SUNGGUH disayangkan terjadi reshuffle jilid ke 2 kabinet kerja Presiden Jokowi terhadap Mendikbud Prof. Anies Baswedan, padahal selama ini menurut penulis banyak prestasi dan ide-ide yang brilyan yang sudah dilakukan beliau serta hanya sedikit kesalahan yang dilakukan beliau. Kesalahan itupun baru tahap wacana dan belum dilaksanakan oleh mantan rektor Universitas Paramadina tersebut.
Oleh: HERU BUDI SETYAWAN, S.PD.PKN
Pemerhati Pendidikan & Ketua Divisi Literasi IGI Kota Bogor
Kesalahan itu terjadi sewaktu Anies BasÂwedan mengusulkan untuk membuat seÂragam bahasa doa di sekolah negeri, karena selama ini bahasanya berciri salah satu agaÂma saja, padahal sekolah negeri juga ada penganut agama lain. Sampai-sampai Ustadz Yusuf Mansur juga menyayangkan perÂnyataan Anies Baswedan pada waktu itu.
Dan menurut penulis hal ini memang benar adanya, karena ini di Indonesia yang mayoritas adalah muslim, sehingga waÂjar kalau bahasa doa di sekolah negeri adalah agama Islam. Agar tercipta persatuan, kebersamaan dan terjaganya toleransi antar umat beragama di Indonesia, maka yang mayoritas harus meÂnyayangi yang minoritas, sedang yang minoritas harus mengÂhormati yang mayoritas. Tapi Alhamdulillah Anies Baswedan segera minta maaf dan tidak merealisasikan rencana tersebut.
Reshuffle jilid ke 2 kabinet kerja Presiden Jokowi ini terjadi sebagai akibat adanya perubaÂhan situasi politik di Indonesia pada waktu ini, yaitu dengan bergabungnya partai Golkar dan PAN ke pemerintahan Presiden Jokowi. Maka sebagai politik balÂas jasa Partai Golkar dapat tamÂbahan jatah satu menteri, yaitu Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto. Sedang PAN dapat jaÂtah 2 menteri yaitu Menteri PAN-RB Asman Abnur dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan MuÂhadjir Effendi.
Inilah dunia politik tidak ada kawan abadi yang ada adalah kepentingan pribadi, masih unÂtung pengganti Anies Baswedan adalah seorang profesional, tidak bisa dibayangkan jika penggantiÂnya berasal dari partai politik. Semoga Bapak Muhadjir Effendi tetap mau meneruskan program kerja yang sudah baik dirintis oleh Anies Baswedan bahkan bisa lebih baik lagi. Inilah prestaÂsi yang patut kita acungi jemÂpol dan kita apresiasi terhadap seorang Anies Baswedan, yaitu:
Pertama, UN (Ujian Nasional) bukan menentukan kelulusan peserta didik. Keputusan ini sanÂgat melegakan dunia pendidikan di Indonesia, karena selama ini UN adalah sesuatu yang sangat menakutkan bagi peserta didik, orang tua, guru, kepala sekolah bahkan kepala daerah. Karena dengan UN menjadi syarat keÂlulusan, sudah menjadi rahasia umum terjadi banyak kecurangan UN di Indonesia.
Jika di dunia pendidikan suÂdah biasa melakukan kecuranÂgan, bagaimana dengan nasib akhlak dan masa depan bangsa Indonesia? Pastilah hancur nantiÂnya. Ini adalah tragedi besar yang tidak boleh kita biarkan dan Anies Baswedan paham akan hal ini, beliau ingin kejujuran menjadi keÂbiasaan bangsa Indonesia, karena selama ini kejujuran adalah baÂrang langka di Indonesia.
Kedua, UN menentukan inÂdeks integritas sekolah. Indeks integritas sekolah adalah mutu sekolah yang dilihat dari perÂbandingan nilai UN dengan nilai US (Ujian Sekolah). Ada 3 indeks integritas sekolah, yaitu:
- Sekolah dengan indeks integritas sekolah warna hijau adalah sekolah yang dipercaya lulusannya, karena selisih anÂtara nilai hasil UN dan nilai hasil US hampir sama atau selisihÂnya hanya sedikit, dengan kata lain sekolah ini tidak obral nilai serta gurunya memang profesÂsional dalam proses pembeÂlajaran dan kompeten dalam mengevaluasi peserta didiknya. Banyak lulusannya yang diteriÂma di SNMPTN, SBMPTN dan jalur mandiri di PTN, artinya sekolah ini memang terbukti hebat, karena lulusannya jago leÂwat SNMPTN, SBMPTN dan jalur mandiri.
- Sekolah dengan indeks integritas sekolah warna kunÂing adalah sekolah yang agak dipercaya lulusannya. Sekolah ini tergolong lumayan, karena masih dipercaya lulusannya masuk di PTN, meski jumlahnÂya sedikit. Ciri-ciri sekolah ini adalah sebagai berikut, selisih nilai hasil UN dan nilai hasil US agak besar, artinya sekolah ini masih jago kandang, belum jago di tingkat nasional. Selanjutnya sedikit lulusannya yang diterima di SNMPTN, SBMPTN dan jalur mandiri di PTN.
