Ekspor Miniatur Pesawat ke Penjuru Dunia

“Ada Helikopter, Hercules, yang banyak diminati adalah Boeing dari yang paling kecil ukurannya 8 cm sampai yang 1,5 meter tadi,” pung­kasnya.

“Harganya bermacam-macam ada yang Rp 50.000 untuk ukuran kecil sampai yang besar tadi itu pe­sawat tempur Sukhoi harganya Rp 17,5 Juta,” lanjutnya.

Sehari Deden bisa membuat pal­ing sedikit 2 miniatur, dan dalam seminggu bisa menghasilkan pulu­han pesawat dengan omset menca­pai Rp 10 Juta. Bahan fiber glass atau serat kaca dipilih sebagai bahan utama. Ia menilai bahan ini mampu membuat pesawat ciptaannya tetap ringan dan kokoh.

“Kebetulan pernah mempelajari tentang komposit, fiber glass kemu­dian dikembangkan membuat pe­sawat. Karena bahannya tidak ter­lalu mahal tapi hasilnya kuat. Sehari pembuatan tergantung dari jenis pesawatnya dulu, kalau sulit paling 2 kalau yang gampang 10 itu baru cetak belum finishing,” kata dia.

Kebanyakan para pembeli meru­pakan sesama penggemar dan kole­ktor pesawat terbang. Ada juga be­berapa orang yang meminta jasanya untuk dibuatkan pesawat tiruannya jika ada pembuatan pesawat ter­bang terbaru.

Pernah Buat Miniatur Pesawat Kepresidenan RI

Teranyar, dirinya mengaku mendapatkan pesanan untuk mem­buat pesawat Kepresidenan Indone­sia. Replika pesawat dalam ukuran mini tersebut telah rampung ia ker­jakan dalam kurun waktu dua min­ggu saja.

“Itu ada pesanan buat pesawat Kepresidenan sebanyak 20 pesawat, untuk cinderamata saja sekitar bu­lan lalu,” ungkap Deden.

Kendati bukan pihak dari Istana Negara langsung yang memesan­nya, namun dirinya mengaku bang­ga bisa membuat miniatur pesawat yang ditumpangi oleh orang nomor 1 di Indonesia. Menurutnya orang yang memesan miniatur jenis Boe­ing 737-800 Business Jet ini adalah pilot dari pesawat tersebut.

“Bukan dari sana sih (Istana Negara) tapi pilotnya yang pesan, jadi ada adiknya yang datang ke­mari dia orang Leuwi Gajah, pesan katanya untuk dibawa oleh-oleh untuk keluarganya,” jelas pria yang lulusan SMK Penerbangan di Kota Bandung ini.

Ia mengaku dalam proses pengerjaannya tidak begitu rumit. Kesulitan hanya terjadi saat melaku­kan finishingpada pesawat yang dibuatnya, karena detail pesawat mini ini harus sama persis dengan pesawat aslinya.

“Sudah jadi dan beberapa hari kemarin sudah dikirim kepada pemesannya. Kalau sekarang lagi bikin pesanan pesawat lain yang baru saja ini lagi diproses,” jelasnya.

Menurutnya pembuatan pe­sawat seperti ini tidak bisa asal-asa­lan. Memerlukan keahlian khusus dalam merancang hingga penyele­saian tahap akhir agar pesawat men­jadi sempurna. “Yang paling rumit bikin pesawat Twin Otter (pesawat komersil), karena pesawat ini ada pelampungnya di bawah un­tuk mendarat di air, sama ini juga pesanan dari perseorangan,” tan­dasnya.(Yuska Apitya/dtk)

Halaman:
« 1 2 » Semua

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================