Nia S. Amira
[email protected]
Dikatakan, meskipun dari bahasa Arab, dapat pasÂtikan orang-orang Arab sendiri tidak akan memaÂhami arti sebenarnya dari Halal Bi Halal. Secara agama, istilah Halal Bi Halal ini tidak berasal dari Al- Qur’an dan Hadits, tetapi ini adalah ungkapan khas dan kreativitas maÂsyarakat Indonesia. Meskipun asal makna adalah “tidak jelasâ€, Halal Bi Halal adalah tradisi yang sangat baik untuk dirayakan, karena merÂeka yang menyelenggarakannya adalah orang-orang yang mencoba untuk mempraktekkan ajaran Islam tentang persahabatan yang baik, perlunya saling memaafkan, dan untuk saling memberikan contoh yang baik antara manusia.
Menurut Quraish Shihab, yang ahli dalam Interpretasi Islam, tuÂjuan Halal Bi Halal adalah untuk menciptakan harmoni antara manuÂsia. Dengan kata lain, Halal Bi Halal adalah saat berkumpul untuk saling memaafkan pada kesempatan Idul Fitri (baca: Lebaran) dan ini meruÂpakan tradisi khusus Muslim di InÂdonesia.
Sementara itu, Drs. H. Ibnu DjaÂrir dari MUI Jawa Tengah menjelasÂkan sejarah atau asal pertemuan ini terdiri beberapa versi. Menurut sebuah sumber yang dekat dengan Istana Mangkunegara di Surakarta, tradisi Halal Bi Halal awalnya dipÂelopori oleh KGPAA Mangkunegara I (Sultan Solo), yang dikenal juga sebagai Pangeran Sambernyawa. Untuk menghemat waktu, tenaga, pikiran, dan biaya, setelah salat Idul Fitri pertemuan khusus diadakan antara Raja (Sultan) dengan pungÂgawa dan prajurit secara serentak di balai istana.
Semua punggawa dan prajurit dengan teratur memberikan hormat kepada Raja dan Ratu (baca: SungÂkem kepada Raja dan Ratu). Cara berkumpul versi Pangeran SamberÂnyawa kemudian ditiru oleh semua organisasi Islam, dan kemudian dikenal luas sebagai acara Halal Bi halal.
Demikian juga, pertemuan itu diadakan oleh alumni SMAN 28 Jakarta pada hari Sabtu, 30 Juli 2016. Halal Bi Halal menyatukan alumni dari 12 kelas setelah puluÂhan tahun dipisahkan oleh jarak dan waktu, hari bahagia itu akhÂirnya tiba. Teman, sahabat berteÂmu satu sama lain dalam perasaan haru dan gembira; senda gurau, menyanyikan lagu-lagu nostalgia, tertawa senang, semuanya larut dalam kebahagiaan. Jutaan bulan telah memudar, 379 Purnama telah berlalu. Kerinduan untuk yang terÂcinta telah terobati, teman sejati telah kembali.
Bagi HalamanFollow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================
