- Sekolah dengan indeks inÂtegritas sekolah warna merah, adalah sekolah yang tidak diperÂcaya lulusannya, kenapa tidak dipercaya, karena sekolah ini memanipulasi nilai, atau sekolah ini tidak jujur. Hal ini terlihat dari selisih nilai hasil UN dan nilai haÂsil US sangat besar, misal nilai hasil UN berkisar antara 1 sampai 2, tapi nilai hasil US berkisar anÂtara 8 sampai 9, sungguh selisih yang jauh. Selanjutnya tidak ada lulusannya yang diterima di SNMPTN, SBMPTN dan jalur mandiri di PTN.
Ketiga, Anies Baswedan memuliakan guru. Menurut beliau ada tiga hal yang harus dilakukan untuk memuliakan (memVIPÂkan) guru yaitu: Pemerintah terÂus meningkatkan kesejahteraan guru, dunia usaha harus menguÂrangi pengeluaran guru dengan jalan memberi diskon khusus untuk guru dan masyarakat unÂtuk menghormati guru dalam keÂhidupan sehari-hari.
Meski sekarang kesejahterÂaan guru relatif lebih baik, denÂgan itikad baik dari Anies BasÂwedan untuk memuliakan guru, ini akan menambah semangat guru dalam bekerja dan mengabdi pada bangsa dan Negara KesÂatuan Republik Indonesia yang kita cintai ini. Ingat jaman dulu profesi guru tidak dihargai sama sekali, sehingga tercermin dari lagunya Iwan Fals yang berÂjudul Oemar Bakri, syair lagu ini jelas menceritakan kepedihan seorang guru.
Keempat, sekolah adalah taman yang menyenangkan. Pada waktu itu Anis BasweÂdan mengatakan pihaknya inÂgin menerapkan konsep yang dikembangkan oleh Ki Hajar DeÂwantara tokoh pendidikan nasiÂonal. Dalam buah pikirannya, Ki Hajar Dewantara menempatkan pendidikan sebagai kegembiraan yang menyenangkan. “Istilah beÂliau adalah taman. Kita berharap konsep taman ini bisa diterapÂkan kembali di sekolah-sekolah kita di seluruh Indonesia. Anak ingin ke sekolah. Kenapa? KareÂna di sekolahnya merasa senang, nyaman, menyenangkanâ€, ungÂkap Mendikbud seraya menamÂbahkan bahwa tanggung jawab membuat sekolah menyenangÂkan itu ada pada para pendidik dan birokrasi pendidikan.
Sekolah yang kondisinya meÂnyenangkan, membuat peserta didiknya akan betah seharian di sekolahnya, dengan melakukan kegiatan positif seperti mengerÂjakan tugas, diskusi dengan teÂman, belajar kelompok, sekeÂdar membaca di perpustakaan, curhat kepada Guru Bimbingan Konseling, bertanya pada guru terhadap soal atau tugas yang beÂlum paham sewaktu di kelas, ikut ekstrakurikuler dan lain-lain.
Menurut Mendikbud tangÂgung jawab membuat sekolah menyenangkan itu ada pada para pendidik dan birokrasi pendidiÂkan, menurut penulis selain kedÂua hal tersebut, juga yang berÂtanggungjawab adalah seluruh stakeholders sekolah, sehingga sekolah benar-benar menjadi taÂman yang menyenangkan. KareÂna suasana menyenangkan akan menciptakan prestasi belajar.
Kelima, Anies Baswedan membentuk Direktorat PemÂbinaan Pendidikan Keluarga. Unit baru itu digunakan untuk menangani pendidikan keluarga dan keorangtuaan. Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga berada di bawah Direktorat JenÂderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat.
Program utama Direktorat baru ini adalah penanganan perilaku perundungan (bullyÂing), pendidikan penanganan remaja, penguatan prestasi beÂlajar, pendidikan kecakapan hidup, pendidikan karakter dan kepribadian serta pendidikan perilaku destruktif.
Keenam, Anies Baswedan membuat aturan baru terkait pentingnya keberhasilan pendiÂdikan dengan melibatkan orang tua. Aturan teknis yang sangat detil terkait hari pertama masuk sekolah, seperti orang tua wajib mengantar anaknya ke sekolah di hari perdana. Regulasi baru itu tertuang dalam PermendikÂbud No 21 tahun 2015.
Melalui cara ini KemendikÂbud ingin memperdalam keteriÂkatan batin orang tua dengan sekolah. Sebab selama ini orangÂtua ke sekolah ketika ada maÂsalah dengan buah hatinya, ada urusan administrasi, sewaktu pembagian rapor atau saat perÂpisahan kelulusan. Padahal versi Kemendikbud, hubungan orang tua dengan guru yang erat bisa membuat suasana nyaman dan menyenangkan di sekolah serta dapat memecahkan persoalan yang dialami peserta didik.
Anies Baswedan setelah tidak menjabat menjadi Mendikbud, menurut penulis lebih cocok unÂtuk berkarir di luar negeri dulu, kalau dulu beliau punya program Indonesia Mengajar, kenapa sekaÂrang tidak membuat program DuÂnia Mengajar, bisa bekerjasama dengan PBB. Karena ide dan gaÂgasan yang brilyan dari seorang Anies Baswedan untuk waktu sekarang belum bisa diterima oleh pemerintahan yang lebih mementingkan kepentingan poliÂtis dari pada pendidikan. Jayalah Indonesiaku. (*)
Bagi Halaman
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================
















