan ini tidak dapat dipenuhi oleh hasil produksi dalam negeri,†ungkap Elvira.
Elvira mengungkapkan, dari Data Kementerian Pertanian, hasil produksi tembakau dalam negeri hanya mengalami peningkatan 0,77 persen, dari 163.187 ton pada 2014 menjadi 164.448 ton pada 2015. OtoÂmatis industri rokok harus menuÂtup kekurangan pasokan tembakau sekitar 54,71 persen melalui pemanÂfaatan stok gudang industri rokok hingga membuka keran impor.
Untuk impor tembakau, menuÂrut Sampoerna, dari Data Badan Pusat Statistik (BPS), kuota impor tembakau pada 2013 mencapai 121.218 ribu. Bila berkaca pada renÂdahnya pasokan tembakau dalam negeri, bukan tidak mungkin, impor pada tahun ini meningkat drastis.
Padahal, Indonesia termasuk lima besar negara penghasil tembakau, setelah China, Amerika, Brazil, dan Turki. Namun, saat ini produktivitas Indonesia justru kalah dari negara tetangga di Asia Tenggara. Menurut Sampoerna, rata-rata negara lain di Asia Tenggara dapat memproduksi 1 ton tembakau per hektar (ha). MirisÂnya, Indonesia hanya memiliki angka produksi berkisar 0,7 ton hingga 0,8 ton tembakau per ha.
“Minimnya hasil produksi petÂani tembakau dalam negeri karena adanya keterbatasan modal, pengÂgunaan teknik pertanian konvenÂsional yang tidak efisien, kurangnya dukungan pemerintah akan fasilitas dan infrastruktur, panjangnya rantai perdagangan tembakau, dan pengaÂruh kondisi iklim,†papar Elvira.
Dari segi kondisi iklim, Elvira memastikan, dampak cuaca La Nina membuat masa tanam padi menÂgalami kemunduran yang selanjutÂnya berdampak pada terlambatnya masa tanam tembakau. Pasalnya, sebagian besar lahan tanam temÂbakau berasal dari lahan persawaÂhan. Akibat kemunduran ini, SamÂpoerna memperkirakan pada bulan September, petani baru memasuki masa panen raya.
Kendala lain, masih banyak petÂani tembakau yang menggunakan teknik pertanian konvensional, sepÂerti menggemburkan tanah tanpa bantuan alat pertanian. Padahal teknik ini sudah tak efisien, terÂlebih untuk mengejar peningkatan produksi, baik secara kualitas mauÂpun kuantitas.
Terakhir, kurangnya dana banÂtuan dari pemerintah daerah untuk pembangunan fasilitas dan infraÂstruktur penunjang, seperti halnya irigasi, belum dapat diberikan unÂtuk menunjang kegiatan pertanian tembakau.
Sampoerna menilai, solusi terhÂadap sejumlah kendala penghambat produktivitas ini adalah penerapan program kemitraan yang melibatÂkan industri rokok dan petani temÂbakau secara langsung. Tak hanya dari pihak swasta, dana bantuan dan bekal pelatihan dari pemerinÂtah sangat dibutuhkan untuk meÂningkatkan produktivitas tembakau yang selanjutnya berdampak pada kesejahteraan petani.
Adapun, program kemitraan ini, menurut Sampoerna telah berhasil menjaring 4,9 persen atau setara 27 ribu petani dari total 550 ribu petani yang tersebar di seluruh Indonesia dengan peningkatan produktivitas tembakau mencapai 30 persen yang diterapkan disejumlah titik produkÂsi tembakau, seperti di Provinsi Jawa Timur; Kabupaten Jember, KabuÂpaten Blitar, Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Tengah; Kabupaten Rembang dan Kabupaten Wonogiri, dan Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. (Alfian Mujani|cnn)
Bagi HalamanFollow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================
















